Perdana Menteri Inggris tersebut semakin gencar menyerang lawan politiknya mengenai defisit anggaran Inggris pada saat masalah ekonomi terus mendominasi persaingan jelang pemilihan umum.
Pengeluaran pemerintah melebihi pemasukan dari pajak penghasilan. Selisihnya mencapai £170 miliar tahun ini. Jumlah tersebut melebihi 12 persen nilai produk domestik bruto negara, dibandingkan dengan defisit anggaran Yunani yang mengakibatkan negara tersebut dibeli krisis keuangan.
Para investor khawatir jika Inggris mengalami krisis serupa yang menghantam mata uang poundsterling dan mendorong penjualan surat utang negara.
Partai Tory mengatakan bahwa pengeluaran publik tahun ini harus dipangkas untuk memperkecil jumlah defisit. Dalam pidatonya yang disampaikan di kota London, Brown menampik rencana tersebut. Ia bersikeras bahwa menjaga jumlah pengeluaran publik adalah hal yang vital dalam pemulihan ekonomi.
Brown berkata, "Mitos besar yang disebarkan oleh kawan-kawan media mereka (kubu konservatif) menyebutkan bahwa pemerintahlah yang jadi penyebab krisis ini, dan bahwa pengeluaran pemerintah semakin memperpanjang krisis yang terjadi."
Perdana Menteri Inggris tersebut menambahkan: "Mereka berusaha menakut-nakuti kami dengan tingkat defisit yang terjadi saat ini, tapi mereka tidak menyebutkan mengenai pemangkasan otomatis yang akan dicapai pada saat pertumbuhan terus dilanjutkan, atau dampak-dampak dari pertumbuhan terhadap kepercayaan para penanam modal demi kepentingan masyarakat."
Pertanyaan mengenai pemangkasan defisit menjadi pembeda utama antara Partai Buruh dan Partai Tory mengenai situasi perekonomian Inggris. Hal tersebut juga diperkirakan akan mendominasi perdebatan dalam kampanye pemilihan umum yang akan segera berlangsung.
Dalam dua surat terpisah yang dipublikasikan kemarin lusa, tercatat ada lebih dari 60 ekonom yang mengkritik rencana Tory untuk memangkas pengeluaran. Mereka mengatakan: "Prioritas utama adalah mengembalikan tingkat pertumbuhan penduduk." Para ekonom juga memperingatkan mengenai "kejutan tajam" yang "membahayakan".
Peringatan tersebut disampaikan menyusul dikeluarkannya surat serupa pada awal pekan ini dari kelompok akademisi pesaing mereka yang mendukung pendekatan-pendekatan kubu konservatif.
Partai Buruh memuji dukungan yang diberikan para ekonom tersebut. Akan tetapi, belakangan diketahui bahwa tujuh orang ekonom yang menandatangani surat untuk Partai Buruh tersebut juga menjadi bagian dari 364 orang yang mengklaim bahwa anggaran Baroness Thatcher pada tahun 1981 "tidak punya dasar dalam ilmu ekonomi".
Diantaranya adalah Lord Peston, seorang pendukung Paratai Buruh yang juga merupakan guru besar emeritus bidang ekonomi di Queen Mary, Universitas London.
Dalam anggaran tahun 1981 tersebut Thatcher dan menterinya, Geoffrey Howe, menaikkan pajak secara dramatis untuk memangkas tingkat pinjaman negara. Ratusan orang ekonom menandatangani surat dan bersikeras bahwa tindakan tersebut akan semakin memperparah krisis keuangan serta mengancam stabilitas sosial politik.
Akan tetapi, keadaan ekonomi justru berangsur membaik, bertentangan dengan prinsip ekonomi tradisional kala itu dan mempermalukan para ekonom.
Orang-orang yang sama-sama menandatangani surat pekan ini dengan surat tahun 1981 adalah: Profesor Marcus Miller dan Profesor Dennis Leechdari Universitas Warwick, Profesor Rick van der Ploeg dari Oxford, Profesor Malcolm Sawyer dari Leeds, dan Profesor Phil Murphy dari Universitas Swansea.
Surat pro Partai Buruh pekan ini muncul untuk menandingi surat yang disampaikan pekan lalu, ditandatangani 20 orang ekonom terkemuka yang menyerukan dilakukannya "rencana terpercaya" untuk mengurangi tingkat pengeluaran pemerintah, mendukung kebijakan kubu konservatif.
Untuk mendiskreditkan surat pekan lalu, Lord Mandelson menyerang kebijakan komite moneter Bank of England yang justru menjerumuskan Inggris ke dalam jurang resesi. (dn/tg) www.suaramedia.com














