Clinton berpidato di depan para tamu yang menghadiri konferensi di Krakow, Polandia yang bertajuk "Masyarakat Sipil Mendukung Demokrasi pada abad 21."
Dalam pidatonya tersebut, Clinton menyatakan sebuah jangkauan negara-negara yang mana "tembok-temboknya menutup" pada organisasi-organisasi sipil seperti persatuan, kelompok keagamaan, advokasi hak azazi manusia dan organisasi non kepemerintahan yang lainnya yang menekankan pada perubahan sosial dan menyoroti kelemahan pemerintahan.
Diantara negara-negara tersebut, ia menyebutkan Zimbabwe, Republik Demokrasi Kongo, Ethiopia, Mesir, Iran, Venezuela, China dan Rusia.
"Beberapa dari negara-negara tersebut menggunakan sikap semacam itu masih mengklaim dirinya sebagai negara demokrasi," Clinton mengatakan dalam konferensi internasional promosi demokrasi dan hak azazi manusia tersebut. "Demokrasi tidak takut akan rakyat mereka sendiri. Mereka mengenali bahwa warga negara harus bebas untuk bekerja sama, mendukung, dan berbaur."
Clinton mempertahankan bahwa banyak pemerintahan di daerah tersebut melanjutkan untuk mengambil jalan mengintimidasi secara khusus mereka yang datang dari politik oposisi terutama mereka dari blok Persaudaraan Muslim.
Praktik legal yang dapat dipertanyakan, pelarangan pada pendaftaran Oraganisasi Non-Kepemerintahan (Non-Goverment Organisation – NGO) dan upaya-upaya untuk membungkam para blogger mengilustrasikan bahwa demokrasi bebas tidak terlihat seperti yang diklaimkan juga tersebar luas. Perhatian tertentu dibawa kepada pelarangan rezim dan peraturan di Mesir dimana masyarakat sipil Mesir yang bersemangat telah sering terfokuskan oleh tekanan pemerintah.
Tindakan-tinadakan seperti konferensi yang dibatalkan, melecehkan panggilan telepon, ancaman-ancaman yang sering terjadi yang mana pemerintah dapat meutup oragnisasi tersebut dan bahkan penahanan yang tak terbatas, hukuman penjara jangka panjang dan pengasingan terbukti terjadi.
Clinton menegaskan bahwa AS mendukung upaya-upaya untuk mendorong masyarakat sipil dunia menekankan bahwa AS akan bekerja sama dengan organisasi regional termasuk Liga Arab, Persatuan Eropa, dan Liga Afrika untuk menjamin kebebasan asosiasi. Ia menekankan bahwa "kebebasan asosiasi adalah satu-satunya kebebasan yang terbatasi di deklarasi hak azazi manusia PBB yang tidak memiliki perhatian spesifik dari perlengkapan PBB."
Bahi el-Din Hassan, direktur Pusat studi Hak Aazazi Manusia Kairo, menyatakan bahwa ia menganggap pidato Clinton sebagai sebuah pesan bagi rezim Mesir menyetujui bahwa rezim tersebut telah benar-benar melewati batas." Hassan melanjutkan bahwa sebuah konferensi pada Jum'at, diminta oleh Anugerah Carniege untuk Perdamaian Internasional di Washington DC, menunjukkan kutukan-kutukan berat pada situasi politik Mesir yang memburuk dan pelarangan tempat sehari-hari bagi NGO negara tersebut."
Pidato Clinton tersebut datang pada sebuah acara pembukaan perayaan ke-10 dari pendirian Komunitas Demokrasi yang memiliki 16 anggota dan dimaksudkan untuk memimpin konsensus internasional dalam jalan untuk mendukung dan mempromosikan demokrasi. (ppt/iw/yh) www.suaramedia.com
- Cameron Rilis Panduan Baru "Tangani" Tersangka Teror
- Sarkozy Bantah Dana Kampanye Ilegal Wanita Terkaya
- Pengangkatan Uskup Gay, Awal Terpecahbelahnya Gereja Inggris
- Interpol Ajak Pengguna Facebook Buru Buronan Internasional
- Menteri Rusia Lepas Tangan Atas Insiden Misterius Siberia














