Kamis, 23 Mei 2013

Headlines:

Rahasia Penyiksaan Ancam Hubungan Intel Inggris - AS

E-mail Cetak PDF

LONDON (Berita SuaraMedia) – Sebuah pengadilan banding memaksa pemerintah Inggris untuk mengungkapkan sebuah rahasia yang lama tersimpan, rahasia tersebut mengungkapkan mengenai pemukulan, pengikatan dan penghilangan hak tidur terhadap tahanan ketika diinterogasi oleh para agen AS.

Binyam Mohamed, warga Inggris kelahiran Ethiopia, ditangkap di Pakistan pada tahun 2002. Mohamed mengklaim bahwa penyiksaan tersebut terjadi kepada dirinya ketika berada di Pakistan dan di Maroko, sebelum kemudian diterbangkan ke penjara Teluk Guantanamo dan dituding memiliki hubungan dengan Al-Qaeda dan telah merencanakan pengeboman bangunan apartemen di AS.

CIA membagikan data rahasia sepanjang tujuh paragraf tersebut kepada badan intelijen Inggris, MI5, ketika Mohamed diinterogasi di Pakistan pada bulan Mei 2002.

Pemerintah Inggris berulangkali membantah keterlibatan dalam tindak penyiksaan tersebut. Inggris mengklaim bahwa jika informasi tersebut dibongkar kepada pubik, maka kerjasama intelijen AS dan Inggris akan rusak.

Tim pengacara Mohamed mengatakan bahwa deskripsi sepanjang tujuh paragraf tersebut membuktikan bahwa pemerintah AS dan Inggris terlibat dalam pengaturan bukti-bukti untuk menyudutkan Mohamed melalui penyiksaan. Kedua lembaga tersebut turut bersaing dengan Associated Press dan sejumlah kantor berita lain untuk mendapatkan akses terhadap dokumen tersebut.

Dalam tujuh paragraf yang dimuat di situs internet Kementerian Luar Negeri Inggris, setelah pengadilan mengeluarkan putusan yang menyebutkan bahwa Mohamed mengalami perlakuan kejam dan tidak manusiawi dari otoritas AS, termasuk pencabutan hak tidur, pengikatan dan ancaman yang mengakibatkan tekanan mental dan penderitaan, ketika diinterogasi oleh agen-agen AS.

Mereka menyimpulkan bahwa informasi yang diberikan kepada MI5 "membuat siapapun yang membacanya menjadi paham bahwa BM (Binyam Mohamed) mengalami perlakuan-perlakuan kejam yang telah disebutkan dan mengalami penderitaan akibat tindakan-tindakan tersebut."

Tuduhan terhadap Mohamed kemudian digugurkan.

Shami Chakrabarti, direktur kelompok pembela hak asasi manusia, Liberty, mengatakan bahwa sehubungan dengan informasi yang terkandung dalam paragraf-paragraf tersebut, diperlukan penyelidikan publik secara luas dan menyeluruh terhadap keterlibatan Inggris dalam penyiksaan tersebut.

"Informasi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Inggris sebenarnya tahu lebih banyak mengenai Binyam Mohamed dan bagaimana ia disiksa dalam tahanan AS," katanya. "Tujuh paragraf tersebut menjelaskan bahwa pemerintah (Inggris) tahu benar apa yang terjadi kepada Mohamed. Tangan mereka menjadi amat kotor."

Chakrabarti mengatakan bahwa sekarang sudah terbukti bahwa pemerintah Inggris terlibat dalam penyiksaan dan mengambil keuntungan dari hal tersebut.

Dari Washington, Dennis Blair, Direktur Badan Intelijen Nasional, mengatakan bahwa keputusan tersebut "tidak bermanfaat."

"Perlindungan terhadap informasi rahasia adalah hal yang penting bagi keamanan yang kuat dan efektif, serta kerjasama intelijen di antara para sekutu," demikian bunyi pernyataan Blair. "Keputusan pengadilan Inggris untuk merilis informasi rahasia yang diberikan AS adalah sebuah hal yang tidak bermanfaat, hal itu sangat kami sesalkan."

Keputusan pengadilan banding Inggris tersebut mendukung keputusan pengadilan tinggi yang memerintahkan dirilisnya rangkuman informasi tersebut. Kementerian Luar Negeri Inggris mengajukan banding atas putusan tersebut, namun pada hari Rabu pihak kementerian mengatakan bahwa pihaknya akan mematuhi keputusan tersebut.

"Yang harus ditekankan disini, kami menentang adanya penyiksaan dan tindakan-tindakan kejam dan tidak berperikemanusiaan. Kami tidak menganjurkan, terlibat atau mendukung hal itu," kata Simon Lewis, juru bicara Perdana Menteri Gordon Brown.

Menteri Luar Negeri Inggris, David Miliband, menegaskan kembali dukungan pemerintah terhadap prinsip yang menyebutkan bahwa "Jika sebuah negara berbagi data intelijen dengan negara lain, maka negara tersebut harus setuju sebelum data intelijen dibeberkan kepada publik."

Miliband mengatakan bahwa kasus tersebut telah dipantau secara hati-hati di tingkat tertinggi di AS, dia menambahkan bahwa dirinya telah berbincang dengan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengenai putusan tersebut pada hari Selasa lalu.

Di hadapan Dewan, Miliband mengatakan kemungkinan pembatasan pembagian data intelijen antara AS dan Inggris adalah sebuah hal yang amat mengkhawatirkan.

"Terlalu awal datang ke dewan dan mengatakan bahwa tidak ada dampak semacam itu yang akan terjadi. Kami harus memastikan bahwa hal itu tidak terjadi," kata Miliband.

Menurut Miliband, pengadilan memutuskan untuk membeberkan detail kasus tersebut karena penyiksaan Mohamed sebelumnya telah dipublikasikan di pengadilan AS, dalam sebuah sidang dengar pendapat mengenai tahanan Guantanamo lainnya.

Mohamed, 31, pindah ke Inggris saat masih remaja. Dia ditangkap sebagai tersangka "teroris" pada tahun 2002 di Karachi oleh aparat keamanan Pakistan. Ia kemudian ditransfer ke Maroko, lalu Afghanistan, dan ke Teluk Guantanamo pada tahun 2004. (dn/ap) www.suaramedia.com

Sejarah Islam

Husen Bin Salam, Pendeta Yahudi Dengan Panggilan Islam Dihatinya
Ketika pertama kali mendengar kedatangan Nabi, H...More »

Berita Gadget Terkini

Apple Ingin Lepas Ketergantungan Terhadap Samsung
Dilansir BGR, analis teknologi dari firma RBC Ca...More »

Keajaiban Dunia

Sejarah Seribu Satu Malam Terancam Serangan Turis
Benteng tersebut membuka sejarah Irak ribuan tah...More »

Otomotif Terbaru

Zoe, Mobil Cantik Besutan Perusahaan Kosmetik
Sistem sirkulasi udara pada mobil tersebut, memb...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon