Pada hari Senin waktu setempat, kerumunan pengunjuk rasa berkumpul dan bersama-sama mengekspresikan kemarahan terhadap pengurungan yang tiada henti dilakukan Israel terhadap Jalur Gaza, ditambah dengan pengusiran penduduk Palestina dari Al-Quds.
Mereka juga berjanji akan mengekspos pembantaian membabi buta yang dilakukan oleh Israel terhadap warga Palestina. Israel mendapatkan banyak sorotan dalam agresi brutal yang dilakukan selama tiga minggu yang berlangsung antara bulan Desember 2008 hingga Januari 2009.
Dalam peristiwa tersebut, lebih dari 1.400 orang warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak, dibantai. Israel melakukan kejahatan perang dengan mempergunakan perisai manusia serta menghancurkan sekolah-sekolah dan bangunan milik PBB yang dipenuhi penduduk sipil.
Sementara itu, sejumlah aktivis lainnya menggelar unjuk rasa untuk mengutuk kemungkinan penjualan perlengkapan militer Jerman, mereka menekankan bahwa konstitusi Jerman tidak diperbolehkan adanya penjualan senjata kepada pihak manapun dalam sebuah konflik yang tengah berlangsung.
Unjuk rasa tersebut dilakukan di tengah kunjungan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, ke Jerman untuk berdialog dengan Kanselir Angela Merkel.
Pertemuan keduanya digelar dalam rangka upaya meningkatkan kerjasama dalam bidang keamanan dan juga hubungan bilateral kedua negara, akan tetapi, media-media Jerman juga melontarkan spekulasi bahwa dalam pertemuan tersebut, Israel mungkin akan meminta Jeman untuk memberikan lebih banyak senjata scara cuma-cuma atau setengah harga.
Setelah melakukan kunjungan ke Museum Peringatan Holocaust di Berlin, Kanselir Angela Merkel dan Netanyahu berdialog. Dialog tersebut juga membahas upaya yang dipimpin AS untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai Timur Tengah, dan juga upaya untuk menghentikan ambisi nuklir Iran.
Merkel mengambil posisi yang keras terhadap Iran, ia mengancam untuk menjatuhkan sanksi internasional jika Iran terus membangkang.
"Kami selalu memberikan tawaran kerja sama yang masuk akal dan transparan kepada Iran. Sayangnya, sampai saat ini Iran tidak menunjukkan tanda-tanda kesediaan untuk bekerjasama. Hal itu berarti bahwa kami amat perlu mempertimbangkan penjatuhan sanksi," kata Merkel dalam sebuah konferensi pers.
Sebelumnya, menteri-menteri Israel dan Jerman menandatangani serangkaian kesepakatan bilateral dalam bidang ekonomi, lingkungan, kemanusiaan, dan kerja sama militer.
Seorang juru bicara pemerintah Jerman mengatakan bahwa pertemuan keduanya merupakan hal yang langka.
"Jerman hanya pernah menggelar pertemuan kabinet gabungan degan sedikit mitra internasional, misalnya dengan Perancis dan Polandia," kata Christoph Stegmans kepada para wartawan.
Menjelang pertemuan kabinet gabungan, laporan media menyebutkan bahwa Israel berniat menempatkan salah satu kapal selam Dolphin (lumba-lumba) miliknya di Teluk Persia.
Kapal selam tersebut diyakini mampu menempuh jarak 4.500 kilometer (2.800 mil) dan memiliki kapasitas untuk menembakkan torpedo nuklir.
Jenis kapal selam tersebut adalah produksi Jerman. Sejak tahun 1998, Jerman telah mengeluarkan dana sebesar 900 juta euro dalam bentuk lima unit kapal selam lumba-lumba kepada Israel.
Jerman adalah mitra dagang terbesar ketiga Israel setelah AS dan China, volume perdagangan Jerman dengan Israel mencapai 4,3 miliar euro pada tahun 2008, banyak pihak menganggap Jerman sebagai sekutu terkuat Israel di Eropa. (dn/pv/af) www.suaramedia.com














