Sebuah truk pengeruk salju menabrak mobil Nissan Mistral yang dikemudikan oleh Letnan Polisi Anatoly Maurin di sebelah selatan Moskow pada bulan Desember tahun lalu. Ketika adu mulut semakin memanas, Letnan Maurin mengeluarkan pistolnya dan menembak kaki Vladimir Demidov, pengemudi truk keruk salju tersebut. Demikian menurut keterangan para penyidik.
Pistol yang dipergunakan oleh Letnan Maurin adalah sebuah senjata untuk membela diri yang banyak dipergunakan aparat Rusia, sebuah pistol gas yang menembakkan peluru karet dan hanya dimaksudkan untuk melumpuhkan orang-orang yang melakukan serangan, bukan untuk membunuh mereka. Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Peluru tersebut mengenai pembuluh arteri di kaki sang pengembudi truk. Letnan Maurin kemudian pergi dari lokasi kejadian dan Demidov mati kehabisan darah di lokasi penembakan, demikian menurut para penyidik.
Tragedi tersebut kembali menyoroti penyalahgunaan kekuasaan aparat kepolisian di Rusia. Namun kejadian tersebut mungkin juga hanya satu dari sekian banyak kekerasan yang terjadi beberapa bulan terakhir dengan menggunakan senjata berpeluru karet dan memaksa para pejabat tinggi Rusia untuk membendung peredaran senjata yang – semestinya – tidak mematikan tersebut.
Presiden Dmitry Medvedev memerintahkan menteri dalam negerinya untuk membatasi penjualan dan registrasi senjata berpeluru karet. Medvedev mengatakan bahwa peredaran senjata berpeluru karet "sudah tidak terkendali".
"Informasi dalam paspor seseorang dicatat, lalu apa yang terjadi dengan pistol tersebut sesudah itu, dimana pistol itu dipergunakan, dan konsekuensi apa saja yang diakibatkan, tidak ada yang tahu pasti," kata Medvedev.
Jumlah warga Rusia yang membeli senjata gas berpeluru karet semakin meningkat. Para aktivis pembela hak penggunaan senjata di Rusia mengatakan bahwa aparat kepolisian Rusia amat korup dan acuh sehingga warga Rusia harus mendapatkan pilihan untuk melindungi keselamatan mereka.
Ada sekitar 1,5 juta senjata berpeluru karet yang didaftarkan oleh 1,3 juta pengguna senjata di Rusia, demikian kata Vladimir Vedenov, kepala badan di Departemen Dalam Negeri rusia yang diserahi tanggung jawab atas lisensi senjata, dalam sebuah konferensi pers yang berlangung pekan lalu.
Tahun lalu saja, ada sekitar 21.000 senjata berpeluru karet yang telah dibeli dengan sah di Moskow. Jumlah tersebut meningkat dari rata-rata 15.000 hingga 18.000 senjata yang terjual pada tahun sebelumnya, demikian menurut keterangan kepolisian Moskow. Dari 547.000 senjata sah yang terdaftar di Moskow, setengahnya adalah senjata berpeluru karet.
Pada hari Rabu pekan lalu, Vedenov mengatakan bahwa Kementerian Dalam Negeri akan mendesak para anggota legislatif Rusia untuk merumuskan draf rancangan undang-undang yang menerapkan aturan yang lebih ketat terhadap pembelian dan registrasi senjata berpeluru karet, menyamakan aturan hukum pembelian senjata tersebut dengan senjata api biasa.
Pihak-pihak yang berseberangan dengan langkah tersebut mengatakan bahwa undang-undang yang diajukan tersebut terlalu berlebihan, karena pemeriksaan latar belakang dan evaluasi psikologi dan medis sudah diharuskan untuk pembelian senapan berburu dan senjata dengan peluru karet.
Dan prasyarat tersebut amat mudah dihindari, kata Alex, 28 seorang pemilik senjata di Moskow yang hanya memperkenankan nama depannya disebutkan. Yang diperlukan hanyalah uang.
Alex mengatakan bahwa dua tahun lalu, untuk dapat membeli senjata berpeluru karet yang terkenal dengan sebutan "Makarych", dibutuhkan surat-surat dari sebuah perusahaan yang beroperasi di jantung kota Moskow. Setelah membayar biaya tersebut, dirinya diharuskan untuk menjalani pemeriksaan oleh beberapa orang dokter, baru kemudian hasil pemeriksaan latar belakang dan medis diberikan.
"Satu-satunya orang yang bahkan berpura-pura memeriksa saya adalah sang psikiater," kata Alex. "Sementara yang lainnya bahkan melihat saya pun tidak."
"Pengaturan regulasi senjata berpeluru karet adalah hal yang penting, namun kuncinya adalah menghindari hal-hal ekstrem," kata Sergei Zainullin, deputi kepala Organisasi Warga Sipil Pemilik Senjata di Rusia, sebuah LSM advokasi.
"Senjata-senjata tersebut seharusnya tidak perlu diatur dalam hukum," kata Zainullin. "Anda tidak bisa begitu saja mewajibkan perizinan. Tapi juga harus ada peningkatan batasan pemerintahan."
Vedenov juga mengusulkan adanya kursus penggunaan senjata api sebagai persyaratan sebelum dapat membeli senjata. Zainullin mengatakan bahwa dirinya mendukung penuh usulan tersebut. "Orang harus belajar bagaimana cara menembak secara akurat, mereka juga harus lebih memahami cara membela diri dalam keadaan tertentu," kata Vedenov. "Karena jika hal itu tidak dilakukan, senjata tersebut berpotensi membahayakan penduduk sipil."
Sementaraa itu, Letnan Maurin telah ditangkap dan dikenai tuduhan serangan berbahaya yang mengakibatkan kematian Demidov. Jika terbukti bersalah, maka ancaman hukuman 15 tahun penjara menantinya.
Di hadapan Pengadilan Moskow, dia mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah atas tuntutan terhadap dirinya, ia juga menambahkan bahwa bukti-bukti yang dipergunakan untuk melawan dirinya "tidak lengkap" dia juga menyebut hal itu sebagai kesalahan penyidik, demikian diberitakan oleh kantor berita RIA Novosti. (dn/tn) www.suaramedia.com
- Kontroversi Jabatan Presiden Gul Sulut Perdebatan Turki
- Perancis Akui Gunakan Pasukannya Sebagai Percobaan Nuklir
- Tak Setujui Taktik Militer AS, Inggris Didepak Dari Misi Fallujah
- Pemindai Tubuh Di Bandara Seret Inggris Dalam Dilema
- Komite Intelijen Inggris Tertipu Pengakuan Dokumen MI5














