Menurut sebuah laporan dari kelompok hak asasi manusia tersebut yang dirilis pada hari Kamis, AS mengirimkan sejumlah senjata ke Somalia, termasuk diantaranya mortir, amunisi dan uang tunai yang dipergunakan untuk membeli lebih banyak persenjataan.
Kelompok yang berbasis di London tersebut juga mengkhawatirkan jika senjata-senjata tersebut dipergunakan oleh pasukan pemerintah untuk melakukan serangan membabi buta.
Amnesti Internasional menunutut Washington menghentikan pengiriman persenjataan tersebut hingga keadaan sudah lebih aman dan ada jaminan bahwa senjata tersebut tidak akan dipergunakan untuk melakukan kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia.
Negara Afrika tersebut tidak memiliki pemerintahan yang efektif sejak tahun 1991. Tahun lalu, bentrokan di Somalia menewaskan ribuan orang penduduk sipil dan membuat ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal, demikian menurut laporan tersebut.
Bulan Juni tahun lalu, AS membenarkan bahwa pihaknya telah mengirimkan senjata kepada pemerintah Somalia.
Pengumuman tersebut dilakukan menyusul panggilan darurat untuk meminta bantuan militer yang dikeluarkan oleh pemerintah, yang memerangi kelompok gerilyawan yang dituding memiliki hubungan dengan Al-Qaeda.
Para gerilyawan mengendalikan sebagian wilayah Somalia, dan para pejabat AS merasa cemas dengan hal itu, kata para analis.
AS juga memberikan bantuan logistik untuk melatih para prajurit Somalia. "Atas permintaah pemerintah (Somalia), Departemen Luar Negeri membantu menyediakan senjata dan amunisi dalam keadaan darurat," kata juru bicara Departemen Luar Negeri, Ian Kelly.
"Persenjataan tersebut dikirimkan untuk membantu pemerintah menghalau serangan dari kekuatan ekstrimis yang bertujuan untuk merusak upaya menghadirkan perdamaian dan stabilitas di Somalia.
AS juga memberikan dukungan untuk melatih pasukan Somalia, tapi mereka tidak melakukan memandu sendiri latihan itu.
Pemerintah Somalia memanggil bantuan militer asing untuk memerangi kelompok Al-Shabab, namun Ethiopia dan Kenya sama-sama menolak untuk mengirimkan pasukan.
AS sebelumnya juga mendukung sejumlah kelompok Somalia dalam memerangi kelompok-kelompok militan dan melakukan serangan udara terhadap para pemimpin gerakan.
Namun, Roger Middleton, analis dari Horn of Africa, mengatakan bahwa permasalahan militer utama pemerintah bukanlah kurangnya senjata atau orang untuk bertempur.
Dalam program tayangan BBC Afrika, Middleton mengatakan bahwa kekuatan pemerintah dibentuk dari dua kelompok utama, yang dibentuk dari masa pemerintahan mantan presiden Abdualhi Yusuf dan pada masa pemerintahan Presiden Sheikh Sharif Sheikh Ahmed, mantan anggota pemberontak yang naik tahta pada bulan Januari tahun talu.
Middleton mengatakan bahwa kedua kelompok tersebut tidak bisa saling bahu membahu.
Dia juga mengatakan bahwa pengumuman AS tersebut akan menjadi sebuah hal yang kontraproduktif.
"Al-Shabab mengatakan pemerintah transisi sebagai kaki tangan komunitas internasional. Sulit rasanya mengatakan bahwa pengiriman senjata oleh AS akan membantu Presiden Sharif mendapatkan dukungan masyarakat." (dn/pv/bc) www.suaramedia.com
- Situs Hitam AS Dalam Daftar kejahatan Kemanusiaan PBB
- Peter Moore: Mereka Gunakan Penipuan Eksekusi
- Gelar Pahlawan Nasional Ukraina Sulut Amarah Yahudi Rusia
- Kirim Anak Ke Sekolah Agama, David Miliband Picu Kontroversi
- Paus Benediktus XVI: Demi Tuhan, Buatlah Blog!














