Penyelidikan yang dipimpin oleh Sir John Chilcot memeriksa legitimasi keterlibatan Inggris dalam perang Irak.
Blair tiba dua jam lebih awal untuk mengikuti dengar pendapat yang dijadwalkan akan berlangsung selama enam jam di Queen Elizabeth Hall, London, saat ia berusaha menghindari para pemrotes dan media yang berada di luar.
Beberapa pemrotes berkumpul di luar gedung, meneriakkan "Blair bohong – ribuan orang mati," saat penyelidikan tengah berlangsung.
"Kami tidak datang ke sini mengharapkan sebuah permintaan maaf," ujar salah satu pemrotes, Gary Walker, 31, kepada New York Times. "Namun penting untuk menunjukkan bahwa setelah tujuh tahun orang-orang masih peduli pada perang yang ilegal itu."
Penyelidikan dimulai dengan menekan Blair karena melebih-lebihkan dan membumbui isi laporan intelijen untuk meyakinkan pemerintah dan publik Inggris bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal (WMD) – sebuah klaim yang disanggah sesaat setelah invasi.
Dalam pembelaannya, Blair mengatakan bahwa ia yakin setelah serangan 11 September, Saddam Hussein menghadirkan ancaman yang lebih besar dengan melengkapi para teroris dengan senjata pemusnah massal.
"Jika serangan 11 September tidak terjadi, penilaian kami akan berbeda. Namun, setelah 11 September, sudut pandang kami dan rakyat Amerika berubah drastis," ujar Blair saat membuka testimoninya.
Orang-orang yang hadir dalam ruang sidang itu, termasuk anggota keluarga dari para tentara dan warga sipil yang terbunuh atau hilang di Irak, semuanya duduk diam mendengarkan kesaksian Blair.
Rose Gentle, yang anak laki-lakinya Gordon (19) terbunuh di Irak pada tahun 2004, mengatakan bahwa ia merasa jijik dengan kehadiran Blair.
"Sebenarnya, saya merasa jijik," ujarnya. "Ia juga tampak gemetar, itu membuat saya senang. Mata semua keluarga tertuju padanya."
Serangan teror 11 September membunuh sekitar 3000 orang di New York, Washington, dan Pennsylvania. Para teroris membajak empat pesawat, menabrakkan dua di antaranya ke menara kembar WTC New York dan menghancurkan kedua bangunan itu, dan menabrakkan satu pesawat lainnya ke Pentagon. Pesawat keempat jatuh di Pennsylvania setelah para penumpang dan kru pesawat melawan para pembajak.
"Bukan karena secara obyektif ia (Saddam) telah berbuat lebih dari itu, melainkan karena persepsi kami tentang risiko telah bergeser," ujar Blair. "Jika orang-orang yang terinspirasi oleh fanatisme relijius ini dapat membunuh 30.000 orang, mereka akan melakukannya. Mulai saat itu, Iran, Libya, Korea Utara, Irak, semuanya ini harus diakhiri."
"Pertimbangan utama saya adalah mengirimkan pesan yang kuat, jelas, dan tanpa henti bahwa setelah 11 September jika kau terlibat dengan sebuah rezim yang memiliki WMD, kau harus berhenti."
Panel beranggotakan lima orang itu menekan Blair tentang kapan tepatnya ia menawarkan dukungan pada Presiden Bush atas sebuah invasi. Saksi sebelumnya mengklaim bahwa ia menjanjikannya pada tahun 2002, lebih dari setahun sebelum parlemen Inggris menyetujui aksi militer itu.
Mantan duta besar Inggris untuk Washington, Shristopher Meyer, mengatakan dalam dengar pendapat sebelumnya bahwa sebuah kesepakatan yang ditandatangani oleh Bush dan Blair dalam sebuah pertemuan di peternakan Bush di Texas pada bulan April 2002.
Blair telah lama berdalih bahwa ia harus bertindak sejalan dengan keputusan Washington untuk melucuti persenjataan mantan pemimpin Irak itu. Namun, hubungannya dengan mantan Presiden George W. Bush berada dalam penyelidikan setelah jatuhnya Baghdad mengungkap fakta tidak adanya WMD yang ditemukan untuk membenarkan perang tersebut.
Ia mengakui bahwa beberapa kesalahan telah dilakukan sebelum dan setelah perang. Ia mengatakan bahwa para perencana yakin tantangan pasca perang akan berpusat pada kebutuhan kemanusiaan dan mempertahankan ladang minyak Irak. Sebaliknya, pasukan pendudukan menghadapi sebuah infrastruktur yang hampir runtuh dan pemberontakan sektarian.
"Kami merencanakan dengan satu asumsi yang ternyata salah kemudian kami juga berakhir dengan sebuah masalah baru yang saya rasa tidak diprediksi sebelumnya," ujar Blair.
"Orang-orang tidak mengira bahwa Al Qaeda dan Iran akan memainkan peran yang mereka mainkan," ujar Blair tentang pemberontakan pasca perang.
Gedung Putih belum memutuskan apakah akan meminta mantan presiden Bush bertanggung jawab atas keputusan perangnya. Banyak kritikus yang telah menyerang Inggris dan AS untuk niat mereka mengambil alih pasokan minyak Irak yang berlimpah.
Saba Jaiwad, seorang pemrotes Irak yang menentang perang, mengatakan bahwa Blair, yang kini merupakan utusan kuartet pendamai Timur Tengah, harus dibawa ke The Hague untuk "menghadapi dakwaan kriminal karena ia telah melakukan kejahatan terhadap rakyat Irak."
"Rakyat Irak harus menghadapi penindasan, perpecahan, dan kekejaman setiap harinya," ujar Jawaid.
Panel di London itu adalah investigasi ketiga Inggris yang terluas cakupannya atas konflik Irak, yang memicu protes besar dan menewaskan 179 tentara Inggris. Militer Inggris menarik diri dari Irak tahun lalu.
Penyelidikan itu tidak dimaksudkan untuk menyalahkan atau menahan siapa pun yang bertanggung jawab atas perang itu. Namun, langkah Inggris itu dapat mempermalukan pemerintah Inggris dan Amerika yang berargumen – dengan salah – bahwa perang itu dibenarkan karena pemimpin Irak sedang mengembangkan senjata pemusnah massal dan membangun hubungan dengan Al Qaeda.
Sementara itu, penasihat hukum Tony Blair, Lord Peter Goldsmith, mengakui bahwa pada awalnya ia merasa skeptis atas legitimasi aksi militer AS di Irak.
Goldsmith mengatakan bahwa ia tidak merasa yakin bahwa invasi itu diperlukan, menyebutkan bahwa Resolusi 1441 PBB – yang memberi Saddam Hussein sebuah peringatan final – tidak terlalu jelas.
"Saya tidak melihat bukti apa pun keberadaan ancaman nyata yang membutuhkan sebuah pertahanan diri," ujar Goldsmith.
Goldsmith menjadi jaksa agung Inggris antara tahun 2001 hingga 2007.
Ia mengatakan bahwa ia mengkomunikasikan keraguannya dengan Tony Blair dalam sebuah pertemuan di bulan Juli 2002, di mana ia memberitahu mantan perdana menteri itu bahwa sebuah resolusi PBB yang memerintahkan aksi militer terhadap Irak harus mendahului pelaksanaan aksi apa pun.
"Saya rasa pendapat itu tidak diterima," ujar Goldsmith. LIHAT VIDEO (rin/pv/lm) www.suaramedia.com
- Israel Latih Jerman Gunakan Drone Untuk Perang Afghan
- Penuh Dusta, Kesaksian Blair Dalam Penyelidikan Irak Menjijikkan
- Janda Presiden: Lobi Yahudi Kendalikan Negara Belanda
- Clinton: AS Tak Akan Bicara Dengan Orang-Orang Jahat
- Tak Mau Kalah, Rusia Terjunkan Pasukan Besi Di Afghan














