Kartun tersebut menayangkan sebuah keluarga biasa yang menghadapi masalah sehari-hari, dan serial tersebut menjadi populer di Georgia.
Kartun tersebut mulai ditayangkan dua bulan yang lalu, meski baru berumur pendek, tayangan tersebut langsung mampu merebut hati para pemirsa dan menduduki peringkat ke dua tayangan terpopuler di saluran televisi utama Georgia.
"The Samsonadzes", judul kartun tersebut, banyak dipandang sebagai jawaban Georgia terhadap "The Simpsons".
Namun, para pencipta serial tersebut langsung membeberkan perbedaan-perbedaan kartun mereka dengan "The Simpsons".
"Keduanya berbeda, seperti halnya perbedaan antara keluarga Amerika dan keluarga Georgia. Kami hanya mengambil contoh dari kehidupan rata-rata keluarga di sini dan memparodikan karakteristik umum mereka, misalnya saja sifat malas dan kecintaan terhadap alkohol," kata sang penulis naskah tayangan kartun tersebut, Zviad Bliadze.
Tayangan populer tersebut berfokus pada kehidupan sebuah keluarga yang terdiri dari empat orang dan kehidupan sehari-hari mereka di Tbilisi.
Para kreator kartun tersebut berharap bahwa buah karya mereka akan memperoleh kesuksesan yang setara dengan "The Simpsons". "The Samsonadzes" juga memiliki warna-warna yang cerah, animasi yang hidup dan menyindir pola pikir dari pria berkeluarga pada umumnya.
Yang juga menjadi faktor pembeda adalah kritikan terhadap sistem politik negara masing-masing.
Salah satu episode paling populer tayangan tersebut menampilkan wajah-wajah yang akrab dengan publik, Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan Perdana Menteri Vladimir Putin, dan karakteristik keduanya digambarkan amat buruk.
Produser kepala serial tersebut, Shalva Ramishvili, mendekam di penjara selama empat tahun atas tuduhan penggelapan, sebuah tuduhan yang menurutnya adalah karangan belaka.
Ramishvili mulai mengerjakan kartun tersebut setelah dibebaskan, ia mengatakan bahwa menyampaikan kritikan politik keras bukan hal yang baru baginya.
"Saya mendedikasikan sepanjang hidup saya untuk mengkritik para politisi Georgia," kata Ramishvili.
Akan tetapi, hingga saat ini belum ada satupun politisi Georgia yang tampil dalam kartun tersebut, meski hanya sekilas.
Para produser berjanji bahwa mereka akan menangani isu tersebut dalam waktu sesegera mungkin. Namun, beberapa pihak meyakini bahwa hal tersebut tidak akan pernah terjadi jika Mikhail Saakashvili masih berkuasa di negara tersebut. Hal serupa secara tidak langsung juga berlaku bagi kebanyakan media.
"Kartun semacam itu hanya dapat ditayangkan jika mendapatkan perintah langsung dari Saakshvili, atau jika para pembuat tayangan merasa bahwa Saakahsvili akan merasa senang dengan isi tayangannya."
"Memang ada beberapa saluran televisi kecil yang independen dan mengolok-olok Saakashvili, bukan politisi Rusia. Namun, satu-satunya orang yang akan melakukan hal itu adalah Saakashvili sendiri," kata Petre Mamradze, seorang tokoh oposisi.
Sejauh ini, tampaknya para kreator kartun paling laris di georgia tersebut lebih mudah untuk mengolok-olok para pemimpin Rusia, karena membuat lelucon mengenai pemerintah Georgia dalam tayangan televisi tidak akan berujung pada tawa bagi siapapun yang berani coba-coba melakukannya. (dn/rt) www.suaramedia.com
- Pengiriman Senjata AS Ke Somalia Resahkan Internasional
- NPD : Kedatangan Netanyahu ke Jerman "Mengerikan"
- Waspadai Patriot AS, Rusia Perkuat Armada Baltik
- Miliband Bantah Isu "Cerai" Dengan China Akibat Iran
- Libatkan Ulama Turki, Cara Licik Israel Bebaskan Gilad Shalit














