Sabtu, 04 September 2010

Headlines:

Pembunuhan Lord Mountbatten Sulut Api AS - Inggris

E-mail Cetak PDF

LONDON (Berita SuaraMedia) – Dokumen-dokumen yang baru dirilis mengungkapkan bahwa "hubungan istimewa" Inggris dengan AS sempat mengalami ketegangan pada puncak permasalahan Irlandia Utara.

Dokumen Badan Arsip Nasional membeberkan mengenai pembunuhan Lord Mountbatten oleh pasukan pemberontak Irlandia Utara (IRA) pada tahun 1979, namun tidak ditunjukkan tanggapan dari AS mengenai apa yang diharapkan oleh Inggris.

Meski presiden AS kala itu, Jimmy Carter, menyampaikan "duka mendalam" atas kematian tersebut, dia tidak menyebut mengenai terorisme.

Pemerintah Inggris mengatakan bahwa sikap Carter yang tidak mengecam IRA adalah sebuah "kecacatan".

Pembunuhan Lord Mountbatten oleh IRA pada tanggal 27 Agustus 1979 memantik keterkejutan dan kemarahan di seluruh dunia.

Sepupu Ratu Inggris dan mantan gubernur India terbunuh dalam ledakan yang menghancurkan kapal di lepas pantai County Sligo.

Salah satu cucu kembar Lord Mountbatten dan anak laki-laki berusia 15 tahun juga turut menjadi korban jiwa dalam ledakan tersebut.

Presiden Carter menulis surat kepada Perdana Menteri Inggris (waktu itu) Margaret Thatcher untuk mengungkapkan "rasa duka mendalam" atas kematian tragis dari bangsawan berusia 79 tahun tersebut.

Namun, sebuah surat internal Kantor Menteri Luar Negeri menunjukkan bahwa para pejabat terperangkap dalam kebingungan.

"Pesan yang disampaikan oleh Presiden Carter tidak menyebutkan mengenai keadaan seputar kematian Lord Mountbatten," kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri.

"Sama sekali tidak disebutkan mengenai pembunuhan atau terorisme, tidak ada kecaman terhadap orang-oorang yang terlibat dalam kekerasan."

Tanggapan awal Departemen Luar Negeri terhadap pembunuhan tersebut adalah "sebuah kecacatan," demikian bunyi surat tersebut. Namun departemen luar negeri kemudia memberikan pernyataan kedua yang mengecam organisasi yang melakukan kekerasan, dan meminta warga AS untuk tidak mendukung kekerasan."

Sebuah surat juga dikirimkan dari kantor Thatcher kepada kantor menteri luar negeri Inggris. Dimana disebutkan: "Seperti halnya Anda, kami dikejutkan denga kurangnya regerensi dalam pesan yang berkenaan dengan kematian Lord Mountbatten: Tidak ada sebutan terorisme, tidak ada kecaman."

Kantor menteri luar negeri menganjurkan pengalihan perhatian terhadap pernyataan kedua Departemen Luar Negeri untuk menanggapi Presiden Carter. "Hal ini mungkin dapat menunjukkan bahwa kami telah mencatat adanya kecacatan dalam pemilihan kata presiden (carter)."

Insiden Mountbatten tersebut menyusul ketegangan selama beberapa pekan dalam hubungan Inggris dan AS.

Dokumen tersebut menunjukkan bahwa pada bulan Juli 1979, sebuah perseteruan pecah mengenai ketetapan senjata yang dipergunakan satuan kepolisian Irlandia Utara, Royal Ulster Constabulary (RUC).

Pemerintah AS menolak menyetujui permintaan Inggris untuk mendatangkan senjata Ruger baru dari kantor RUC memicu kekhawatiran di kawasan Atlantik.

Para politisi Inggris mengkghawatirkan bahwa akan ada reaksi serius, karena kelompok-kelompok AS yang pro-IRA yang menyuplai kelompok pemberontak tersebut dengan persenjataan dan uang.

Menteri Luar Negeri Lord Carrington mengirimkan telegram kepada Menteri Luar Negeri AS (kala itu) Cyrus Vance, menanyakan: "Saya bertanya-tanya apakah Anda telah betul-betul mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan semacam itu untuk diketahui oleh publik.

"Hal itu pastinya akan dipandang sebagai pergeseran tajam dalam kebijakan AS, dan hanya akan mendorong perbuatan-perbuatan IRA."

"Saya sama sekali tidak meragukan efek mengejutkan yang mungkin timbul  dari keputusan semacam itu terhapda pembentukan opini publik di Inggris, dan juga dampaknya terhadap hubungan bilateral Inggris dan AS."

Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Thatcher juga merasa marah dengan sebuah tidnakan yang dipandang sebagai campur tangan AS.

Pada tahun 1979, gubernur Hugh Carey, seorang tokoh Irlandia - Amerika yang terkemuka, mengundang Menteri Luar negeri Irlandia Utara, Humphrey Atkins, dan menteri luar negeri Irlandia ke New York untuk membahan masalah-masalah tersebut. Dan hal itu agaknya mengganggu sang perdana menteri Inggris.

Catatan-catatan yang ada menunjukkan sikap kukuh Thatcher yang bersikeras bahwa "Irlandia Utara adalah bagian dari Inggris Raya." Thatcher sendiri misalnya tidak akan sudi mendiskusikan kebijakan AS terhadap komunitas masyarakat kulit hitam dengan Presiden Carter.

Ketika Atkins berusaha untuk membantah bahwa sang gubernur dapat menjadi seorang sekutu kunci dalam upaya mencapai perdamaian, dokumen-dokumen yang ada menunjukkan bahwa sang Perdana Menteri sama sekali tidak tergerak.

"Dia tidak biasa mendiskusikan masalah internal AS dengan orang-orang Amerika, dan oleh karena itu, mereka juga sebaiknya tidak berusaha melakukan hal tersebut terhadap kami."

"Orang-orang Amerika harus dibuat sadar bahwa selama mereka masih terus mendanai tindakan terorisme, mereka menjadi pihak yang bertanggung jawab atas kematian para penduduk AS dan juga lainnya."

"Gubernur Carey telah dapat meloloskan diri dari permasalahan besar, dalam hal opini publik Inggris. Rakyat AS harus dipaksa menghadapi konsekuensi dari apa yang telah mereka lakukan."

Perseteruan seputar senjata-senjata RUC masih terus berkecamuk pada bulan Desember tahun itu, dan masih menjadi pokok bahasan di Gedung Putih, antara Margaret Thatcher dan Presiden Carter.

Catatan percakapan yang ada menunjukkan bahwa sang perdana menteri bersikeras dan tetap pada pendiriannya. "RUC bukanlah sebuah kekauatan sektarian dan memiliki 3.000 pucuk senjata yang dipertanyakan, jadi amat aneh untuk memberikan mereka hak untuk membela diri secara efektif."

Dokumen tersebut menunjukka bahwa Thatcher mengatakan kepada sang presiden bahwa dia sendiri telah menangani persenjataan RUC yang dipergunakan kala itu dan juga senjata-senjata yang tengah dipesan. "Tidak ada keraguan bahwa American Ruger jauh lebih baik."

Presiden Carter kemudian mengatakan bahwa dirinya secara pribadi ingin menyetujui suplai tersebut, namun dirinya tidak yakin bahwa para anggota Kongres dalam jumlah besar akan menyetujuinya, mengingat begitu kuatnya pengaruh lobi Irlandia-Amerika. (dn/bc) www.suaramedia.com

Altetik

Tundukkan Brown, Murray Tembus Babak Ketiga
Sementara itu di pertandingan lain, petenis Ukra...More »

Berita Gadget Terkini

AS Kembangkan Aplikasi Ponsel Khusus Untuk Penderita Epilepsi
Penderita epilepsi di Amerika Serikat sendiri di...More »

Otomotif Terbaru

V-Strom 650, Motor Penjelajah Untuk Sang Petualang Sejati
Suzuki V-Strom 650 versi XPEDITION dirancang unt...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon