"Saya rasa pemerintah pusat tidak benar-benar mengatasi masalah kesejahteraan sosial, misalnya saja dalam hal lapangan pekerjaan," kata Patricia Abela, 41, seorang pekerja asuransi, kepada kantor berita Agence France Presse (AFP) setelah memberikan suara kepada kubu Sosialis di barat daya Perancis.
Warga Perancis memberikan suara dalam pemilihan dua ronde yang digelar untuk memilih 1.880 orang anggota parlemen untuk 26 majelis regional, yang bertanggung jawab atas sector transportasi regional, pendidikan sekunder, dan perkembangan ekonomi setempat.
Jumlah peserta yang datang tidak banyak, sejalan dengan prediksi para pemilih. Dalam hasil tersebut, terlihat bahwa para pemilih kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan para politisi dalam mengatasi krisis tahun 2008-2009.
Jumlah pemilih keseluruhan tidak sampai menyentuh 40 persen pada pukul 16.00 GMT, demikian menurut keterangan Kementerian Dalam Negeri Perancis.
Kubu Sosialis, yang mengendalikan 20 kawasan di Perancis, diperkirakan akan meraih kemenangan terbesar dalam pemilihan umum tersebut.
Kubu Sosialis bahkan mungkin dapat meraih "grand slam", istilah yang dipergunakan pemimpin Sosialis, Martin Aubry, dengan mengendalikan seluruh (26) wilayah.
Hasil pemilihan pada hari Minggu tersebut akan disusul oleh ronde kedua pada tanggal 21 Maret mendatang, ketika dua partai yang mengumpulkan suara terbanyak di masing-masing wilayah akan dihadapkan dalam babak penentuan.
Christine Eluard, pengasuh anak berusia 47 tahun, memberikan suaranya untuk kandidat setempat yang berasal dari Partai Pergerakan Popular (Union pur un Mouvement Populaire – UMP) Sarkozy.
Namun, ia mengatakan bahwa pemilihan tersebut lebih merupakan "pemilihan kritikan" terhadap para pemimpin Perancis.
Gelombang penolakan tumbuh semakin pesat terkait berbagai kebijakan Sarkozy dalam upaya menangani ekonomi yang lemah dan semakin tingginya angka pengangguran, yang meningkat di atas 10%, karena pada tahun 2009, angka pengangguran nyaris menembus tiga juta orang.
Ketegangan sosial juga amat terasa.
Debat public pemerintah mengenai "identitas nasional" telah memicu sensitivitas ras dan banyak dikecam karena dipandang sebagai sebuah proyek pemecah belah yang melekatkan stigma kepada para imigran.
Pemilihan regional tersebut merupakan uji pemilihan terakhir Sarkozy sebelum perhelatan pemilihan umum pada tahun 2012 mendatang.
"Keseimbangan kekuatan amat condong ke kiri," kata Frederic Dabi, seorang direktur lembaga pemilihan IFOP, yang memprediksikan bahwa UMP akan mengalami kekalahan telak.
"Itu hanya sebuah pemilihan regional, namun pada tanggal 21 Maret, hasilnya akan berpengaruh terhadap kampanye calon presiden."
Banyak pihak memandang pemilihan regional sebagai sebuah referendum tidak resmi terhadap berbagai kebijakan yang diambil Sarkozy, menjelang pemilihan presiden Perancis yang akan datang.
"Jarang ada pemilihan regional yang bersifat nasional," tulis harian sayap kiri Liberation dalam kolom editorialnya pada hari Sabtu.
"Pemilihan itu adalah yang terakhir sebelum pemilihan presiden tahun 2012. (Hasil pemilihan) itu dapat mengubah peta politik Perancis."
Para analis memprediksikan bahwa peta politik Perancis akan condong ke arah kiri, hal itu terjadi karena kebijakan Sarkozy yang cenderung memprioritaskan sayap kanan.
"Yang menjadi factor kunci adalah para pemilih dari kalangan Kristen Demokrat, mereka yang biasanya memihak ke kanan kini mengalihkan dukungan ke kiri," kata Olivier Ferrand dari lembaga think tank sayap kiri, Terra Nova, kepada Kantor Berita BBC News Online.
"Hal itu terjadi karena UMP di bawah kepemimpinan Sarkozy telah mengambil jalan yang lebih keras dan bergeser ke kanan untuk mendapatkan dukungan Front Nasional, kalangan pemilih ekstrem kanan. Akibatnya, kalangan Kristen Demokrat pun tidak mengikuti, kini mereka pindah haluan ke kiri." (dn/io) www.suaramedia.com
- Kontroversi Tentara Yahudi Nazi Hiasi Peringatan Riga
- Libatkan Dubes Inggris, Berita Palsu Georgia Menuai Badai
- Penyelidikan Militer Turki Ubah Bukti Jadi "Secarik Kertas"
- Bersatu, Eropa Lumpuhkan Jaringan Mafia Benua Biru
- Ikuti Langkah Blair, Brown Lakukan Strategi Masochisme














