Reporter surat kabar itu, Uzi Mahnaini, melaporkan bahwa penembak jitu yang membunuh Mabhouh di dalam kamar hotelnya di Dubai menyuntik sang pejabat dengan obat yang dapat menimbulkan serangan jantung, memfoto semua dokumen di tas kerjanya, dan meninggalkan tanda "Jangan diganggu" di pintu kamar.
Mahnaini menambahkan bahwa jasad Mabhouh, 50, ditemukan oleh karyawan hotel Al Bustan Rotana setelah makan siang pada tanggal 20 Januari 2010. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan dan dokter setempat pun awalnya mendiagnosa kondisi Mabhouh sebagai serangan jantung.
Sembilan hari kemudian, setelah contoh darah yang dikirim ke Paris untuk dianalisis menunjukkan tanda-tanda racun di tubuhnya, Hamas mengumumkan kematian Mabhouh dan mengatakan bahwa badan intelijen Israel Mossad di balik pembunuhan tersebut.
Laporan bahwa Mabhouh tewas diracun dan baru ditemukan jasadnya beberapa hari kemudian bertentangan dengan informasi awal. Sumber keamanan di Dubai mengatakan bahwa di jasad Mabhouh terdapat bekas luka bakar dan siksaan dari alat penyetrum. Surat kabar Khaleej Times melaporkan bahwa Mabhouh tewas kehabisan nafas oleh sebuah bantal yang menutupi wajahnya.
Mahmoud Abdul Raouf al-Mabhouh tewas pada tanggal 20 Januari 2010, demikian kata Izzat al-Rishq, kepada Reuters. Rishq mengatakan bahwa Mabhouh adalah seorang anggota penting dari brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas yang namanya diambilkan dari seorang pemimpin religius Syiria yang memerangi pasukan penjajah Inggris di Palestina pada tahun 1930an.
"Saya tidak bisa mengungkapkan apa yang terjadi. Kami tengah bekerja sama dengan aparat di Uni Emirat Arab," kata Izzat al-Rishq pada hari Jumat (29/1).
Mabhouh, yang dilahirkan 50 tahun yang lalu di Jalur Gaza namun tinggal di Syria sejak tahun 1989, dibunuh satu hari setelah tiba di Dubai, kata Rishq.
Jenazah Mabhouh tiba di ibukota Syria, Damaskus, pada hari Kamis untuk dimakamkan kemudian.
Rula Amin, koresponden Al Jazeera di Libanon, mengatakan: "Tampaknya Hamas telah memutuskan untuk mengungkapkan kejadian ini (pembunuhan Al-Mabhouh) sepuluh hari setelah kejadian. Namun kita tidak tahu alasan mengapa mereka mengungkapkannya sekarang."
Para pejabat Israel sejauh ini menyangkal dugaan keterlibatan dalam peristiwa pembunuhan tersebut.
Rishq hidup di Damaskus, bersama dengan sejumlah pemimpin utama Hamas, termasuk pemimpin gerakan tersebut, Khalid Meshaal. (rin/pic/yn/sm) www.suaramedia.com
- Iran: Militansi Taliban Rasuki Asia - Arab Gara-Gara Intervensi AS
- Misi Peluru Kendali AS Di Rumania Bikin Gerah Rusia
- Turki: Serangan Militer Bukan Solusi Masalah Afghanistan
- Dekrit Baru Lukashenko Cekik Akses Internet Belarusia
- Saling Tuduh, Kasus Spionase Panaskan Hubungan Rusia-Ukraina















