Mantan perdana menteri yang saat ini menjadi utusan Timur Tengah tersebut juga membantah dalam wawancara itu bahwa bisnisnya di London akan menjadi alat penyimpanan orang-orang kaya, ia juga tidak menyesalkan kegagalan kampanye menjadi presiden Uni Eropa.
Menurut situs kabar bisnis berbahasa Ibrani, Calcalist, Blair (57) mengatakan bahwa perangkat Blackberrynya menjadi dunianya. Begitu terikatnya ia dengan peranti tersebut sampai-sampai putranya bertanya kepadanya, siapa yang lebih disayangi, telepon itu atau sang putra.
"Saat ini, Blackberry adalah segalanya bagi saya. Begitu berartinya hingga suatu hari Leo bertanya pada saya, 'Ayah, siapa yang lebih kau sayangi, aku atau telepon?'" kata Blair seperti dikutip kantor berita Daily Mail.
"Tapi, untuk saat ini saya tidak punya pilihan kecuali selalu terhubung dengan perangkat itu sepanjang waktu. Alat ini menjadi cara agar saya tetap bisa berhubungan dengan rumah ketika saya ada di sini," katanya.
"(Blackberry) ini bahkan memungkinkan saya melakukan apa yang saya lakukan, bepergian keliling dunia dan tetap terhubung dengan rumah," tambahnya.
Meski bepergian keliling dunua, Blair mengaku tetap berperan dalam masa pertumbuhan putra bungsunya di kediaman sekaligus kantornya saat menjadi perdana menteri dulu, Downing Street nomor 10.
"Oh, saya sangat terlibat. Leo adalah berkah, betul-betul hadiah dari Tuhan, dan meski saya sangat bahagia saat dia lahir ke dunia, saya juga cukup dewasa untuk memahami itu. Saya mengganti popok, membacakan cerita sebelum tidur," tutur Blair.
"Pengalaman menjadi bapak amat berbeda, dan itu bukan karena saya dulu perdana menteri, melainkan karena Cherie (istri Blair) dan saya memiliki anak di umur yang bisa dibilang tua, yaitu saat saya berusia 47," kata Blair.
"Saat saya masih menghuni (rumah) nomor 10, saya lebih sering melihatnya (Leo) karena kami semua tinggal bersama di satu atap. Sekarang, saya lebih sering bepergian, dan oleh karena itu kontak dengan dia lebih sulit," tambahnya.
Tapi, Blair mengaku tidak punya niatan berhenti. Ia mengaku bekerja lebih keras saat ini dibanding dengan 10 tahun masa jabatannya sebagai perdana menteri. Blair juga mengatakan bahwa dirinya kini lebih mudah berkonsentrasi mengenai berbagai hal yang menarik perhatiannya karena ia tak lagi harus menjalankan sebuah negara.
"Saya senang dengan peranan yang diberikan kepada saya oleh Kuartet, dan juga dengan kesempatan membantu menyelesaikan konflik yang di satu sisi sangat meledak-ledak dan di sisi lain solusinya amat sederhana dalam pandangan saya, dua negara untuk dua masyarakat," kata Blair.
Meski peranan diplomatiknya berakhir, Blair mengaku tidak berniat menghentikan kehidupan publiknya.
Namun, karena bisnis barunya di London memantik kontroversi, Blair membantah bahwa bisnis tersenit akan menjadi semacam bank bagi orang amat kaya.
"Saya tidak tertarik mengelola uang orang lain," kata Blair. "Saya bukan bankir investasi, dan hal itu bukan sesuatu yang saya lakukan atau ingin saya lakukan."
Blair tidak tampak kecewa dengan kegagalan menjadi presiden Uni Eropa, seperti yang diprediksikan sebelumnya.
"Menjadi presiden Eropa tentu akan luar biasa. Tapi, tampaknya hal itu tidak akan terjadi," papar Blair.
"Lagipula, bahkan saat ini saya tidak bisa menghabiskan waktu bersama keluarga sebanyak yang saya inginkan. Jadi, saya ingin mencurahkan energi dan waktu saya yang ada untuk mereka," pungkasnya.
Blair sempat menuai kontroversi dengan buku memoarnya baru-baru ini. Para pengunjuk rasa yang menentang perang Irak telah menjanjikan imbalan £30.000 untuk siapa saja yang bisa menangkap Blair. Blair dituding telah membohongi publik dengan menyeret Inggris dalam perang Irak pada 2003 lalu. (dn/nk/dm/sm) www.suaramedia.com
- Dokumen Rahasia Ungkap Rayuan Blair Untuk Mugabe
- Dalam Wawancara Perdana, Blair Siap "Hancurkan" Brown
- Rekaman Ungkap Kardinal Belgia Bungkam Korban Pelecehan
- Ribuan Pekerja Asing Terjerumus Perbudakan Inggris
- Jasad Agen Rahasia Inggris Dalam Tas Meninggalkan Misteri














