Sumber-sumber militer mengungkapkan bahwa sejumlah prajurit Taliban yang bersenjatakan peluncur roket bahu tahu helikopter mana yang ditumpangi Cameron saat ia berkunjung ke sebuah pangkalan militer di Provinsi Helmand.
Dari saluran komunikasi gerilyawan yang disadap, diketahui bahwa mereka berkeinginan menembak jatuh helikopter Chinook yang membawa "Komandan Besar."
Perjalanan itu pun langsung dibatalkan setelah mata-mata NATO mencuri dengar pembicaraan sebuah unit pasukan Taliban di dekat markas yang membicarakan mengenai penembakan helikopter dalam sebuah panggilan kedua sesaat setelahnya yang mengungkapkan mengenai adanya tokoh VIP di kawasan tersebut.
Kini dilakukan peninjauan darurat terkait keamanan perdana menteri saat berkunjung ke zona perang.
Para pejabat Downing Street (kantor PM) membantah kejadian serupa kala Cameron pertama mengunjungi zona perang pada bulan Juni lalu, namun agensi berita Daily Mail mengetahui bahwa Taliban nyaris berhasil dalam upaya membunuh Cameron dibandingkan dengan yang diungkapkan sebelumnya.
Seorang sumber senior mengatakan, "Ada dua helikopter (yang terbang), dan mereka berencana menembak yang kedua, yang dinaiki perdana menteri."
"Entah mereka beruntung atau tahu helikopter mana yang dijadikan sasaran, dan hal itu yang dikhawatirkan. Tidak ada yang mau mengambil risiko. Ada tinjauan keamanan besar yang dilakukan."
Sejak kejadian itu pertama kali dilaporkan, dokumen militer bocor yang dirilis situs WikiLeaks mengungkapkan bahwa Taliban dipersenjatai dengan peluru kendali pendeteksi panas yang mampu menjatuhkan pesawat pasukan koalisi, sebuah hal yang sebelumnya dibantah oleh para pejabat NATO.
Kala itu, para perwira militer mengatakan bahwa helikopter sang perdana menteri berbalik dari pangkalan di dekat Lashkar Ghar saat tinggal berjarak 10 menit penerbangan.
"Bahkan, kini bisa diungkapkan bahwa helikopter tersebut nyaris saja masuk ke jarak embak peluru kendali.
"Hal itu jauh lebih dekat dibandingkan yang dikatakan orang kala itu," aku sang sumber.
Para pejabat yakin bahwa publikasi yang dilakukan menjelang kunjungan Cameron memberi waktu bagi Taliban untuk mempersiapkan upaya pembunuhan tersebut dan menyatukan potongan-potongan data intelijen dari para pendukung di militer dan kepolisian Afghanistan.
Saat Cameron mengunjungi para prajurit di garis depan, ia sudah melakukan telekonferensi dengan Presiden Afghanistan Hamid Karzai yang ditayangkan televisi, membuat Taliban mengetahui kehadirannya.
Para komandan senior militer ingin meminimalkan bahaya bagi Cameron dengan tidak berfoto di zona perang.
Para jenderal ingin menerapkan strategi diam di media saat perdana menteri datang berkunjung ke Afghanistan hingga perjalanan berakhir, keinginan itu ditolak oleh para ajudan di Downing Street.
"Harus tetap ada kompromi," kata salah satu pejabat senior Partai Tory. Ketika Menteri Pertahanan Liam Fox datang ke Afghanistan bulan lalu, rincian kunjungannya baru dirilis setelah Fox meninggalkan lokasi.
Dalam kunjungan terakhirnya, Cameron hanya terbang ke selatan ke Camp Bastion di Provinsi Helmand setelah tayangan berita membongkar kehadirannya.
Kunjungan ke markas di garis depan merupakan peristiwa besar dalam jadwal Cameron. Ia kemudian menginap semalam di Bastion.
"Di masa mendatang, ia mungkin akan mendahulukan garis depan, dan kedatangannya di negara itu tidak akan disebarluaskan hingga ia tidak lagi terancam," kata seorang perwira militer.
Kemarin malam, seorang juru bicara Downing Street mengatakan, "Kami tidak mengomentari isu-isu keamanan." (dn/dm) www.suaramedia.com
- Dalam Wawancara Perdana, Blair Siap "Hancurkan" Brown
- Rekaman Ungkap Kardinal Belgia Bungkam Korban Pelecehan
- Ribuan Pekerja Asing Terjerumus Perbudakan Inggris
- Jasad Agen Rahasia Inggris Dalam Tas Meninggalkan Misteri
- Mana Yang Disayangi Blair, Anak Atau Blackberry?














