Minggu, 26 Mei 2013

Headlines:

Media Beber Tradisi Kanibal Rusia Dalam Perang Georgia

E-mail Cetak PDF
MOSKOW (Berita SuaraMedia) – Sebuah laporan yang dimuat dalam sebuah media militer Rusia mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan. Laporan tersebut mengklaim bahwa setengah dari seluruh pesawat Rusia yang hancur dalam perang dengan Georgia tahun lalu ternyata ditembak jatuh oleh rekannya sendiri.

Artikel tersebut, yang dimuat dalam majalah Defence Brief Moskow, juga mengklaim bahwa Rusia telah kehilangan sebanyak enam pesawat tempur, jumlah tersebut lebih banyak dua unit daripada yang sebelumnya diakui oleh pemerintah Rusia.

Laporan tersebut disusun dengan tujuan utama untuk mengkritik "tradisi kanibal" pasukan Rusia dalam perang singkat tersebut.

Namun seorang pejabat senior pemerintah Rusia buru-buru mengeluarkan bantahan dan mengatakan bahwa informasi yang terdapat dalam laporan tersebut sama sekali tidak benar dan tidak akurat.

Agen pemberitaan Interfax mengutip ucapan seorang wakil kepala staf Jenderal, Anatoly Nogovitsyn, ketika mengatakan bahwa Rusia telah memberikan  informasi sepenuhnya mengenai kehilangan yang diderita oleh Rusia dalam konflik melawan Georgia dan tidak ada yang bisa ditambahkan untuk hal tersebut.

"Berkaitan dengan tudingan bahwa pesawat tempur Rusia ditembak jatuh oleh pasukan pertahanan Rusia sendiri, hal tersebut sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kebenaran," tambahnya.

Para pejabat angkatan udara selalu menyatakan bahwa hanya ada empat pesawat yang tertembak jatuh dalam perang lima hari yang terjadi pada bulan Agustus tahun lalu.

Laporan tersebut ditulis oleh pusat analisa strategi dan teknologi (Cast) yang berpusat di ibukota Rusia, Moskow.

Namun, Cast mampu memberikan informasi secara terperinci mengenai tiap-tiap pesawat yang jatuh, termasuk waktu jatuhnya pesawat, lokasi jatuhnya pesawat hingga nama-nama pilot yang mengemudikan masing-masing pesawat.

Laporan tersebut juga mengkritik tajam militer Rusia. Di dalamnya, disebutkan bahwa kesalahan tersebut bermuara pada tidak adanya kerjasama antara angkatan darat dan angkatan udara Rusia, sehingga akhirnya mereka berjalan sendiri-sendiri dalam misi peperangan tersebut.

Pasukan militer Rusia dapat dengan mudah mengatasi tentara Georgia dalam peperangan singkat tersebut.

Namun wartawan BBC, Rupert Wingfield-Hayes, mengatakan bahwa kehilangan yang diderita oleh pihak Rusia dalam tempo lima hari telah mendorong para analis untuk kembali mempertanyakan cara Rusia dalam menghadapi musuh yang lebih besar, bersenjata lebih lengkap dan tentaranya lebih terlatih.

Sementara itu, pada hari Kamis (9/7) kemarin, kepala staf Angkatan Udara Rusia membantah keras klaim Georgia bahwa Rusia tengah memata-matai negara tersebut dengan mempergunakan pesawat udara tanpa awak (UAV).

Menteri dalam negeri Georgia menuding Rusia telah melancarkan sejumlah misi pengintaian dengan pesawat mata-mata di atas wilayah udaranya dan menampik pemberitaan yang dihembuskan sebelumnya bahwa Georgia melakukan penerbangan mata-mata di atas wilayah Abkhazia.

"Akhir-akhir ini, Angkatan Udara Rusia sama sekali tidak pernah melakukan penerbangan pesawat tanpa awak di atas wilayah Georgia," kata kolonel Alexander Zelin kepada para wartawan di Moskow.

Menteri luar begeri Abkhaz pada hari Rabu lalu mengatakan bahwa para penjaga perbatasan telah mengamati empat unit pesawat tanpa awak Georgia yang terbang berpasangan di atas wilayah udara Abkhaz selama 90 menit.

Abkhazia merasa amat resah dengan kejadian tersebut, pihaknya menambahkan bahwa pengintaian tersebut hanya akan memicu meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.

Abkhazia mendapatkan kemerdekaan dari Georgia sejak terjadinya konflik militer pada awal tahun 1990an, dan pada bulan Agustus tahun lalu, diakui sebagai negara yang berdaulat oleh Rusia, dua minggu setelah berakhirnya perang lima hari antara Rusia dan Georgia untuk memperebutkan Ossetia Selatan, bekas wilayah Georgia.

Para pengamat militer PBB berhenti  melakukan pengamatan di kawasan tersebut pda tanggal 16 Juni ketika Rusia memveto resolusi dewan keamanan PBB untuk memperpanjang mandat yang diberikan kepada lembaga pengawas tersebut. (dn/bbc/er) Dikutip oleh www.suaramedia.com

Sejarah Islam

Husen Bin Salam, Pendeta Yahudi Dengan Panggilan Islam Dihatinya
Ketika pertama kali mendengar kedatangan Nabi, H...More »

Berita Gadget Terkini

Apple Ingin Lepas Ketergantungan Terhadap Samsung
Dilansir BGR, analis teknologi dari firma RBC Ca...More »

Keajaiban Dunia

Sejarah Seribu Satu Malam Terancam Serangan Turis
Benteng tersebut membuka sejarah Irak ribuan tah...More »

Otomotif Terbaru

Zoe, Mobil Cantik Besutan Perusahaan Kosmetik
Sistem sirkulasi udara pada mobil tersebut, memb...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon