Harian Maariv Israel, yang mengikuti tindakan dan komentar Turki, merasa amat khawatir dengan semakin mendalamnya krisis hubungan antara Turki dan Israel, yang merupakan manifestasi terakhir dari keputusan Turki untuk membatalkan partisipasi dari Israel dalam latihan militer gabungan, ditambahkan bahwa semakin buruknya hubungan antara pihak2 yang terlibat pada level tertinggi di Israel.
Dalam konteks terkait, sebuah sumber politik mengatakan bahwa para pejabat tinggi Israel, demikian halnya dengan sejumlah negara Barat, khususnya AS, Inggris, dan Perancis, mengkhawatirkan mengenai proses diam-diam dari Islamisasi di Turki.
Sumber tersebut mengetengahkan bahwa Israel sejatinya menyadari jika proses Islamisasi di Turki – jika benar terjadi – akan menjadi sebuah proses yang lambat dan bertahap, namun kekhawatiran mengenai skenario tersebut telah semakin meningkat.
Seorang sumber keamanan mengatakan bahwa "Kami tengah melihat sebuah langkah luas mengenai penunjukan para pejabat religius dalam militer Turki beberapa tahun terakhir, sebuah tren yang tidak biasanya terjadi di masa lalu, dan oleh karena itu kami harus berpikir dua kali mengenai perlengkapan militer yang kami jual ke Turki."
"Kami harus mempertimbangkan kembali mengenai penjualan perlengkapan dan sistem yang dikembangkan untuk militer Turki, untuk memastikan bahwa alat-alat tersebut tidak akan dipergunakan untuk melawan kami pada suatu hari nanti."
Di sisi lain, Maariv mengungkapkan bahwa Israel utamanya mengkhawatirkan mengenai keakraban Iran dan Turki, hal yang tidak mengherankan mengingat Israel seringkalli terlihat berseberangan dengan Iran. Turki adalah sebuah negara mayoritas Muslim namun menganut paham sekuler dan berupaya untuk bergabung dengan Uni Eropa. Namun langkah tersebut tampaknya akan menjadikan Turki sebagai sebuah negara Muslim yang taat dan lebih dekat kepada Iran dibandingkan dengan Uni Eropa.
Surat kabar tersebut mengemukakan bahwa Israel dan negara-negara Barat masih mengharapkan mengenai adanya kemungkinan untuk mencegah Erdogan dalam mengubah Turki.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak pada hari Senin (12/10) memperingatkan mengenai rusaknya hubungan lebih jauh dengan Turki, setelah Turki tidak menyertakan Israel dalam latihan militer gabungan sebagai sebuah langkah protes atas serangan Israel terhadap Hamas di Gaza.
"Hubungan antara Israel dan Turki adalah hubungan yang strategis dan telah dijaga selama berpuluh-puluh tahun," kata Barak dalam sebuah pertemuan tertutup.
Dia menambahkan: "Meski hubungan Israel-Turki seringkali naik-turun, Turki tetaplah menjadi sebuah negara penting bagi kami."
Latihan udara internasional, yang tadinya turut menyertakan Angkatan Udara Israel, serta pesawat dan pilot dari NATO, sedianya akan dilaksanakan di sebuah pangkalan udara di pusat kota Konya di Anatolia.
Pada hari Minggu (11/10), Menteri Luar Negeri Turki menyatakan secara publik bahwa alasan utama mengapa Israel tidak disertakan dalam latihan militer adalah protes atas serbuan di Gaza.
"Kami berharap bahwa situasi di Gaza akan berkembang, dan keadaan akan kembali kepada jalur diplomatik yang benar," kata Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu.
"Dan hal itu tentu akan menciptakan atmosfir baru dalam hubungan antara Turki dan Israel," tambahnya. "Namun dalam situasi sekarang, kami mengkritik pendekatan ini, pendekatan Israel." (dn/im/hz) www.suaramedia.com














