Mayjen Amos Yadlin mengatakan kepada parlemen urusan luar negeri dan komite pertahanan bahwa roket itu mampu menempuh sejauh 37 mil (60 kilometer), menempatkan pusat urban terbesar Israel tersebut dalam resiko, media Israel melaporkan.
Sampai saat ini, roket yang ditembakkan dari Gaza telah mencapai hingga 25 mil (40 kilometer), menempatkan seperdelapan dari penduduk Israel dalam jangkauan roket.
Tidak ada rincian lebih lanjut dari kesaksian Yadlin sebelum sesi yang akhirnya ditutup itu.
Pejabat pertahanan mengatakan pejuang Palestina di Gaza umumnya melakukan uji coba roket ke Laut Mediterania.
Tidak jelas apakah roket itu benar-benar terbang sejauh 37 mil (60 kilometer), atau mengapa roket Yadlin digambarkan berasal dari Iran.
Ahli balistik Israel mengatakan cat, alat kerja dan huruf Latin pada fragmen roket menunjukan bahwa itu berasal dari Iran. Namun militer belum merilis secara publik bukti jelas yang menunjukan keterlibatan Iran.
Abu Obaidah, juru bicara Hamas, berkata: "Kami menolak untuk mengomentari klaim tersebut, karena tujuan dari klaim itu adalah untuk menghasut perlawanan Palestina dan Jalur Gaza."
Dia menambahkan, "Israel dapat mengatakan apa pun yang diinginkannya. Tetapi pada akhirnya semua spekulasi dan ada banyak pertanyaan yang melayang di atas masalah ini."
"Sayap bersenjata Hamas, Izaddin al-Kassam, tidak memiliki komentar mengenai laporan ini. Kami tidak mengkonfirmasi atau menyangkal."
Teheran belum berkomentar atas tuduhan Yadlin atas keterlibatan Iran.
Israel meluncurkan perang di Gaza pada musim dingin lalu, membumihanguskan kota tersebut dalam sekejap, namun mereka berdalih bahwa serangan mematikan tersebut dilakukan untuk meredam roket dan mortir yang telah membombardir Israel selatan.
Meskipun serangan telah menurun drastis - dari 3.300 roket dan mortir yang ditembakkan pada tahun 2008 hingga 250 tahun ini, Para pejabat Israel mengatakan senjata terus masuk melalui terowongan di bawah perbatasan Gaza dengan Mesir.
Sebagian besar roket yang ditargetkan oleh Hamas di Israel adalah proyektil mentah yang disatukan bersama di toko-toko logam kecil. Tetapi para pejuang juga dikalim telah menembakkan lebih senjata jarak jauh yang lebih canggih, yang dipercaya terbuat dari bagian-bagian yang berasal dari Syiria atau Iran.
Israel mengaku rentan terhadap serangan roket dari utara, tempat keloompok Hizbullah Libanon telah mengumpulkan puluhan ribu proyektil, beberapa dikalim mampu mencapai Israel selatan.
Israel bertempur dengan Hizbullah pada tahun 2006 setelah menangkap dua prajurit dalam serangan lintas perbatasan.
Militer Israel yang berteknologi tinggi sekarang bekerja pada sebuah sistem yang dikenal sebagai "Kubah Besi" untuk menghentikan roket Hamas dan Hizbullah. Selama musim panas, sistem tersebut melakukan percobaan pertamanya dan menurut kementerian pertahanan, sistem itu berhasil mencegat dan menghancurkan roket yang masuk.
Sistem ini dijadwalkan akan beroperasi penuh pada akhir 2010.
Israel juga khawatir tentang rudal jarak jauh - terutama dari Iran - dan telah menempatkan sistem pertahanan yang rumit untuk mencegat dan menetralisir rudal sebelum mereka mencapai wilayah rezim zionis tersebut. (iw/yh/gl) www.suaramedia.com














