Dalam sebuah upacara singkat yang bertempat di kementerian luar negeri Iran, Mottaki menyerahkan masing-masing sebuah salinan proposal kepada setiap perwakilan enam negara kuat dunia berkenaan dengan negosiasi nuklir Iran.
Namun isi dari paket Iran tersebut nampaknya dirahasiakan dari publik.
Pada hari Selasa, Menteri Luar Negeri Iran mengatakan bahwa "paket proposal telah diperbaharui mengikuti perkembangan-perkembangan di dunia dan berbagai kejadian yang telah mengambil tempat dan akan dikirimkan kepada P5+1 esok hari."
P5+1 termasuk lima negara pemegang hak veto yang merupakan anggota tetap dari Dewan Keamanan PBB, yakni: Inggris, China, Perancis, Rusia, dan AS ditambah dengan Jerman, dimana negara-negara tersebut bertindak "mewakili" komunitas internasional dalam menentang program nuklir Iran.
Perwakilan Swiss, Livia Leu Agosti, hadir mewakili AS – yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Iran sejak pecahnya revolusi Islam pada tahun 1979.
Penawaran baru Iran tersebut datang pada saat Badan Energi Atom Internasional (IAEA)tengah menggelar pertemuan sepanjang minggu di Vienna.
Negara-negara kuat dunia bisa saja menjatuhkan serangkaian sanksi PBB jika pembicaraan dengan Teheran tetap macet hingga akhir bulan September. Hal itu sesuai dengan apa yang pernah disampaikan oleh Presiden Barack Obama pada penghujung konferensi G8 di Vienna.
Namun seorang pengamat senior di Brookings Institution, Suzanne Maloney, mengatakan bahwa meski proposal Iran tersebut belum dirilis, kemungkinan besar proposal tersebut tidak akan menjadi sebuah langkah yang penting dalam sebuah negosiasi yang bersifat serius.
"Pada saat ini tidak ada alasan kuat untuk mempercayai bahwa proposal tersebut akan mendapatkan persetujuan dari Washington, atau lebih luas lagi, komunitas internasional," kata Maloney.
Sebelumnya, seorang perwakilan AS untuk IAEA, Glyn Davies, mengatakan bahwa proyek atom Iran sudah mendekati "sebuah posisi yang rawan dan berbahaya."
Maloney mengatakan bahwa jika dirinya bisa menasehati Presiden Obama, maka ia akan mengatakan kepada Obama untuk menjauhi berbagai pernyataan yang berbau penyerangan dan tetap berfokus pada langkah diplomasi AS.
"Pada tahapan ini, yang diperlukan oleh pemerintahan Obama adalah tetap fokus pada upayanya untuk mengukur apakah ada perkembangan di Iran dalam sebuah proses negosiasi," katanya. Namun Maloney juga menambahkan agar AS tidak terlalu optimis dalam hal tersebut.
"Orang selalu berharap bahwa akan ada permulaan proses diplomatik antara Iran dan para diplomat," kata Maloney. "Namun proposal-proposal Iran sebelumnya tidak memungkinkan tercapainya permulaan tersebut."
Presiden Mahmud Ahmadinejad pada hari Senin (7/9) lalu mengatakan bahwa dirinya akan tetap melanjutkan kerjasama dengan IAEA.
Perwakilan AS di IAEA mengatakan bahwa Iran kini semakin dekat dalam mencapai ambisinya untuk meembuat sebuah bom nuklir.
Iran tetap bersikeras bahwa pihaknya memiliki hak untuk mengembangkan teknologi nuklir, yang menurut Iran ditujukan untuk menghasilkan energi untuk memenuhi kebutuhan rakyat Iran yang terus berkembang dari hari ke hari.
Israel adalah satu-satunya negara di kawasan Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir. Para pengamat mengatakan bahwa karena kuatnya lobi Yahudi dan pro-Israel di AS dan sejumlah negara Eropa, maka negara-negara tersebut bermuka dua mengenai isu-isu nuklir di kawasan Timur Tengah.
Teheran telah berulangkali memprotes ancaman perang yang dilancarkan Israel dan AS. Iran memperingatkan bahwa pihaknya akan membalas jika sampai ada serangan terhadap negara tersebut.
Para pemimpin dunia akan membahas mengenai isu tersebut pada penghujung bulan September, ketika para pemimpin ekonomi dunia menggelar konferensi tingkat tinggi G20 di Pittsburgh. (dn/meo/voa) Dikutip oleh www.suaramedia.com
Click Video














