Pada hari kedua konferensi tersebut, yakni hari Sabtu (6 Februari 2010), Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menuturkan keresahannya sehubungan dengan keamanan Eropa dan Euro-Atlantik yang terus merosot selama dua puluh tahun belakangan. Lavrov menghimbau adanya upaya perubahan.
"Selama dua puluh tahun terakhir, keamanan Eropa telah melemah di segala aspek. Keprihatinan tentang erosi rezim kendali senjata ini, atrofi (dari Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa), munculnya konflik-konflik serius, dan bahaya eskalasi yang tak terkendali – sebagaimana upaya untuk mengubah konflik dingin menjadi konflik panas," kata Lavrov.
Perang Dingin telah lama usai. Uni Soviet telah bubar. Begitu pula pakta pertahanan komunis di Eropa, Pakta Warsawa. Menurut Lavrov, kondisi semacam itu sebenarnya menawarkan kesempatan guna menciptakan system keamanan yang terpadu dan setara bagi semua pihak. Nyatanya, kesempatan itu tersia-siakan. NATO tetap saja menerapkan garis-garis batas di Eropa. Malah, NATO bergerak lebih jauh lagi ke Timur. Demikian kritik Lavrov.
Lavrov menilai bahwa system keamanan di kawasan Euro-Atlantik tak lagi dapat dipercaya. Buktinya, beberapa konflik telah mencuat selama dua dekade belakangan. Sebagai contoh, konflik sempat meletup di Yugoslavia pada tahun 1999 dan di Ossetia Selatan pada 2008.
Di bawah pemerintahan Presiden Dmitry Medvedev, Rusia pernah mengusulkan pembentukan sebuah dasar yang baru bagi pembentukan traktat keamanan. Traktat tersebut berguna untuk menciptakan sebuah system keamanan yang tidak terpecah-pecah dan setara bagi semua negara di kawasan Euro-Atlantik. Medvedev telah menyebarkan ide tersebut kepada para pemimpin dunia dan organiasi internasional. Pada intinya, Medvedev mengusulkan agar sebuah negara tidak mengijinkan wilayahnya dimanfaatkan untuk menyerang negara lain. Disamping itu, serangan terhadap sebuah negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Lavrov menekankan agar masalah keamanan terpadu segera dipecahkan. "Dus, kita akan mampu menciptakan dasar yang solid bagi aksi gabungan AS, Eropa, dan Rusia dalam isu-isu internasional," kata Lavrov.
Misil di Rumania
Dalam konferensi tersebut, AS mengumumkan bahwa negara itu telah mulai memasang penangkis misil di Eropa Timur. AS akan membahas rencana pembangunan fasilitas pertahanan di Eropa Timur dengan semua pihak terkait, termasuk Rusia. Demikian keterangan Penasehat KeamananNasional AS, James Jones, di Munich. AS memang baru saja memutuskan untuk memasang fasilitas penangkis misil di Rumania. Pada hari Kamis (4 Februari 2010), Rumania mengumumkan perihal pemasangan fasilitas tersebut.
Pada hari Kamis tersebut, Presiden Rumania Traian Basescu menyatakan, "Sistem baru tersebut bukan untuk melawan Rusia. Saya ingin menekankan hal ini, Rumania bukanlah tuan rumah untuk melawan Rusia, namun untuk melawan ancaman lain."
Justru karena Rumania menegaskan bahwa fasilitas itu tidak dituukan untuk Rusia, maka menguatlah pemikiran bahwa fasilitas itu memang dapat digunakan untuk melawan Rusia. Kalau memang fasilitas itu tak berguna untuk melawan Rusia, mengapa harus repot-repot menjelaskan bahwa fasilitas itu tidak untuk melawan Rusia?
Moskow menyatakan bahwa pihaknya bersedia diajak bicara. Walau demikian, Moskow masih menanti penjelasan yang lebih memuaskan dari AS. AS sendiri, lewat Departemen Dalam Negeri AS, menyatakan bahwa fasilitas itu ditujukan untuk Iran.
Program nuklir Iran
Konferensi di Munich tersebut dihangatkan oleh antara lain isu tentang program nuklir Iran. Washington dan Berlin menyatakan bahwa, meskipun Iran tampaknya bersedia mengupayakan kesepakatan, mereka tidak melihat tanda-tanda kesediaan Iran untuk membuat konsesi sehubungan dengan program nuklirnya.
Lavrov berbincang dengan sesama pejabat dari Iran, Manouchehr Mottaki, di Munich pada hari Jumat (5 Februari 2010). Rusia berusaha merayu Iran agar bersedia menerima tawaran pemrosesan uranium dari Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency – IAEA).
Saat ini, lima negara anggota tetap Dewan Kemanan PBB bersama Jerman sedang aktif mencari solusi bagi masalah nuklir Iran. (es/rt) www.suaramedia.com
- Kurangi Program Religi, BBC Terlibat Perang Dengan Gereja Inggris
- EX-NATO Kritik Upaya Jerman Hapuskan Senjata Nuklir AS
- Strategi Halus AS Rayu Eropa Dukung Perang Afghanistan
- Dokumen Rahasia Inggris Berpotensi Gugurkan Bukti Tony Blair
- Hamas Di Rusia : AS Dan Israel Memperlambat Perdamaian














