Blair kemarin menjalani wawancara televisi besar pertamanya sejak meninggalkan Downing Street. Wawancara itu dilakukan menjelang publikasi buku memoar Blair, A Journey, besok.
Wawancara oleh Andrew Marr tersebut akan ditayangkan BBC2 pada pukul 7 malam besok waktu setempat.
Blair akan membela peranannya dalam Perang Irak dan memberikan penilaian terhadap cara Brown menangani krisis keuangan serta kampanye pemilihan. Blair juga akan menilai kinerja pemerintahan koalisi saat ini.
Para rekan Brown tengah mempersiapkan serangan balasan di tengah beredarnya kabar yang menyebut bahwa Blair akan menyalahkan penerusnya itu karena kalah dalam pemilu gara-gara berpaling dari reformasi Partai Buruh Baru yang digagas Blair.
Blair kemungkinan akan menyebut Brown bertanggung jawab atas peraturan bebas untuk semua yang mengakibatkan krisis ekonomi.
Para pendukung Brown juga khawatir jika Blair akan membongkar rincian pembicaraan pribadinya dengan Brown, menyampaikan sebagian dari banyak perseteruan keduanya.
Mereka khawatir bahwa hal itu akan membuat Blair mencuri start dari Brown karena buku dan wawancara Blair akan menjadi yang pertama dinilai mengenai tahun-tahun kebersamaan Brown dan Blair, dan karena Brown telah berulang kali menolak menandatangani pernyataan orang dalam.
Seorang rekan Brown mengatakan, "Jika Blair akan menggunakan hal ini untuk keuntungannya, maka dia harus tahun bahwa dia tidak akan mendapatkan semuanya untuk dirinya sendiri."
"Teman-teman Gordon (Brown) tidak akan tinggal diam melihat segala pencapaiannya dihancurkan," tambahnya.
Seperti yang diungkapkan agensi berita Daily Mail kemarin, Blair juga akan menyatakan bahwa Partai Buruh harus kembali pada reformasi jika masih ingin memenangkan pemilihan umum, sebuah hal yang secara tersirat merupakan kritikan terhadap kecondongan Brown ke arah kiri.
Tapi, munculnya konflik baru kemungkinan akan mengejutkan partai tersebut saat menunjuk pemimpin baru.
Secara khusus, hal itu tidak akan membantu David Miliband, mantan ajudan Blair yang sudah lelah menjaga jarak dari pandangan umum yang menyebut dirinya sebagai orang yang paling mendekati pewaris Blair dalam persaingan.
Juli lalu, Tony Blair beranggapan bahwa penerus jabatannya, Gordon Brown, adalah orang yang "gila, jahat, berbahaya, dan keburukannya sudah tak bisa lagi terselamatkan."
Mantan Menteri Perdagangan Lord Peter Mandelson mengungkapkan hal tersebut dalam memoarnya, seperti dilaporkan situs berita The Sun.
Lebih lanjut lagi, Mandelson menyatakan bahwa mantan Deputi Perdana Menteri John Prescott justru lebih takut kepada Brown saat Brown masih menjadi menteri keuangan.
Dalam memoarnya, Mandelson menceritakan mengenai pelanggaran sumpah pengunduran diri sebagai perdana menteri yang dilakukan Blair pada tahun 2003 kepada Brown agar dirinya mundur dari jabatan perdana menteri sebelum pemilihan umum tahun 2005.
Saat perseteruan keduanya semakin memuncak, Blair mengatakan kepada Mandelson: "Dia (Brown) seperti seorang mafia. Dia agresif, brutal, tidak ada yang bisa menandingi Gordon untuk ukuran orang yang membicarakan prinsip-prinsip yang tinggi tapi pada praktiknya justru dia melakukan perbuatan yang rendah."
Ada sebuah pertemuan yang di dalamnya Brown bersikap amat buruk "paling buruk dari yang pernah ada," kata Blair. Ia menambahkan mengenai mantan menteri keuangan pada pemerintahannya dulu. "Dia hanya memikirkan satu hal, yaitu cara menyingkirkan saya, tapi saya tidak akan bisa disingkirkan." (dn/dm/sm) www.suaramedia.com














