Ko Siu Lan mengatakan bahwa Ecole des Beaux-Arts mencopot papan hitam yang ditulisi Siu Lan dengan kata-kata "kerja banyak hasil sedikit" dengan huruf putih, hanya beberapa jam setelah dipasang.
Kata-kata tersebut memutar balik slogan kampanye Sarkozy pada tahun 2007, "bekerja lebih banyak untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak."
Dengan mengusung slogan tersebut, Sarkozy kala itu ingin memberikan kebebasan kepada perusahaan-perusahaan agar memberikan upah lebih tinggi terhadap para pekerja yang membanting tulang 35 jam seminggu.
Sarkozy kala itu mengatakan bahwa dirinya bukan Santa Claus. Menurut Sarkozy, cara terbaik yang dapat dipastikan meningkatkan penghasilan pegawai adalah dengan melakukan ekspansi produksi.
Sarkozy kala itu menyalahkan adanya pengenalan 35 hari jam kerja pada tahun 1998 oleh pemerintahan sosialis Perancis.
Seniman China tersebut merasa kecewa dengan diturunkannya hasil karyanya. "Hal ini amat mengejutkan dan menyakitikan. Jika ini (terjadi di) China, maka penyensoran seperti ini adalah hal yang lumrah," kata Ko kepada France 24.
"Hasil karya ini bahkan tidak terlalu provokatif. Apa sih yang mereka takutkan? Mereka tidak punya keberanian moral, dan saya rasa mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan," tambah seniman tersebut.
Seniman China yang menuntut ilmu selama beberapa tahun di Perancis sebelum kembali ke China, turut ambil bagian dalam pameran yang diorganisir oleh lembaga pendidikan seni yang terletak di pusat kota Paris tersebut.
Ia mengatakan bahwa dirinya mendapat pemberitahuan mengenai pencopotan karya seni tersebut pada hari Jumat oleh kurator pameran tersebut, Clare Carolin, yang telah berusaha menghentikan pencopotan tersebut.
"Saya berasal dari China. Saya tidak percaya bahwa saya akan mengalami hal semacam ini di Perancis," kata Ko, seniman China berusia 32 tahun tersebut kepada AFP.
Ko kemudian menunjukkan sebuah pesan elektronik yang dikirimkan oleh Carolin. Dalam email tersebut, Carolin menuliskan bahwa dirinya telah dipanggil oleh direktur akademi tersebut, Henry-Claude Cousseau.
Cousseau mengatakan kepada Carolin bahwa hasil karya Ko "terlalu eksplosif" untuk tetap dipamerkan. Dia menambahkan bahwa sejumlah staf sekolah seni tersebut, ditambah dengan sejumlah staf kementerian pendidikan Perancis, merasa tersinggung, demikian tulis Carolin dalam emailnya.
Direktur sekolah seni tersebut juga mengatakan bahwa saat ini adalah masa-masa sensitif bagi sekolah tersebut karena sekolah tersebut tengah berupaya memperbaharui kesepakatan keuangan dengan kementerian pendidikan Perancis, demikian tulis Carolin.
Karena memiliki kepentingan dengan pemerintah Perancis, maka memamerkan karya seni yang menyinggung presiden tentu akan membahayakan kesepakatan sekolah tersebut dengan pihak pemerintah.
Sekolah tersebut mengatakan bahwa ketika dihubungi oleh France 24, pihaknya tengah mempersiapkan pernyataan mengenai kejadian tersebut. (dn/f24/bb) www.suaramedia.com
- Pemindai Tubuh Di Bandara Seret Inggris Dalam Dilema
- Komite Intelijen Inggris Tertipu Pengakuan Dokumen MI5
- Tragedi Peluru Karet Bikin Medvedev Rubah Aturan Senjata
- Singgung Pencurian Organ Haiti, Jubir Partai Inggris Dipecat
- Rayakan revolusi, Iran Dituding Halangi Siaran Media














