Hubungan antara Israel dan Turki mulai memanas pada bulan Januari ketika Ankara mengecam keras pembantaian selama 22 hari yang dilancarkan oleh Israel di Jalur Gaza, dimana sekitar 1.400 orang penduduk Gaza tewas, dengan sebagian besar diantaranya adalah wanita dan anak-anak.
Hubungan keduanya semakin mendekati titik nadir pada minggu lalu, kala Turki tidak menyertakan Israel dalam sebuah latihan udara gabungan, alasan utama penyingkiran Israel tersebut adalah protes atas insiden Gaza.
Dalam sebuah penyelidikan PBB, yang dipimpin oleh mantan hakim Afrika Selatan, Richard Goldstone, para penyelidik mengatakan bahwa tindakan Israel dalam serangan terhadap Jalur Gaza yang dikuasai oleh gerakan Hamas dapat digolongkan dalam kejahatan perang, kemungkinan besar kejahatan terhadap kemanusiaan.
Ketegangan tersebut menjadi isu utama dalam sebuah pertemuan antara Netanyahu dan Perdana Menteri spanyol, Jose Luis Zapatero, pada hari Sabtu (17/10) lalu.
Pada hari Jumat (16/10) lalu, duta besar Israel di Ankara, Gabi Levy, secara resmi melayangkan protes kepada Kementerian Luar Negeri Turki menyusul penayangan sebuah drama di televisi Turki, dimana dalam tayangan tersebut, sejumlah aktor berperan sebagai serdadu Israel yang tengah mengeksekusi para penduduk Palestina. "Pemerintah dan rakyat Israel amat kecewa dan resah dengan beredarnya tayangan tersebut," kata Gabi Levy.
Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu, mengatakan bahwa tidak ada tujuan politik dalam penayangan program televisi tersebut. "Kementerian Luar Negeri (Turki) tidak memberikan masukan mengenai program televisi," katanya.
Netanyahu mengatakan bahwa dirinya keberatan jika Turki meneruskan peranannya sebagai mediator, Perdana Menteri Israel tersebut mengatakan bahwa Turki tidak mungkin menjadi "perantara yang jujur" antara Israel dengan Syria, demikian dilaporkan oleh Haaretz pada hari Minggu (18/10) kemarin.
Pernyataan tersebut dilontarkan kala pemerintahan berangasan Netanyahu masih belum menggelar pembicaraan secara tidak langsung dengan Syria. Dalam masa jabatan mantan perdana menteri Ehud Olmert, Turki menjadi mediator dalam lima putaran pembicaraan antara para pejabat Israel dan Syria.
Dalam pertemuan terakhir antara Olmert dan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, sang pemimpin Turki menelepon Presiden Syria, Bashar Assad dan menyampaikan pesan dari dan kepada Olmert. Namun setelah kebrutalan Israel di Gaza awal tahun ini, ditambah dengan pembekuan negosiasi dengan Syria, Erdogan mengatakan bahwa Olmert telah ingkar dan menusuk dirinya dari belakang.
Zapatero dan Menteri Luar Negeri Spanyol, Miguel Angel Moratinos, tiba di Tel Aviv dari Damaskus, mereka mengatakan kepada Netanyahu bahwa mereka terkesan dengan ketulusan pemimpin Syria mengenai proses perdamaian.
"Presiden Assad amat serius dan lebih bertanggung jawab. Dia menginginkan dialog dengan AS dan ada kemungkinan besar untuk mencapai kesepakatan dengan dirinya." Namun Netanyahu meragukan hal tersebut, Perdana Menteri Israel tersebut mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melihat tanda-tanda keseriusan Assad.
Sumber-sumber politik Israel dalam beberapa hari terakhir mengatakan bahwa meski timbul ketegangan antara Israel dan Turki, pemerintah AS telah mengatakan kepada para diplomat Turki bahwa pemulihan hubungan keduanya adalah sebuah hal yang penting bagi AS.
Deputi Menteri Luar Negeri, Danny Ayalon berkata, "Hubungan dengan Turki memang tengah berada dalam keadaan yang sulit, namun hal itu bisa dipulihkan dengan upaya-upaya diplomatik yang perlahan dan penuh kehati-hatian."
Jika Ankara menghentikan peranannya sebagai mediator antara Israel dan dunia Arab, maka bisa dipastikan bahwa Israel akan kehilangan sebuah mediator Muslim yang memiliki hubungan dekat dengan dunia Muslim. (dn/pv/hz) www.suaramedia.com
- Iran Menuju Perubahan Penting Kesepakatan Nuklir
- Menjadi-Jadi, Imigran Yahudi Bongkar Makam Nabi Yusuf
- Bentrok Antar Golongan Yahudi Seret Rabbi Ke Meja Hijau
- Pengacara Saddam Hussein Beberkan Rencana Rahasia 2006
- Netanyahu Tak Gubris Resiko Pengrusakan Masjid Al Aqsa















