Politikus anti-Islam tersebut mengatakan, Kanselir Merkel takut jika sosok "karismatis" seperti dirinya, yang mampu menyedot 20 persen suara, akan muncul di Jerman.
"Itu merupakan ancaman bagi partai-partai tradisional," kata Wilders. "Karena itulah dia (Merkel) berusaha menjiplak kami, Merkel menyebut masyarakat multikultural sebagai sebuah kegagalan," tambahnya.
Politikus kontroversial tersebut mengkritik pola perpolitikan yang juga dilihatnya di Belanda. Menurutnya, para elit politik di Jerman berantakan. Ia mencontohkan pemimpin Partai Kristen Demokrat (CSU) Horst Seehofer yang mengatakan tidak menginginkan tambahan imigran Turki atau Arab.
Oktober lalu, Merkel mengecam Geert Wilders. Namun, ia mengatakan bahwa tidak akan ada penurunan hubungan bilateral dengan Belanda.
"Bukan gaya kami sepenuhnya mengecam ajaran agama mana pun," kata Merkel seperti disampaikan juru bicaranya, Steffen Seibert, di Berlin. Lokasi yang hendak dijadikan tempat pidato Wilders pada bulan yang sama.
Pemerintah Jerman tetap berniat melanjutkan kerja sama dengan Belanda. "Dalam semangat pertemanan, kemitraan, dan kedekatan yang sama seperti sebelumnya, dalam segala bidang," tambah Seibert.
Wilders, 47, pemimpin Partai Kebebasan Rakyat (PW), bulan lalu diminta partai-partai konservatif dan liberal Belanda untuk mendukung pemerintahan minoritas mereka setelah negosiasi yang berlangsung berminggu-minggu.
Merkel sebelumnya mengatakan kepada komite urusan Eropa di parlemen Bundestag bahwa dirinya menyesalkan pembentukan pemerintahan koalisi minoritas Belanda yang bergantung pada partai Wilders untuk memenangkan suara.
"Kita harus menerima bahwa pembentukan pemerintahan yang dilakukan sebuah negara yang berdaulat tidak dapat mengakibatkan pemutusan kerja sama di dalam Uni Eropa," katanya. Wilders kemudian menuding Merkel turut campur dalam politik internal Belanda.
Oktober lalu, Wilders berpidato di sebuah hotel di Berlin di tengah unjuk rasa yang digelar di luar bangunan tersebut.
"Jerman juga membutuhkan sebuah gerakan politik yang mempertahankan identitas nasional negara. Identitas politik Jerman dan kesuksesan ekonominya terancam oleh Islam," kata Wilders di hadapan 500 orang hadirin di sebuah hotel di Distrik Tiergarten, Berlin.
"Islam adalah sebuah ideologi politik yang berbahaya bagi semua orang," kata Wilders, yang terjerat masalah hukum di Belanda karena menghasut kebencian.
Politikus 47 tahun itu diundang ke Berlin oleh sebuah partai yang didirikan bulan September lalu oleh Rene Stadtkewitz, seorang mantan anggota CDU yang juga dikenal sebagai pengkritik Islam.
Pidato itu memancing aksi unjuk rasa di luar hotel. Polisi setempat mengatakan bahwa ada lebih dari 100 demonstran yang membawa kertas dan spanduk bertuliskan "Berlin menentang Nazi – kami berhak menghentikan mereka" dan "Pulangkan Geert Wilders" di hadapan hotel.
Wilders mengklaim Islam adalah agama totaliter dan mengimbau agar kitab suci Al-Qur’an, burqa, dan pembangunan masjid dilarang.
Kemenangan pemilihan umum memberikan dukungan kepada Partai Kebebasan yang memenangkan kursi terbanyak ketiga. (dn/isw/et/dw) www.suaramedia.com














