Kamis, 24 Mei 2012

Headlines:

Berita Palsu Serbuan Rusia Sulut Kepanikan Rakyat Georgia

E-mail Cetak PDF

TBILISI (Berita SuaraMedia) – Jika salah satu saluran berita utama di negara Anda mengabarkan bahwa negara Anda tengah diserbu dan presiden Anda dibunuh, tanpa ragu pastilah Anda akan merasa ketakutan setengah mati. Di Georgia, hal tersebut lah yang tengah terjadi.

Pada Sabtu malam (13/03), salah satu saluran TV Georgia melaporkan pemberitaan keliru yang menyebabkan rasa panik yang teramat di negara tersebut.

Menurut "berita" tersebut, Rusia tengah kembali menyerbu Georgia setelah sebuah "serangan teror" yang ditujukan terhadap presiden republik Ossetia Selatan, Eduard Kokoity. Laporan juga menyebutkan bahwa Presiden Gerogia, Mikhail Saakashvili dan pemerintahannya telah berhasil ditumbangkan.

Selama beberapa menit, sumber berita memberitahukan mengenai kematian Saakashvili serta pembentukan pemerintah baru yang dikepalai oleh salah satu tokoh oposisi pemerintah Saakashvili, Nino Burdzhanadze.

Laporan tersebut, yang disiarkan kurang dari setengah jam, juga menggambarkan mengenai bombardir yang mengerikan di langit dan laut negara tersebut. Dan ketika berada di penghujung berita, diberitakan bahwa "kisah mengerikan" tersebut hanyalah kemungkinan yang dapat terjadi yang dirangkum dalam "sebuah laporan khusus" yang disampaikan pembawa acara Imedi TV.

Di awal penayangannya, telah diperingatakan bahwa program tersebut akan menunjukkan serangkaian kejadian yang hanya terjadi bila rakyat Georgia tidak menyatukan diri melawan rencana Rusia.

Akibat penayangan tersebut, seluruh negeri menjadi panik. Rakyat Georgia mulai menghubungi satu sama lain, dan studio TV berlomba-lomba mencari tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi, ujar kantor berita RIA Novosti.

Kantor berita Interfax melaporkan bahwa beberapa media lokal mengatakan beberapa orang juga memanggil ambulan untuk bantuan.

"Laporan mengenai adanya serangan jantung juga meningkat," ujar seorang sumber berita Georgia.

Selain warga sipil, laporan tersebut juga membuat panik para tokoh politik dan agama.

Belasan tokoh oposisi dan pendeta berkumpul di depan kantor berita Imedi TV di Tbilisi untuk menuntut permintaan maaf atas pemberitaan tersebut, Interfax melaporkan.

"Sejauh yang saya tahu, Presiden (Saakashvili) juga mengetahui mengenai persiapan akan pemberitaan ini, yang berarti dia tak peduli akan akibat yang terjadi pada rakyat Georgia," ujar salah satu pemimpin oposisi, Zurab Abashidze.

Beberapa jam setelah pemberitaan itu diudarakan, Imedi akhirnya menyampaikan permintaan maafnya atas penayangan tersebut.

"Kami meminta maaf atas laporan kami yang menyebabkan kepanikan terhadap masyarakat," kata pernyataan tersebut.

"Saya yakin bahwa provokasi yang terjadi pada hari ini dipelopori oleh rezim pemerintahan, oleh Mikhail Saakashvili," Kosachev mengatakan dalam sebuah wawancara dengan TV Channel One.

Dia menekankan bahwa Imedi TV, yang sebelumnya menentang sang presiden, kini telah berada di bawah kendali pemerintahan Georgia.

Menurut Kosachev, pemerintah Georgia terus meningkatkan ketegangan antara Rusia dan Ossetia Selatan sebagaimana yang pernah mereka lakukan sebelum perang pada Agustus 2008.

"Kami akan menarik perhatian komunitas internasional atas provokasi ini," ujar Kosachev.

November tahun lalu, Sebuah saluran televisi berbahasa Rusia sedang mengudara di Georgia, penargetan etnis minoritas di wilayah Kaukasus. Pengamat Rusia sudah memprediksi bahwa saluran itu akan menjadi alat propaganda Georgia.

Didirikan dan dimiliki oleh Georgia Public Broadcasting, outlet itu akan tersedia tidak hanya di Georgia, tetapi di negara-negara lain di kawasan itu juga - termasuk Rusia. Pemirsa akan dapat mendengarkan melalui satelit dan online.

Saluran ini diharapkan akan mulai penyiaran tahun depan.

Hubungan Rusia dengan Georgia telah berada di titik terendah sejak konflik Ossetia Selatan, dan beberapa mengatakan saluran itu akan bertentangan dengan media Rusia.

Sergey Mikheev, analis politik mengatakan kepada Russia Today: "Saya pikir dengan mengingat suasana hati  pemerintah kita, siaran itu akan mempunyai banyak program propaganda anti-Rusia. Mungkin akan berubah suatu hari, tetapi untuk sekarang kita dapat memperkirakan banyak akan terjadi di Ossetia Selatan dan Abkhazia, dan juga di Kaukasus Utara milik Rusia, karena akan digunakan untuk membangkitkan pikiran penduduk setempat di Kaukasus Utara." (al/rt/sm) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon