"Tujuan akhir Amerika adalah untuk menciptakan konfrontasi antara Iran dan Irak," kata Vahidi dalam reaksi terhadap wawancara oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates di mana ia mendesak sekutu Washington, Arab, untuk memperkuat kemampuan militer mereka dalam rangka untuk menekan Iran untuk menghentikan program nuklirnya.
"Kami menganjurkan para pejabat Amerika untuk tidak mencoba memiliterisasi suasana di kawasan ini dan untuk mengubah strategi yang salah untuk menebus kesalahan masa lalu," ujar Vahidi seperti yang dikutip oleh kantor berita Fars.
Menurut transkrip wawancara dengan Al Jazeera ditayangkan pada hari Senin, Gates mengatakan "salah satu cara untuk membujuk Iran untuk mengubah pendekatan mereka pada masalah nuklir adalah dengan meyakinkan mereka bahwa berjalan di jalur tersebut akan benar-benar membahayakan keamanan mereka, bukannya meningkatkan kemampuan mereka.
"Jadi, semakin banyak teman-teman dan sekutu Arab kami yang dapat memperkuat kemampuan keamanan mereka, semakin mereka dapat memperkuat kerjasama mereka, baik dengan satu sama lain dan bersama kami, saya kira mengirimkan sinyal ke Iran bahwa dengan jalan ini mereka ini tidak akan memajukan keamanan Iran tetapi kenyataannya bisa melemahkan mereka," ungkap Vahidi, menteri Iran yang pernah dituding mendalangi tragedi di Argentina.
Gates juga menyatakan bahwa Irak yang demokratis akan membantu "mengurangi" pengaruh Iran di tetangga Syiah mereka.
"Saya berpikir bahwa Irak yang kuat dan demokratis, khususnya dengan satu pemerintah multi-sektarian, menjadi hambatan pengaruh Iran dan bukan sebuah jembatan untuk itu," katanya.
Iran dan Irak mengalami peperangan brutal di tahun 80-an yang menewaskan sekitar satu juta orang di kedua belah pihak.
Sementara itu, Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengatakan pada hari Minggu bahwa Iran siap untuk berbicara dengan negara-negara di dunia mengenai isu-isu global tetapi tidak akan bernegosiasi atas hak teknologi nuklir Teheran.
"Kami siap untuk berbicara tentang kerja sama internasional dan ekonomi global dan menyelesaikan masalah-masalah keamanan karena kami percaya bahwa isu-isu tersebut tidak dapat diselesaikan tanpa partisipasi semua orang," ujar Ahmadinejad, seperti yang dikutip kantor berita Fars, ketika ia berbicara dengan duta besar Inggris ke Teheran yang baru, Simon Gass.
Tapi Ahmadinejad, yang akan menghadiri pertemuan Majelis Umum PBB pada akhir bulan ini di New York, mengesampingkan setiap perundingan mengenai Iran program nuklir kontroversial.
"Memiliki teknologi nuklir damai adalah hak Iran yang sah dan sudah pasti. Iran tidak akan bernegosiasi dengan siapa pun atas hak-hak mereka," kata pemimpin Iran itu kepada Gass ketika utusan Inggris itu menyerahkan surat kepercayaan.
Iran pada hari Rabu menyerahkan kepada enam negara dunia, Amerika Serikat, Britania Raya, Perancis, Rusia, Cina dan Jerman, sebuah proposal yang terbaru yang ditujukan untuk meredakan kecemasan terhadap program nuklirnya.
Para pengamat mengatakan karena lobi Yahudi dan pro-Israel yang kuat di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, negara-negara ini telah mengambil sikap munafik dalam kaitannya dengan isu nuklir di Iran.
Untuk menambah standar ganda tersebut, negara-negara yang menuduh Iran berusaha membuat senjata nuklir itu sendiri justru memiliki bom atom. (iw/meo) Dikutip oleh www.suaramedia.com













