"Kami membuat rencana berdasarkan asumsi bahwa akan ada ancaman yang besar terhadap Inggris selama pertandingan, dengan dasar bahwa kami dapat mencegah ketimbang mengatasi," kata Steve Thomas, Koordinator Kemanan Transport Nasional Olimpiade kepada The Times apda hari Senin (08/02).
Thomas mengatakan bahwa polisi mempertimbangkan penggunaan Undang-undang Terorisme tahun 2000 pasal 44. menurut pasal tersebut, polisi dapat menghentikan orang dan menyelidikinya tanpa ada sangkaan lebih dulu. Hal tersebut dapat dilakukan di seluruh Inggris.
"Jika ada tingkat ancaman yang besar, kami akan berusaha menggunakan pasal 44 di setiap stasiun bawah tanah dan stasiun kereta api."
Ini merupakan pertama kalinya cara tersebut digunakan di seluruh bagian negeri. Demikian papar harian Inggris tersebut.
Para petugas kepolisian sedang menjalani pelatihan untuk memanfaatkan behavioral profiling guna menemukan karakter yang mencurigakan selama operasi stop-and-search.
London akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2012 mulai dari tanggal 27 Juli sampai 12 Agustus 2012.
Lebih dari 3500 atlet akan berpartisipasi dalam Olimpiade London. Diperkirakan ratusan ribu penggemar akan menjubeli London.
Rencana kepolisian Inggris untuk menggunakan pasal 44 Undang-Undang Terorisme tahun 2000 tersebut mengundang kecaman dari kelompok-kleompok kebebasan sipil dan hak priobadi. Mereka memperingatkan bahwa penggunaan cara etrsebut akan menciptakan ketegangan antara masyarakat dan polisi.
"Akan menjadi sangat berbahaya untuk menciptakan keamanan Olimpiade dengan cara yang cacat hukum seperti itu," kata Shami Chakrabarti, direktur Liberty kepada The Times.
Bulan lalu, penggunaan prosedur stop and search dinyatakan ilegal oleh European Court of Human Rights. Pengadilan menyatakan bahwa hal itu melanggar kebebasan pribadi. Padahal, kebebasan pribadi merupakan jaminan hak untuk hidup.
Pemerintah Inggris juga diperintahkan untuk membayar £30,400 kepada Kevin Gillan and Pennie Quinton. Kedua orang tersebut telah mengajukan sebuah kasus ke pengadilan setelah mereka dihentikan oleh polisi di luar sebuah pameran senjata di London pada bulan September 2003.
"Sejarah stop and search di negeri ini adalah menjijikkan, "kata Simon Davies, Direktur Privacy International kepada The Times.
"Saya tidak akan mempercayai polisi untuk membuat keputusan yang benar."
Ia memperingatkan bahwa penggunaan prosedur yang kontroversial selama Olimpiade akan membuat etnis dan agama minoritas menjadi sasaran prasangka.
"Sudah diketahui bahwa kekuasaan stop and search telah menciptakan ketegangan luar biasa di antara kelompok-kelompok etnis," imbuh Davies.
"Tak diragukan lagi bahwa perluasan penggunaan cara itu akan memperparah ketegangan tersebut." (es/io) www.suaramedia.com
- Singgung Pencurian Organ Haiti, Jubir Partai Inggris Dipecat
- Rayakan revolusi, Iran Dituding Halangi Siaran Media
- Sindir Presiden Perancis, Seniman China Terjerat Sensor
- Otak Serangan Maut Afghanistan Kini Hadapi Meja Hijau
- Rahasia Penyiksaan Ancam Hubungan Intel Inggris - AS














