Para tersangka, termasuk empat orang berkewarganegaraan Rusia dan sejumlah perwira militer Georgia, memberikan informasi sensitif kepada Moskow, demikian kata Kementerian Dalam Negeri Georgia.
Moskow menyebut penangkapan itu sebagai upaya "provokasi" dan "sebuah lelucon politik."
Pada Agustus 2008, Georgia dan Rusia terlibat peperangan singkat.
Shota Utiashvili, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Georgia, mengatakan kepada kantor berita AFP, "Ini adalah masalah besar dalam hal pengamanan intelijen militer Georgia."
Ia menambahkan bahwa penangkapan mata-mata itu menjadi pukulan berat bagi GRU, intelijen militer Rusia.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa penangkapan itu merupakan sebuah "provokasi" yang sengaja dilakukan untuk menggagalkan partisipasi Rusia dalam konferensi-konferensi internasional di masa mendatang.
Sejumlah koresponden menyebutkan bahwa komentar tersebut merujuk pada konferensi Rusia dan NATO yang akan dilangsungkan di Lisbon pada bulan November dan Organisasi Keamanan dan Kerja Sama dalam konferensi Eropa awal Desember mendatang.
"Kita lihat dan nantikan saja seberapa meyakinkan lelucon politik ini sebelum kita memberikan komentar," kata Grigory Karasin, deputi menteri luar negeri Rusia seperti dikutip kantor berita RIA Novosti.
Pada perang tahun 2008, pasukan Rusia menyerbu Georgia untuk menghalangi upaya Georgia merebut kembali Ossetia Selatan, sebuah kawasan yang telah mendeklarasikan kemerdekaannya dari Georgia dan mendapat pengakuan dari Rusia.
Pada tahun 2006, Georgia menangkap empat perwira militer Rusia atas tuduhan spionase. Keempat orang tersebut akhirnya dibebaskan dan dipulangkan ke Rusia.
Dalam sebuah wawancara langka tahun lalu, Alexander Shlyakturov mengatakan bahwa NATO, Ukraina, dan Israel mempersenjatai Georgia, yang mungkin saja kembali berperang dengan Rusia terkait kawasan-kawasan yang disengketakan. Ia mengatakan bahwa Israel menyuplai pesawat tanpa awak kepada Georgia.
Kepala intelijen militer Rusia tersebut pada hari Kamis menyatakan bahwa Georgia mungkin kembali menyerang Ossetia Selatan, kawasan pro-Moskow yang menjadi penyebab perang Rusia dan Georgia tahun 2008 lalu.
Shlyakhturov mengatakan bahwa keadaan menjadi tegang dan menuding NATO terus mempersenjatai Georgia.
"Situasi dengan Georgia tetap tegang karena pemerintahan Georgia saat ini tidak hanya menolak mengakui kedaulatan Abkhazia dan Ossetia Selatan, namun juga melakukan segala cara untuk mengembalikan negara-negara ini .. ke dalam yurisdiksi mereka," katanya dalam wawancara langka dengan kantor berita pemerintah, ITAR-TASS.
"Kita harus memperhitungkan upaya-upaya pemimpin Georgia yang tidak dapat ditebak yang bisa membuat mereka tergoda untuk kembali mencoba menaklukkan republik-republik ini seperti yang mereka lakukan tahun lalu," katanya.
Ossetia Selatan dan Abkhazia memisahkan diri dari kendali pemerintah Georgia pada awal 1990-an. Rusia mengakui keduanya sebagai negara merdeka setelah perang lima hari melawan Georgia.
GRU adalah badan intelijen terbesar Rusia. Para agennya tersebar di seluruh penjuru dunia dan memiliki ribuan pasukan khusus di Rusia. Dinas mata-mata yang didirikan pada tahun 1918 oleh pemimpin revolusioner Leon Trotsky tersebut dikendalikan oleh para staf jenderal militer dan melapor langsung kepada presiden. (dn/bc/yn) www.suaramedia.com














