Surat tersebut dikirim pada hari Senin oleh Mohammed Tais kepada Sarkozy dan Raja Maroko, Mohammed VI. Dalam suratnya, Tais menyerukan sebuah penyelidikan baru yang lebih terbuka ke dalam kasus itu.
Tais menginginkan agar "Kebenaran seputar kematian anak laki-laki saya dapat diketahui."
Pascal Tais, seorang tersangka pengguna narkoba, ditemukan tewas di dalam sel tahanan pada bulan April 1993 di sebuah kantor polisi di barat daya Perancis.
Sebuah otopsi yang dilakukan pada saat itu menyimpulkan bahwa pendarahan dalam yang terus menerus dan limpa yang pecah adalah penyebab kematiannya, menyebutkan bahwa Pascal menderita retak tulang iga, paru-paru berlubang, dan cedera kepala.
Pascal ditahan menyusul sebuah kecelakaan lalu lintas di Archachon yang memicu sebuah perkelahian. Ia dilaporkan menolak untuk diobati dan malah mengamuk. Polisi kemudian memukulnya dengan tongkat di tangan, kaki, dan dada dalam upaya untuk menenangkannya dan menahannya selama satu malam.
Beberapa pengadilan Perancis menolak untuk mengijinkan dilakukannya penyelidikan baru mengenai apakah polisi Perancis, yang mengaku telah menggunakan kekerasan dalam menahan Pascal, bertanggung jawab atas kematiannya.
Pengadilan HAM Eropa mengatakan di tahun 2006 bahwa akan ada penyelidikan baru.
Sarkozy dan istrinya Carla Bruni, yang telah berlibur ke Maroko selama tiga hari, akan kembali ke Paris pada tanggal 31 Desember.
Kematian tahanan tersebut mengingatkan akan sebuah kasus yang terjadi pada bulan Maret lalu, dimana para pemuda di kota Firminy, Perancis, membakar sejumlah mobil dan menghancurkan sebuah pusat kegiatan sosial saat protes atas kematian seorang pemuda yang berada dalam tahanan kepolisian berlanjut di malam kedua.
Sekitar 200 polisi anti huru hara diterjunkan malam itu, dengan sebuah helikopter yang terbang berputar-putar di atas sekelompok pemuda yang sedang membakar tong sampah sebelum bergerak untuk membakar mobil dan sebuah pusat kegiatan sosial.
Unjuk rasa itu dilakukan menyusul kematian Mohamed Benmouna, seorang pria warga Maroko yang ditahan karena upaya pemerasan, yang jatuh koma setelah apa yang polisi katakan sebagai upaya bunuh diri dan meninggal beberapa jam kemudian.
Keluarga Benmouna mengekspresikan ketidakpercayaannya terhadap penjelasan kepolisian Perancis yang mengatakan bahwa ia telah menggunakan tali-tali dari sebuah matras untuk menggantung dirinya sendiri.
Jaksa penuntut umum di Saint-Etienne, kota besar yang letaknya paling dekat, membantah pernyataan tentang penyiksaan yang dilakukan oleh polisi namun mengatakan bahwa peralatan kamera pengintai yang biasanya merekam sel Benmouna tidak berfungsi dengan baik saat itu.
Sebuah otopsi telah dilakukan dan penyelidikan ke dalam kasus itu dibuka oleh IGPN, inspektorat kepolisian.
Sembilan orang ditahan setelah malam penuh kekerasan itu. (rin/ms3) www.suaramedia.com














