"Ya, saya memang menganggapnya mengecewakan," kata Musharraf kepada stasiun televisi MSNBC.
Mantan pemimpin militer Pakistan tersebut juga mengkritik Obama yang tidak bersedia membahas masalah Kashmir. "Hal itu tidak terdengar baik bagi rakyat Pakistan."
"Mereka menganggap AS atau presiden AS tidak begitu peduli dengan sensitivitas dan kepentingan Pakistan," kata Musharraf.
Musharraf, yang merebut kekuasaan pada tahun 1999, memerintah Pakistan sebagai diktator militer saat AS dan negara-negara sekutu Baratnya menginvasi Afghanistan setelah peristiwa 11 September 2001. Musharraf mundur pada tahun 2008 dan meninggalkan Pakistan. Ia kini menetap di London.
Pada hari Jumat, Obama bertolak menuju Mumbai dan New Delhi dalam sebuah lawatan yang bertujuan untuk meyakinkan India bahwa Obama ingin mendongkrak hubungan antara dua negara setelah sebelumnya berfokus pada Pakistan dan China, demikian tulis laporan itu.
Bagi sebagian besar anggota parlemen AS, tidak dapat dibayangkan jika Obama mengunjungi Pakistan di sela-sela kunjungan yag telah lama diumumkan karena Obama berharap dapat menunjukkan kepada India bahwa ia melihat India sebagai kekuatan global, bukan hanya pemain regional.
Tapi, Obama juga merasa bimbang karena pada saat bersamaan ia juga berusaha meyakinkan Pakistan bahwa negara itu tidak hanya dianggap sebagai penghubung untuk perang di Afghanistan.
Menjelang kunjungan ke India, Obama mengundang penerus Musharraf dari kalangan sipil, Presiden Asif Ali Zardari, untuk datang ke Washington dan mengumumkan bahwa tahun depan ia akan datang ke Pakistan.
Pada hari Sabtu, duta besar Pakistan untuk Amerika Serikat menyampaikan harapan bahwa kunjungan Presiden Obama ke India akan membantu menghadirkan perdamaian di kawasan tersebut.
"Pakistan menantikan kunjungan Presiden Obama pada tahun 2011 dan berharap perjalanan ke India kali ini akan menciptakan peluang terciptanya perdamaian abadi di kawasan tersebut," tulis Duta Besar Husain Haqqani di situs Twitter.
Obama membuka kunjungannya ke India dengan memberikan penghormatan pada para korban serangan Mumbai pada 2008 dan berjanji akan bahu membahu bersama India untuk melawan terorisme.
Tapi, Obama tidak menyebut militan Islam yang dituding mendalangi serangan itu bermarkas di Pakistan. Tidak disebutnya hal itu melahirkan kritikan dari Partai Bharatiya Janata, kelompok oposisi utama nasionalis Hindu di India.
Para pejabat Gedung Putih pada hari Jumat membantah bahwa kunjungan Presiden Barack Obama ke India menghabiskan biaya $200 juta per hari.
Pada hari Selasa lalu, Press Trust of India, mengutip keterangan seorang pejabat yang tidak disebut namanya, melaporkan bahwa Amerika Serikat akan menghabiskan $200 juta per hari. Hal itu disebabkan jumlah rombongan yang ikut bersama Obama mencapai 3.000 orang, termasuk para agen Secret Service, para pejabat pemerintahan, dan jurnalis AS.
"Jumlah besar sekitar $200 juta akan dikeluarkan untuk pengamanan, biaya akomodasi, dan aspek-aspek lainnya dalam kunjungan kepresidenan," kata seorang pejabat tinggi India.
Beberapa pejabat Gedung Putih dan agen keamanan AS sudah tiba di Mumbai sejak pekan lalu dengan menggunakan helikopter, sebuah kapal, dan perlengkapan keamanan canggih.
"Angka yang disebut dalam artikel ini tidak punya dasar nyata," kata Tommy Vietor, juru bicara Gedung Putih. "Karena alasan keamanan, kami tidak bisa mengungkapkan rincian mengenai prosedur keamanan dan biaya, tapi angka itu berlebihan," tambahnya.
Selain itu, dilaporkan bahwa Obama meminta 34 kapal perang menyertainya dalam lawatan ke Asia. Tapi, hal itu dibantah humas Gedung Putih Robert Gibbs. (dn/nk/dn) www.suaramedia.com















