Paul Chambers, 26, dilaporkan hendak terbang dari bandara Robin hood di Doncaster, lebih dari satu minggu setelah lebatnya salju memaksa pihak berwenang untuk menutup landasan pacu bandara.
Pria tersebut ditangkap karena menyebarkan ancaman bom palsu, ia menulis status di Twitter menggenai keinginannya untuk meledakkan bandara tersebut, akan tetapi rupanya status tersebut dilaporkan pada pihak kepolisian.
Polisi mengatakan bahwa ada seorang pria asal Doncaster yang berusia 20 tahunan yang ditangkap, namun telah dibebaskan dengan jaminan.
Juru bicara wanita kepolisian mengatakan bahwa pria tersebut ditangkap pada tanggal 13 Januari berdasarkan Undang-Undang Hukum Kriminal tahun 1977.
Juru bicara tersebut menambahkan: "Penangkapan pria tersebut ada hubungannya dengan dugaan ancaman terhadap bandara Robin Hood yang ditemukan di sebuah situs jejaring sosial."
"Pria yang berusia 20 tahunan tersebut kini tengah berada dala jaminan polisi, menunggu proses penyelidikan lebih lanjut."
"Kepolisian South Yorkshire memberikan nasihat kepada masyarakat untuk tidak menyalahgunakan situs-situs jejaring sosial, karena situs semacam itu sangat mudah diakses publik. Dan penggunaan yang tidak semestinya mengakibatkan kekhawatiran yang tidak perlu terjadi, pada akhirnya bisa berujung pada keluhan dan laporan kepada pihak yang berwajib."
Mike Morton, direktur bandara Robin Hood, mengatakan: "Keamanan dan keselamatan para penumpang serta staf kami adalah hal yang terpenting, kami menjalin kerja sama erat dengan kepolisian South Yorkshire untuk memastikan bahwa tindakan apapun yang tidak dapat diterima segera mendapatkan penanganan. Kami tidak akan mentolerir tindakan semacam itu."
"Untungnya, contoh-contoh kasus seperti yang baru-baru ini mendapat sorotan jarang terjadi, mayoritas penumpang kami bersikap normal dan menikmati penerbangan, baik dari dan ke bandara kami tanpa ada masalah berarti."
Juru bicara bandara Robin Hood mengatakan bahwa pihaknya mendukung penuh tindakan polisi. "Komentar-komentar yang mengancam keselamatan bandara selalu dianggap serius."
Paul Chambers memposting komentar tersebut pada tanggal 6 Januari lalu, setelah hujan salju lebat mengancam membatalkan rencananya untuk pergi ke Irlandia pada tanggal 15 Januari.
"Bandara Robin Hood ditutup," tulis Chambers. "Kalian punya waktu satu minggu lebih untuk membereskan semuanya, jika tidak, maka saya akan meledakkan bandara ini hingga kepingannya membumbung tinggi di udara."
Akan tetapi, meski beberapa orang kawannya menyukai lelucon tersebut, ada yang tampaknya merasa tidak senang dan langsung menghubungi polisi, yang tiba di depan pintu Chambers pada tanggal 13 Januari lalu.
"Awalnya, setelah saya tahu polisi yang datang, saya mengira bahwa ada anggota keluarga saya yang mengalami kecelakaan," kata Chambers kepada The Independent.
"Kemudian mereka mengatakan bahwa saya ditangkap berdasarkan Undang-Undang Terorisme. Para polisi membawa secarik kertas yang rupanya hasil cetak halaman akun Twitter saya, baru kemudian saya menyadari apa yang terjadi."
Chambers ditangkap berdasarkan Undang-Undang Terorisme, degan dugaan berkomplot untuk menciptakan ancaman bom palsu, setelah menjalani interogasi selama tujuh jam, Chambers kemudian dimasukkan dalam tahanan polisi.
"Saya harus menjelaskan sepenuhnya mengenai Twitter kepada mereka karena mereka belum pernah mendengarnya. Mereka kemudian menanyakan mengenai kehidupan keluarga saya dan bagaimana pekerjaan saya, serta beberapa hal pribadi lainnya," katanya.
"Para penyelidik terus saja bertanya: Apa Anda tahu mengapa hal ini terjadi? Kemudian mereka mengatakan. "Inilah dunia yang kita tinggali."
Chambers tidak pernah menduga bahwa hal semacam itu akan terjadi hanya karena Twitter," katanya. Saya adalah seorang pria dengan sopan santun yang paling baik yang dapat Anda bayangkan."
Tessa Mayes, seorang pakar hukum privat dan kebebasan berbicara, mengatakan kepada The Independent: "Membuat lelucon mengenai terorisme adalah sebuah kejahatan pemikiran, bisa disalahartikan sebagai tindakan sebenarnya atau niatan untuk melakukan kejahatan."
"Apa yang dilakukan polisi terdengar menggelikan dan menunjukkan keputusasaan dalam memerangi terorisme, akan tetapi hal tersebut memiliki dampak yang amat serius bagi kita semua. Di alam demokrasi, kita memiliki hak untuk mengatakan apa yang ingin kita sampaikan, bahkan melalui Twitter." (dn/bbc/tg) www.suaramedia.com
- Libatkan Ulama Turki, Cara Licik Israel Bebaskan Gilad Shalit
- The Simpsons Ala Georgia, Tak Bersahabat Bagi Rusia
- Perancis Desak PBB Selidiki Peranan AS Di Haiti
- Atasi Masalah, Militer China Persenjatai Anak Ingusan
- Ajudan Blair Buka Kekeliruan Inggris Dalam Invasi Irak














