Pada hari Rabu, Menteri Luar Negeri Iran menuding AS terlibat dalam kasus menghilangnya Shahram Amiri, yang dilaporkan bekerja di sebuah universitas yang memiliki hubungan dengan korps militer elit Iran, Garda Revolusi.
Dalam sebuah hal yang menandakan betapa sensitifnya masalah Amiri, para pejabat Iran tidak mengungkapkan kepada publik bahwa Amiri merupakan seorang ilmuwan nuklir, Amiri hanya dinyatakan sebagai warga negara Iran. Istri Amiri mengatakan bahwa suaminya tengah meneliti penggunaan medis dari teknologi nuklir di sebuah universitas dan sama sekali tidak terlibat dalam program nuklir yang lebih luas.
Menteri Luar Negeri Iran mengambil langkah yang diluar kebiasaan dan melayangkan keluhan kepada pemimpin PBB mengenai menghilangnya Amiri, hal tersebut membangkitkan kembali kasus dari seorang mantan menteri pertahanan yang menghilang di Turki pada tahun 2007, yang juga diyakini telah membelot.
Amiri menghilang selama beberapa bulan sebelum terungkapnya sebuah fasilitas pengayaan uranium di dekat kota Qom pada bulan September silam, dimana AS dan para sekutunya menuding Iran telah membangun situs tersebut dengan diam-diam. Pemilihan waktu tersebut memantik pertanyaan mengenai kemungkinan Amiri telah memberikan informasi kepada Barat tentang program nuklir Iran.
Pengungkapan fakta mengenai fasilitas pengayaan uranium tersebut adalah sebuah pukulan bagi intelijen Barat. Iran menyangkal bahwa pihaknya mencoba menyembunyikan situs tersebut dan bersikeras bahwa hal itu tidak harus diberitahukan kepada lembaga pengawas PBB. Namun tetap saja hal itu dipertahankan ketika Iran memulai proses negosiasi dengan AS dan kekuatan dunia lainnya pada minggu lalu, pembicaraan yang telah meredakan ketegangan antara kedua kubu.
Para pejabat AS mengatakan bahwa sejumlah perangkat intelijen – khususnya satelit mata-mata – dipergunakan untuk mengungkapkan situs Qom dan fungsi dari lokasi tersebut, namun tidak dibeberkan mengenai adanya peranan warga Iran dalam proses mata-mata tersebut.
AS dan para sekutunya menuding Iran secara diam-diam berupayan untuk mengembangkan senjata nuklir, sebuah klaim yang dibantah keras oleh Iran, yang tetap bersikeras bahwa program nuklirnya ditujukan untuk menghasilkan listrik.
Hanya sedikit fakta yang diketahui mengenai Amiri, dan nasibnya masih menjadi misteri selama lebih dari empat bulan.
Iran telah meminta keterangan dari Arab Saudi mengenai keberadaan Amiri, namun Iran tidak mendapatkan balasan. Kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Hasan Qashqavi, pada awal minggu ini. Para kerabat Amiri menggelar demonstrasi beberapa kali di luar Kedutaan Saudi di Teheran guna mendapatkan informasi.
Iran mungkin mengkhawatirkan bahwa ada peranan Ameika dalam memancing Amiri," kata Meir Javendafar, seorang analis kelahiran Iran dari meepas, lembaga penelitian Timur Tengah. Dia mengemukakan adanya kemungkinan bahwa Amiri memberikan informasi kepada Barat, meski Iran mengklaim bahwa Amiri ditahan di Arab Saudi.
"Ada kemungkinan bahwa dia diculik dalam sebuah limosin, bukannya berada di bagasi mobil, hal tersebut berarti bahwa Amiri bisa saja membocorkan informasi secara sengaja," kata Javendafar, yang tinggal di Israel.
Menurut saluran televisi berbahasa Inggris milik pemerintah Iran Press TV, Amiri bekerja sebagai seorang peneliti di Universitas Malek Ashtar, Teheran. Di masa lalu, universitas tersebut disebut oleh PBB sebagai sebuah situs penelitian nuklir dan diyakini telah dijalankan oleh Garda Revolusi Iran.
Sebuah situs berita Iran mengklaim bahwa Amiri telah bekerja di Qom dan telah membelot di Arab Saudi. Situs internet tersebut, Jahannews, yang memiliki keterkaitan dengan kaum konservatif Iran, tidak menuliskan sumber untuk laporan tersebut.
Amiri bepergian ke Arab Saudi pada tanggal 31 Mei lalu untuk melaksanakan Umrah ke Mekkah, kata istri Amiri kepada agen pemberitaan ISNA. Terakhir kali ia mendengar kabar dari suaminya adalah pada tanggal 3 Juni, dimana Amiri menelepon dari kota suci Madinah.
Dia mengatakan bahwa menurut keterangan Amiri, setelah tiba di Arab Saudi, dia diinterogasi secara panjang lebar oleh para polisi di bandara, lebih banyak dibandingkan dengan para penumpang lainnya, tulis ISNA, yang tidak menyebutkan nama sang istri.
Menteri Luar Negeri Iran, Manouchehr Mottaki, pada hari Rabu mengatakan bahwa Amiri tlah ditangkap, ia menuding adanya keterlibatan AS dalam hal tersebut.
"Kami telah mendapatkan dokumen mengenai keterlibatan AS atas menghilangnya Shahram Amiri," kata Mottaki, sebagaimana dilansir oleh agen pemberitaan Fars.
"Kami menganggap Arab Saudi bertanggung jawab atas nasib Shahram Amiri dan juga adanya peranan AS dalam penangkapan tersebut," kata Mottaki, yang dikutip oleh agen pemberitaan IRNA. "Pemerintah Arab Saudi bertanggung jawab atas Amira, dan menurut isi sebuah dokumen, kami menganggap AS yang telah menangkap Amiri."
ISNA, agen pemberitaan pelajar Iran, mengatakan bahwa Mottaki, kala membahas laporan bahwa Amiri merupakan staf Organisasi Energi Atom Iran, mengatakan "ada spekulasi yang dibahas oleh media-media Barat dan kami memperjuangkan kasus Amiri sebagai seorang warga negara Iran."
Para pejabat Arab Saudi tidak memberikan komentar mengenai hal tersebut. Di Washington, juru bicara Deoartemen Luar Negei AS, Ian C. Kelly, mengatakan bahwa tidak ada keterangan mengenai permasalah tersebut. "Kami tidak tahu-menahu mengenai masalah ini," kata Kelly.
Surat kabar Arab, Asharq Al-Awsat, yang dimiliki oleh pebisnis Arab Saudi, pekan lalu melaporkan bahwa Mottaki melayangkan keluhan resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon mengenai mengghilangnya Amiri dan sejumlah warga Iran dalam beberapa tahun terakhir, sebagian diantaranya diduga telah membocorkan informasi kepada Barat.
Di New York, juru bicara PBB, Michele Montas mengatakan, "isu tersebut dimunculkan dalam pertemuan secara langsung antara Ban dan Mottaki. (dn/ap) www.suaramedia.com
- Iran Menuju Perubahan Penting Kesepakatan Nuklir
- Menjadi-Jadi, Imigran Yahudi Bongkar Makam Nabi Yusuf
- Bentrok Antar Golongan Yahudi Seret Rabbi Ke Meja Hijau
- Pengacara Saddam Hussein Beberkan Rencana Rahasia 2006
- Netanyahu Tak Gubris Resiko Pengrusakan Masjid Al Aqsa















