Jumat, 25 Mei 2012

Headlines:

Ribuan Pekerja Asing Terjerumus Perbudakan Inggris

E-mail Cetak PDF

LONDON (Berita SuaraMedia) - Ribuan pekerja rumah tangga (PRT) asing hidup sebagai budak di Inggris, yang dilecehkan secara seksual, fisik dan psikologis oleh majikan mereka, menurut penyelidikan yang diputar Channel 4.

Lebih dari 15.000 buruh migran datang ke Inggris setiap tahun untuk mendapatkan uang agar dapat mengirim kembali ke keluarga mereka. Namun menurut penyelidikan Channel 4 Dispatches, banyak dari mereka yang harus menghadapi kondisi yang menurut para aktivis merupakan sebuah perbudakan modern.

Kalayaan, sebuah badan amal yang berbasis di London barat yang membantu dan menyarankan pekerja rumah tangga migran, mencatat sekitar 350 tenaga kerja baru setiap tahun.

Sekitar 20% melaporkan dilecehkan atau diserang secara fisik, termasuk yang dibakar dengan besi, diancam dengan pisau, dan air mendidih yang disiramkan kepada mereka.

"Dua pertiga dari PRT yang kita temui melaporkan adanya pelecehan psikologis," kata Jenny Moss, penasehat komunitas  untuk badan amal itu. "Itu berarti mereka telah diancam dan dihina, diteriaki  terus menerus dan disebut anjing, keledai, bodoh, buta huruf."

Sebuah proporsi yang sama mengatakan mereka tidak diperbolehkan keluar sendiri dan tidak pernah memiliki hari libur. Hampir tiga perempat mengatakan mereka dibayar kurang dari £ 50 seminggu.

"Hal pertama yang harus dipahami ketika kita sedang berbicara tentang perbudakan adalah bahwa kita tidak menggunakan perumpamaan," kata Aidan McQuade dari Anti-Perbudakan Internasional. "Banyak contoh dari perbudakan domestik yang kita temukan di negara ini adalah sejenis kerja paksa - klasifikasi yang meliputi retensi paspor dan upah, ancaman pembatalan dan pembatasan gerak dan isolasi."

Kelompok Lobby dan amal mengatakan bahwa sebagian besar PRT dibayar kurang dari £ 50 seminggu selama 20-jam kerja per hari. Yang lainnya mengalami penahanan gaji sepenuhnya. Dalam beberapa kasus, para pekerja adalah orang-orang muda yang diperdagangkan ke Inggris ketika masih anak-anak dan dipaksa untuk menjalani bertahan tahun kekerasan dan kerja paksa.

Program ini juga mengkaji klaim bahwa diplomat asing sebagai salah satu pelanggar terburuk. Pekerja mereka, tidak seperti yang  masuk dengan visa pekerja rumah tangga, tidak dapat mengubah majikan mereka dan akan menghadapi status tunawisma atau dideportasi jika mereka melarikan diri. Penelitian Dispatches mengatakan juga sangat sulit untuk mengadili para diplomat karena telah memperlakukan pekerja mereka sebagai budak.

Angka yang akurat sulit untuk ditentukan karena penyelewengan terjadi di balik pintu tertutup. Tapi kampanye mengatakan bahwa setiap tahun, ratusan PRT melarikan diri dari majikan mereka, yang diklaim telah memperlakukan mereka dengan buruk.

Marissa Begonia meninggalkan tiga anaknya yang masih muda di Filipina ketika ia datang ke Inggris sebagai pekerja rumah tangga 16 tahun yang lalu. Sekarang menjadi kepala dari Justice 4 Domestic Workers, sebuah organisasi kampanye baru yang dijalankan oleh dan untuk buruh migran, Begonia mengatakan sebagian besar klien mereka dipaksa untuk bekerja di luar negeri, tanpa pernah melihat keluarga mereka, karena kemiskinan yang ekstrim di negara asal mereka.

"Ini masalah hidup dan mati," kata Begonia. "Anda memiliki dua pilihan saja: Anda melihat anak-anak Anda mati perlahan, kelaparan, atau Anda meninggalkan mereka dan datang ke Inggris untuk bekerja untuk memastikan anak-anak Anda bertahan hidup." unit kejahatan khusus Polisi Metropolitan menargetkan kasus kerja paksa, termasuk pekerja rumah tangga. "Kami sekarang punya 10 kasus perbudakan domestik yang sedang diselidiki," kata kepala detektif Inspektur Richard Martin, yang mengepalai unit itu.

"Beberapa korban ada yang dirantai di dapur, bekerja tujuh hari seminggu, 20 jam sehari, untuk sedikit atau bahkan tanpa bayaran. Kami memiliki kasus dimana pekerja terpaksa makan sisa-sisa makanan dari meja, sehingga beberapa dari mereka bahkan tidak makan dengan benar, dan diserang dan dilecehkan. Kami memiliki kasus di mana PRT perempuan telah dilecehkan."

Anak-anak juga dibeli ke Inggris untuk bekerja dalam kondisi perbudakan. Christina diperdagangkan dari Nigeria ke London ketika dia baru berusia 12 tahun. Dia mengatakan wanita yang bertanggung jawab atasnya berasal dari Nigeria, tetapi bekerja sebagai pegawai sipil Inggris  di Home Office dan kemudian di Bea dan Cukai.

"Saya dipukuli sepanjang waktu tapi aku tak punya pilihan: saya tak punya tempat untuk pergi," kata Christina, yang bekerja bagi wanita itu selama lima tahun, sampai dia melarikan diri pada tahun 2005. "Dia memukul saya dengan penggorengan dan dengan ikat pinggang, berkali-kali. Ini  mengerikan.. Saya ingin mati."

Kasus lainnya adalah Patience. Patience adalah pekerja rumah tangga dari Afrika barat, yang mantan bosnya adalah seorang pengacara di London. Dia mengatakan bahwa selama hampir tiga tahun dia bekerja 120 jam seminggu untuk sedikit uang. "Saya diperlakukan seperti budak, tidak boleh keluar untuk berteman ... dia akan mencubit saya, menampar saya. Saya tidak memiliki siapapun untuk diajak bicara." Seorang tetangga membantu Patience melarikan diri, tapi kemudian, katanya, polisi tidak percaya. Dia akhirnya memenangkan kasusnya di pengadilan kerja dan mengambil tindakan terhadap polisi, yang membuka kembali penyelidikan. Pengacara itu dihukum karena serangan tersebut. (iw/gd) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon