Campbell mengungkapkan bahwa dalam surat-surat rahasianya untuk Bush, Tony Blair mengungkapkan kekaguman, kesetiaan dan cintanya yang tak pernah padam untuk Bush, yang disebut Blair sebagai "pemimpin dunia bebas".
Letika ditanya apakah para menteri kabinet Blair pernah melihat surat-surat tersebut, Campbell menyatakan bahwa mereka belum pernah melihatnya. "Jika sampai terjadi, hal itu akan menjadi sesuatu yang amat mempermalukan Tony," kata Campbell.
Dalam salah satu surat tersebut, Blair bahkan sampai memohon pada pemimpin AS tersebut. "Lakukan invasi ke Irak seperti layaknya kau menginvasi hatiku."
Campbell mengatakan bahwa kegandrungan Campbell terhadap mantan presiden AS tersebut semakin bertambah, surat-surat cintanya menjadi cenderung semakin mesum dan sugestif, berisi kata-kata seperti: "Aku menginginkanmu berada di Irak seperti halnya aku menginginkanmu berada dalam diriku." Pesan terakhir tersebut dikirimkan sebelum invasi Irak berlangsung.
Campbell tidak memberikan konfirmasi atau menyanggah bahwa Bush dan Blair secara diam-diam menyebut Saddam Hussein, mantan penguasa Irak, dengan nama Sodom Hussein.
Akan tetapi, ketika ditekan oleh pihak penyelidik, ia mengakui bahwa Blair seringkali mengungkapkan kekhawatiran bahwa senjata pemusnah massalnya mungkin tidak sebesar milik Saddam.
Seorang juru bicara penyelidikan tersebut membenarkan bahwa mereka telah mendapatkan salinan surat-surat rahasia tersebut, namun mereka menambahkan bahwa isi surat-surat tersebut kemungkinan tidak akan dipublikasikan karena isi surat yang dinilai terlalu mesum dan membuat orang menjadi jijik.
Tony Blair tidak dapat dihubungi ketika hendak dimintai komentar sehubungan dengan hal tersebut karena masih berada di kamp liburan. Namun, Smiley Moron, juru bicara Blair, mengatakan bahwa meski sang mantan perdana menteri telah menanggalkan kegandrungannya terhadap Bush, ia masih yakin bahwa senjata pemusnah massal akan ditemukan di Irak.
"(Senjata-senjata itu) mungkin saja ditimbun di bagian belakang kendaraan lapis baja atau diikat di bawah sayap jet tempur F-19," kata Moron mengutip ucapan Blair. "Yang jelas senjata itu ada di suatu tempat."
Bulan Oktober tahun lalu, mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, disebut memiliki tangan yang "bersimbah darah" olah ayahanda dari seorang prajurit Inggris yang kehilangan nyawa. Ungkapan tersebut dilontarkan kepada Blair setelah acara peringatan bagi para prajurit yang kehilangan nyawa di medan tempur Irak, di ibukota Inggris, London.
Mantan perdana menteri tersebut bergabung bersama dengan Ratu Elizabeth II, Presiden Irak, Jalal Talabani, Perdana Menteri Gordon Brown dan para prajurit serta kerabatnya pada sebuah upacara peringatan untuk mengenang 179 orang prajurit Inggris yang terbunuh setelah menginvasi Irak.
Cercaan tersebut terjadi dalam acara resepsi di Katedral Saint Paul yang digelar setelah upacara peringatan. Kala itu, Uskup Besar Canterbury mengkritik para pembuat kebijakan karena tidak mempertimbangkan benar-benar mengenai nyawa yang harus dibayarkan di medan perang Irak.
Peter Brieley, ayahanda dari Shaun, 28, yang kehilangan nyawa pada bulan Maret 2003, menolak untuk menjabat tangan Blair meski sang mantan perdana menteri sudah menyodorkan tangannya. Dengan ketus, ia mengatakan kepada Blair: "Saya tidak akan menjabat tangan Anda yang berlumuran darah." (dn/hy/sm) www.suaramedia.com














