Sunday Times, mengutip keterangan sebuah sumber yang dirahasikan identitasnya, mengatakan bahwa Meir Dagan, pemimpin Mossad mempersilakan Netanyahu untuk bertandang ke markas Mossad. Di markas tersebut, Meir Dagan memberi penjelasan singkat kepada Netanyahu tentang rencana untuk membunuh Mahmoud al-Mabhouh, pemimpin Hamas yang sedang menginap di sebuah hotel di Dubai.
Netanyahu dilaporkan memberi wewenang kepada Mossad untuk menjalankan pembunuhan tersebut. Rencana pembunuhan terhadap Mabhouh sendiri dianggap tidak rumit dan tidak riskan.
"Biasanya untuk hal semacam itu, perdana menteri mengatakan: "Rakyat Israel mempercayai kalian. Semoga beruntung," tulis harian dari Inggris tersebut.
Sunday Times juga melaporkan adanya luka bekas senjata listrik pada tubuh Mabhouh. Ada pula bekas darah di hidung, kemungkinan akibat Mabhouh dicekik.
Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan keprihatinan sehubungan dengan penyalahgunaan paspor Eropa dalam pembunuhan Mabhouh. Demikian kata menteri luar negeri UEA pada hari Minggu (21 Februari 2010).
"UEA sangat prihatin dengan kenytaaan bahwa paspor dari negara-negara sahabat dekat, yang warga negaranya menikmati hak bebas visa, digunakan secara ilegal untuk melakukan pembunuhan." Demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh pejabat UEA sebagaimana dikutip oleh kantor berita WAM.
Menteri Negara untuk Urusan Luar Negeri UEA, Dr Anwar Gargash, telah mengundang para duta besar negara-negara Uni Eropa agar berkunjung ke UEA guna mendapat penjelasan seputar perkembangan kasus Mabhouh. UEA pun berharap dapat melanjutkan kerjasama dalam penyelidikan.
"Penyalahgunaan paspor menunjukkan adanya sebuah ancaman global yang mempengaruhi keamana nasional maupun keamanan pribadi pelaku perjalanan," kata Menteri Luar Negeri Sheikh Abdullah bin Zayed al-Nahayan kepada WAM.
"Kami sepenuhnya menginginkan pihak yang bertanggung-jawab diatangkap atas tindakan mereka," kata al-Nahayan.
Pembunuhan terhadap Mabhouh telah mengakibatkan munculnya ketegangan diplomatik antara Israel dan empat negara Eropa, yaitu Inggris, Irlandia, Prancis, dan Jerman. Sebab, tim pembunuh Mabhouh memanfaatkan identitas palsu dari keempat negara tersebut.
Interpol telah mengeluarkan surat penangkapan terhadap 11 orang tersangka pembunuh Mabhouh. Sementara, Israel tidak memberi tanggapan terhadap himbauan untuk menangkap Meir Dagan atas pembunuhan terhadap Mabhouh yang terjadi pada tanggal 20 Januari lalu.
Pada hari Sabtu (20/02), Deputi Menteri Luar Negeri Israel Danny Avalon berkeras bahwa tak akan muncul krisis dalam hubungan dengan Eropa terkait penyalahgunaan paspor luar negeri dalam pembunuhan Mabhouh. Sebab, menurut Ayalon, Israel tidak memiliki sangkut-paut apa pun dengan pembunuhan tersebut.
"Kepolisian Dubai tidak memiliki bukti yang menunjukkan kejahatan," kata seorang pejabat senior Israel pada hari Jumat (19/02) yang meminta agar identitasnya dirahasiakan.
Sebaliknya, kepala polisi Dubai, Dahi Khalfan, mengatakan bahwa "kemungkinan besar" Mossad berada di balik pembunuhan Mabhouh dan Dagan merupakan pihak yang bertanggung-jawab. Menurut Khalfan, ia yakin, "99 persen, jika bukan 100 persen" bahwa para agen Mossad berada di balik pembunuhan Mabhouh.
Khalfan menyatakan pada hari Sabtu bahwa Dubai menyimpan bukti keterlibatan Mossad, termasuk bukti berupa sadapan percakapan.
"Terdapat informasi yang untuk sementara tidak akan diungkapkan kepolisian Dubai kepada publik, terutama yang berkaitan dengan paspor diplomatik yang digunakan oleh tim pembunuh Mabhouh untuk memasuki Dubai", kata Khalfan kepada Al-Bayan.
Pembunuhan Mabhouh bukan lagi isu lokal, namun sudah merupakan isu negara-negara Eropa. Demikian kata Khalfan pada hari Minggu sebagaimana dikutip oleh harian Dubai, Al-Ittihad.
Menurut Al-Itihad, Khalfan telah memanggil Hamas demi pelaksanaan penyelidikan atas "orang yang membocorkan informasi tentang pergerakan Mabhouh" dan informasi kedatangan Mabhouh di Dubai kepada tim pembunuh. (es/meo/ab) www.suaramedia.com














