Kamis, 24 Mei 2012

Headlines:

Saakashvili: Jual Beli Kapal Perancis Goyahkan Stabilitas kaukasus

E-mail Cetak PDF

TBILISI (Berita SuaraMedia) – Presiden Georgia, Mikhail Saakashvili, mengecam rencana Perancis yang berkeinginan untuk menjual kapal perang ke Rusia. Para kritikus yang menentang kesepakatan tersebut menyoroti betapa negara-negara kuat Eropa berlindung di balik bekas negara Uni Soviet.

Rencana penjualan tersebut semakin merenggangkan hubungan antara Georgia dan Perancis, meski Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, pernah menjadi perantara gencatan senjata yang mengakhiri perang lima hari antara Georgia dan Rusia pada bulan Agustus 2008.

Saakashvili mengatakan bahwa kesepakatan penjualan kapal perang yang "tidak biasa dan amat berisiko" tersebut dapat dipandang sebagai "penghargaan" Moskow untuk Perancis karena tidak memaksa Rusia untuk sepenuhnya tunduk pada seluruh persyaratan dalam gencatan senjata tersebut. Georgia menuding Rusia memang sengaja tidak segera menarik mundur pasukannya untuk mengantisipasi pecahnya perang lanjutan, namun tuduhan tersebut dibantah oleh Moskow.

Ketika dimintai keterangan, seorang diplomat Perancis menolak memberikan komentar, ia hanya mengatakan bahwa Perancis sama sekali belum menandatangani kontrak penjualan kapal kepada Rusia.

Negosiasi Rusia untuk membeli kapal angkut helikopter jenis Mistral yang mampu mengangkut beban seberat 21.300 metrik ton memperlihatkan dorongan untuk memperbaharui kekuatan militernya.

Dalam konflik dengan Georgia, terungkap bahwa perlengkapan perang era Soviet yang masih dipergunakan Rusia menjadi titik lemah militer negeri beruang merah tersebut. Angkatan Laut Rusia tidak memiliki kapal sekelas Mistral yang mampu melakukan pendaratan amfibi berskala besar.

Namun kesepakatan tersebut memantik kekhawatiran dari sejumlah negara tetangga Rusia dan menimbulkan disharmonisasi antara Perancis dan sejumlah negara sekutunya. Sarkozy mempertahankan keputusan penjualan tersebut, ia mengatakan: "Tidak ada yang dapat mengharapkan Rusia bertindak sebagai mitra jika kita tidak memperlakukan (Rusia) seperti mitra."

Namun, negara-negara Baltik menyampaikan peringatan, karena penjualan perlengkapan perang besar semacam itu dapat merusak keseimbangan kekuatan di wilayah yang bersangkutan.

Seorang juru bicara Pentagon bulan ini mengatakan bahwa "kawan dan sekutu" AS di Eropa Timur "memiliki alasan kuat" untuk mengkhawatirkan kesepakatan tersebut.

Kapal perang Mistral adalah sebuah kapal raksasa yang mampu mengangkut tank dan helikopter. Jika ditempatkan di Laut Hitam, kapal jenis tersebut berpotensi semakin mengukuhkan dominasi Rusia di wilayah Kaukasus.

Laksamana Vladimir Vysotsky, komandan Angkatan Laut Rusia, tahun lalu mengatakan bahwa dengan tambahan kapal semacam itu, maka Armada Laut Hitam Rusia dapat memenangkan perang melawan Georgia dalam waktu hanya 40 menit, bukan 26 jam.

Rusia telah menempatkan ribuan orang pasukan di Ossetia Selatan dan Abkhazia, negara pecahan Georgia lainnya. Pekan ini, Rusia menandatangani kesepakatan untuk membangun pangkalan militer permanen di Abkhazia.

Kepada para wartawan di London, di sela-sela pertemuan dengan para pejabat pemerintahan Inggris, Saakashvili mengatakan bahwa jika Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin memperoleh teknologi tank, kapal, peluru kendali, "Maka kita berada dalam situasi yang amat sangat berisiko."

Ia menambahkan bahwa secara tidak resmi, Georgia telah "saling bertukar pendapat" dengan Perancis mengenai penjualan kapal perang tersebut, namun tidak melayangkan protes secara resmi.

Perusahaan Perancis, Panhard General Defense SA, produsen kapal tersebut, mengatakan bahwa pembicaraan mengenai kesepakatan tersebut baru dilakukan dalam tahapan awal. Panhard membantah bahwa tambahan kapal Mistral dapat meningkatkan kemampuan serangan Rusia. Panhard menambahkan bahwa kapal perang tersebut umumnya dipergunakan oleh pasukan Perancis dalam operasi penjaga perdamaian.

Jika dirampungkan, kesepakatan penjualan kapal perang tersebut merupakan kali pertama sebuah negara anggota NATO menjual teknologi militer canggih kepada Rusia. Hal tersebut seakan menjadi durian runtuh bagi galangan kapal Saint-Nazarine, yang merakit kapal jenis Mistral. Pemilik galangan kapal tersebut, perusahaan produsen kapal asal Korea elatan, STX Europe AS, tahun lalu mengumumkan bahwa pihaknya memberhentikan 351 orang karyawan karena minimnya jumlah pesanan kapal.

Sarkozy merestui penjualan satu unit kapal perang kepada Rusia, namun Angkatan Laut Rusia menginginkan tambahan tiga unit kapal perang untuk dirakit di galangan kapal Rusia. Perancis tengah mempelajari permintaan tersebut, keputusan final Perancis akan keluar dalam waktu beberapa minggu ke depan. (dn/kc) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon