Turki menginformasikan Israel tentang pembatalan latihan Anatolian Eagle minggu lalu sebagai protes terhadap operasi Cast lead Israel di Jalur Gaza tahun ini yang menewaskan sekitar 1500 warga Palestina dan melukai banyak orang lainnya, sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak.
Latihan itu awalnya akan diadakan di sebuah basis angkatan udara di kota Konya, Anatolia dan akan melibatkan pasukan angkatan udara AS, Italia, dan NATO. Manuver militer itu dibatalkan setelah Ankara mengundurkan diri dari latihan bersama karena keikutsertaan Tel Aviv. Upaya Israel untuk memperoleh jawaban dari Kementerian Luar Negeri Turki menemui jalan buntu. Israel kemudian mengontak AS, Italia, dan Belanda atas isu ini namun ternyata ketiga negara itu juga membatalkan keikutsertaan mereka.
Langkah Turki untuk memprotes agresi Israel ke Gaza itu pun mengecewakan Washington.
Israel khawatir akan ikatan strateginya dengan Turki yang berada dalam bahaya.
Sumber kementerian luar negeri Israel mengkonfirmasi bahwa rapat itu diadakan menyusul instruksi dari direktur jenderal kementerian Yossi Gal, namun mereka menolak untuk memberikan detail penjelasan.
Pemerintah Israel kini sedang memperdebatkan kedalaman krisis ini. Sejumlah pejabat mengatakan bahwa pemerintah Turki di bawah Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan tidak tertarik menjalin hubungan strategis dengan Israel.
"Mungkin realitanya telah berubah dan hubungan strategis yang kita kira masih ada telah berakhir," ujar seorang pejabat senior Israel. "Mungkin kita perlu menjadi pihak yang menginisiasi pemikiran baru mengenai hubungan kedua negara dan mengadopsi cara-cara respon."
Pendukung pendekatan ini mengatakan bahwa dari semua negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, Turki mungkin adalah "yang paling memusuhi". Namun beberapa pejabat lain berargumen bahwa situasi tersebut dapat diselamatkan. "Krisis yang serius sedang terjadi dan kita harus segera mengatasinya," ujar seorang pejabat senior yang berpengalaman dalam urusan mengenai Turki.
Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu, mengatakan pada CNN di hari Minggu bahwa negaranya mengecualikan Israel dari rencana latihan militer NATO sebagai bagian dari kritiknya atas serangan pasukan pendudukan Israel atas Gaza musim dingin lalu. Ditanya mengapa mereka mengecualikan Israel dalam latihan itu, Davutoglu mengatakan, "Kami berharap situasi di Gaza akan membaik dan kembali ke jalur diplomasi. Dan itu juga akan menciptakan atmosfer yang baru dalam hubungan Israel - Turki."
Davutoglu mengatakan bahwa daripada latihan NATO, Turki akan mengadakan latihan militer nasional setelah berkonsultasi dengan pihak-pihak yang terlibat.
"Kepentingan kami bukanlah untuk mengalami perpecahan atau krisis dengan Turki. Kami menganggap Turki sebagai partner strategis Israel dan jangkar stabilitas," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Daniel Ayalon. Ia mensinyalir bahwa Turki juga akan kehilangan sesuatu dengan langkah yang diambilnya itu, "Komitmen terhadap rekanan strategis ini bersifat dua pihak. Penting bagi keduanya untuk mempertahankan ikatan strategis antara hubungan Israel dengan pemerintah Turki."
Pejabat kementerian luar negeri Turki mengatakan bahwa ini adalah langkah yang tidak biasa diambil oleh negaranya karena, terlepas dari ketegangan dan retorika anti-Israel Erdogan, itu merupakan langkah nyata pertama yang "melanggar" perjanjian tripartite antara Israel, AS, dan Turki.
Pemerintah Israel mengatakan, sejauh yang mereka tahu, langkah militer Turki itu berasal dari perintah langsung Erdogan, yang telah melontarkan retorika-retorika anti Israel sejak serangan ke Gaza, yang juga menuntun pada pembekuan negosiasi yang sedang dimediasi Turki antara Syria dengan entitas Zionis itu.
Erdogan menyalahkan Israel atas genosida di Jalur Gaza dan mengatakan bahwa Perdana Menteri Ehud Olmert telah mengkhianatinya. Erdogan juga mengkonfrontir Presiden Shimon Peres pada bulan Januari dan bersikeras agar Israel diadili atas kejahatan perangnya. Pemimpin Turki juga telah menyerukan diangkatnya pemberian sanksi terhadap Iran dan menyerukan pada komunitas internasional untuk lebih fokus pada kapabilitas nuklir Israel. (rin/pv/am) www.suaramedia.com














