Kamis, 24 Mei 2012

Headlines:

Ajudan Blair Buka Kekeliruan Inggris Dalam Invasi Irak

E-mail Cetak PDF

LONDON (Berita SuaraMedia) - Jonathan Powell, mantan kepala staff Tony Blair, mengungkapkan alasan terjunnya Inggris ke dalam Perang Irak kepada Chilcot Inquiry pada hari Selasa (19/01).

Menurut Powell, Blair begitu "percaya" bahwa Saddam Hussein masih memiliki senjata pemusnah massal dengan alasan bahwa dikatator Irak tersebut pernah menggunakan senjata tersebut pada masa lalu.

Namun, Powell terus-terang mengungkapkan bahwa "kami telah keliru" karena "ternyata tidak ada senjata pemusnah masssal". Powell juga mengakui bahwa ia tak dapat menyajikan bukti apa pun untuk mendukung klaim Blair dalam surat-suratnya pada 2002 bahwa Saddam memiliki program senjata pemusnah massal "yang berkembang".

Bukti Powell akan memperbesar tekanan terhadap Blair menjelang panel penyelidikan yang akan berlangsung pada 29 Januari mendatang. Sebelumnya, berbagai saksi telah menyatakan bahwa tujuan Blair yang sesunguhnya adalah menggulingkan rezim yang berkuasa di Irak. Banyak kritikus menyatakan bahwa Blair melebih-lebihkan ancaman yang timbul dari senjata pemusnah massal sebagai cara meyakinkan parlemen untuk kembali melakukan invasi.

Pada September 2002, Blair mempublikasikan surat-surat penting berisi klaim bahwa Saddam memiliki senjata pemusnah massal yang dapat menyebar dalam 45 menit. Klaim itu kini menyedot perhatian yang besar. Dalam pembukaan surat-surat penting tersebut, Blair mengklaim bahwa intelijen "membuktikan tanpa ragu" bahwa Saddam memiliki sebuah program senjata pemusnah massal "yang aktif, mendetail, dan berkembang".

Kini, Powell menghadapi pertanyaan intens seputar surat-surat penting tersebut.

Ketika ditanya apakah ia "mempertimbangkan" bahwa intelijen atas stok senjata Saddam mungkin tidak up-to-date, Powell menjawab, "Kami memiliki asumsi, dan kami memiliki asumsi tersebut karena Saddam Hussein telah berbohong kepada kami di masa lalu ketika ia menyatakan bahwa ia telah menyingkirkan senjata pemusnah massal. Kami telah mengebom Irak pada 1988 bedasarkan alasan itu dan akan perlu sejumlah bukti yang kuat untuk mengatakan bahwa ia telah menyingkirkan senjata itu."

"Kami benar-benar tidak ragu atas hal itu dan saya tidak berpikir bahwa orang lain memiliki keraguan atas hal itu," lanjut Powell. "Kami percaya bahwa ia memiliki senjata pemusnah massal." Imbuhnya, "Ketika pasukan kami masuk, kami benar-benar terkesima ketika melihat bahwa tak ada senjata pemusnah massal sama sekali."

Powell juga mendapat pertanyaan tentang frase "tanpa ragu" yang digunakan dalam surat-surat penting Blair. Menjawab tentang apakah cukup bijaksana untuk menggunakan frase tersebut, Powell berkata, "Anda dapat menyerahkan dokumen-dokumen macam ini kepada suatu tingkat analisa tekstual yang dalam keadaan tersebut tak dapat ditanggung oleh dokumen-dokumen tersebut."

Anggota panel, Sir Roderic Lyne, bertanya, "Apakah bukti telah menunjukkan bahwa senjata pemusnah massal sedang berkembang? Kami berusaha menemukannya." Powell menjawab, "Ingatan saya tak memungkinkan untuk menjawabnya dengan tepat." Powell mengakui bahwa kata "berkembang" adalah sebuah "kata yang penting untuk digunakan". Walau demikian, Powell berpendapat bahwa media terlalu membesar-besarkan arti penting surat-surat pada bulan September tersebut.

"Intelijen bukanlah bukti yang kuat", kata Powell. "Itu bukanlah sesuatu yang dapat membuktikan sesuatu kepada Anda. Jika menengok ke belakang, sebenarnya akan lebih baik jika mempublikasikan laporan tersebut kepada Komite Intelijen Gabungan (Joint Intelligence Committee) – akan lebih dramatis jika hal itu dilakukan."

Tahun lalu, mantan duta besar bagi Washington, Sir Christopher Meyer, menyatakan bahwa Blair telah "menandatangani dengan darah" sebuah kesepakatan di Crawford, Texas, pada April 2002. Kesepakatan tersebut merupakan hasil pertemuan Meyer dengan Bush di ranch mantan presiden AS tersebut. Inti kesepakatan adalah untuk maju menyerang Irak.

Sehubungan dengan pernyataan Meyer tersebut, Powell berkata, "Saya saat itu berada di Crawford. Sir Christopher tidak. Ia sedang berada di Waco, 30 mil dari situ." Powell melanjutkan, "Tak ada perjanjian dengan darah untuk berperang di Irak. Tak ada diskusi hangat untuk maju perang. Sebenarnya catatan yang dikirim kepada Sir Christopher menyatakan bahwa Presiden mengakui inspektur senjata semestinya masuk dan kami harus memberi Saddam kesemapatan untuk patuh."

Pada 2002, Jaksa Agung yang menjabat pada masa itu, Lord Goldsmith pernah mengatakan bahwa sebuah invasi tak akan absah tanpa resolusi kedua dari PBB. Namun, Lord Goldsmith mengubah pendapatnya beberapa hari kemudian. Ia menyatakan bahwa invasi adalah absah. Berkembang isu bahwa Lord Goldsmith tampaknya telah mengubah pendapatnya setelah pertemuan dengan Blair pada tanggal 11 Maret.

Ketika ditanya apakah terdapat tekanan terhadap Lord Goldsmith agar mengubah pikirannya tentang keabsahan perang, Powell menjawab," Anda tak dapat menggertak Jaksa Agung, namun ia sedang menanggung beban keputusan yang amat berat. Jelas." Lebih lanjut, Powell berkata, "Saya tak tahu jika ia dimintai pandangan definitif sebelum 11 Maret. Ia tentu saja dimintai pandangan definitif pada 11 Maret." (es/tg) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon