Jumat, 25 Mei 2012

Headlines:

Sang Pemburu Nazi Ternyata Agen Sewaan Mossad

E-mail Cetak PDF

WINA (Berita SuaraMedia) – Seorang Yahudi Austria korban Holocaust yang selamat, Simon Wiesenthal, yang menjadi terkenal karena mendedikasikan hidupnya mengejar para kriminal perang Nazi dan mendokumentasikan kejahatan-kejahatan mereka, pada faktanya adalah seorang agen dari agen mata-mata Israel, Mossad, sebuah buku baru dirilis pada Kamis waktu setempat (2/9) mengungkap.

Banyak dokumen dari harta milik Wisenthal dan wawancara dengan penyelia Mossad-nya memecah kepercayaan yang dipegang secara luas tentang bagaimana ia beroperasi dan mengganti keragu-raguan pada persepsi standar bahwa pemerintah Israel telah memainkan peranan yang minim dalam melacak kriminal-kriminal Nazi.

Dalam buku barunya, "Simon Wiesenthal: Life and Legends (Simon Wiesenthal: Kehidupan dan Legenda)," sejarawan Israel, penulis dan kolumnis Tom Segev mengungkap bahwa Wiesenthal, yang meninggal tahun 2005 pada usia 96 tahun, telah menerima sebuah gaji bulanan sebesar $300 dari kedutaan Israel di Wina.

Wiesenthal pertama kali direkrut oleh departemen politik Kementerian Luar Negeri Israel, sebuah badan spionase pendahulu Mossad, dan kemudian oleh agen sendiri. Agen mata-mata tersebut menyediakan dana untuknya untuk mendirikan kantor pertamanya di Wina pada tahun 1960 dan memberinya sebuah paspor Israel dan menugaskannya dengan kode nama "Theorcart," Segev menulis dalam bukunya.

Ia ditugaskan untuk melacak dan mencari para kriminal Nazi, termasuk Adolf Eichmann yang bertanggung jawab karena memfasilitasi deportasi masal Yahudi ke daerah kumuh dan pemusnahan kamp-kamp di Eropa Timur yang diduduki Jerman, menurut buku tersebut.

Dalam buku tersebut, Segev menulis bahwa pemburu Nazi tersebut bekerja dengan agen Israel bahkan sebelum berdirinya Mossad pada tahun 1949. Pada Desember 1948, Wiesenthal membantu sebuah pelopor agen tersebut menyusun sebuah upaya yang pada akhirnya gagal untuk menangkap Eichman, yang dikenal sebagai "arsitek Holocaust".

Menurut Segev, Wiesenthal dan tiga agen dari departemen politik Kementerian Luar Negeri Israel menunggu Eichmann di suatu desa di Austria, Altaussee, mempercayai bahwa ia akan berkumpul dengan istrinya dan anak-anaknya di sana untuk malam tahun baru. Namun Eichmann tidak pernah muncul.

Wiesenthal adalah orang yang menginformasikan bahwa Eichmann tinggal di Argentina, di mana ia ditangkap oleh mata-mata Israel pada tahun 1960 dan dibawa ke Israel untuk persidangan. Eichmann divonis dalam sebuah pengadilan sipil Israel atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan dieksekusi dengan digantung pada tahun 1962.

Segev menulis bahwa Wiesenthal menentang eksekusi Eichmann tidak atas dasar keberatan moral karena ia percaya bahwa Eichmann belum mengatakan segala sesuatu yang ia ketahui dan bahwa testimoninya lebih jauh tidak akan lebih mengungkap banyak hal.

Wiesenthal terus menyediakan intelijen kepada Israel sampai tahun 1950-an, namun hubungannya yang stabil dengan Mossad hanya dimulai dalam jangka sampai operasi tahun 1960 untuk menangkap Eichmann, Segev mengatakan.

Wiesenthal bekerja dengan Mossad sampai tahun 1970, menyediakan intelijen Israel dengan informasi tentang tersangka kriminal perang, kelompok neo-Nazi yang mengancam komunitas Yahudi di Eropa dan ilmuwan Jerman yang bekerja untuk program roket Mesir.

Segev diberikan akses pertama kali ke dalam kantor Wiesenthal dan arsip pribadi, dan mengurutkan melalui sekitar 300.000 dokumen. Ia kemudian mengikuti dokumen tersebut untuk melacak dan mewawancarai tiga mantan penyelia mata-mata Mossad miliknya.

Buku tersebut mengatakan bahwa Wiesenthal dan penyelia mata-matanya bertemu untuk bertukar informasi di Café Mozart di Wina atau di klub filateli di mana pemburu Nazi tersebut memanjakan diri dalam hobinya mengoleksi perangko. Mereka melanjutkan sebuah korespondensi setelah kerja Wiesenthal berakhir dan surat-surat tersebut memberi Segev informasi menuju adanya hubungan dengan Mossad.

"Saya diijinkan untuk untuk masuk ke dalam kantor Wiesenthal tepat seperti yang ia tinggalkan dan saya menemukan sejumlah bahan-bahan yang menakjubkan,"Segev mengingat-ingat dalam sebuah wawancara telepon pada Kamis waktu setempat. "Saya menemukan koresponden dengan orang-orang di Israel yang tidak dapat saya identifikasikan. Salah satu dari surat tersebut memiliki sebuah alamat jadi saya menelepon pria tersebut dan dari situlah awalnya."

Buku tersebut juga mengungkap bahwa Wiesenthal mendukung mantan Presiden Austria dan mantan Sekretaris Jenderal PBB Kurt Josef Waldheim ketika kemudian dituduh oleh kelompok Yahudi karena telah menjabat di angaktan darat Jerman Nazi.

Wiesenthal menjabat sebagai penasihat di balik layar bagi Waldheim dan membantunya menantang kecurigaan terberat terhadap dirinya.

Kurt Schrimm, pimpinan kantor jaksa khusus Jerman yang bertanggung jawab untuk menyelidiki kejahatan-kejahatan era Nazi, mengatakan bahwa dugaan Wiesenthal memilki hubungan dengan intelijen Israel tidak seharusnya memiliki adanya dampak pada peninggalan pemburu Nazi yang terkenal tersebut.

"Saya tidak tahu apakah hal ini sebenarnya betul, namun  saya tidak melihat bahwa hal ini akan memiliki adanya sangkut paut dengan pekerjaannya apakah ia dulunya adalah anggota dari Mossad atau bukan," Schrimm mengatakan. (ppt/aby/yh) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon