Qufaisheh mengecam semua negara di dunia yang menuntut agar kelompok perlawanan Palestina membebaskan Shalit sementara mereka tidak khawatir samasekali mengenai ribuan tahanan Palestina di penjara Israel.
Ia mengatakan bahwa para pejabat Israel dan petugas penjara telah melanggar semua norma dan konvensi internasional yang bermaksud untuk melindungi hak-hak para tahanan.
Gilad Shalit berada dalam tawanan Palestina sejak tertangkap oleh pejuang Jalur Gaza dalam serangan di perbatasan pada tanggal 25 Juni 2006.
Hamas telah menuntut Israel membebaskan lebih dari 1000 orang Palestina, termasuk 450 tahanan yang telah dipenjara dalam waktu lama, dari fasilitas penahanan mereka sebagai ganti pembebasan Shalit.
Lebih dari 11.500 orang Palestina, termasuk wanita dan anak-anak, saat ini dipenjara di fasilitas penahanan Israel, di mana mereka mengalami masa-masa sulit dan terkadang kondisi yang mengancam keselamatan jiwa.
Setahun lalu, pemimpin Hamas, Mahmoud Zahar, mengatakan Israel telah mengulur-ulur janji untuk membebaskan 1.000 orang tahanan sipil Palestina untuk ditukarkan dengan Kopral Gilad Shalit.
"Jika kalian menginginkan seorang prajurit, jika kalian membutuhkan sebuah komoditas yang pasti dan kalian siap untuk membayar harga untuk komoditas tersebut, maka bayarlah untuk mendapatkan prajurit tersebut. Berikan apa yang diinginkan oleh Palestina," kata Ahmed Aboul Gheit dalam sebuah wawancara dengan Associated Press di sela-sela sidang Majelis Umum PBB.
Ahmed Aboul Gheit mengatakan bahwa Israel harus lebih menunjukkan fleksibilitas. "Saya rasa yang dibutuhkan adalah 1.000 orang tahanan yang akan ditukarkan dengan Shalit," katanya.
"Saya menganjurkan Israel untuk melakukannya," kata Aboul Gheit. "Mengapa tidak? Apa yang salah? Berikan saja ribuan tahanan itu lalu ambil kembali prajurit kalian, lalu kembalikan dia kepada keluarga dan rekan-rekannya, biarkan pihak keluarga mendapatkannya kembali."
Menteri Mesir tersebut mengatakan bahwa pertukaran tahanan juga dapat mengarah pada pembukaan perbatasan Gaza.
"Yang menjadi masalah adalah, Israel tetap keras kepala dan bersikukuh bahwa perbatasan tidak akan dibuka secara permanen jika Shalit belum dibebaskan," kata Aboul Gheit.
Awal Oktober lalu, Israel membebaskan 19 wanita Palestina yang mereka tahan untuk ditukarkan dengan informasi mengenai serdadu mereka yang ditahan di sebuah penjara Gaza.
"Pembebasan para tahanan tersebut adalah hari kemenangan gerakan perjuangan Palestina," ujar Ismail Haniyya, perdana menteri Hamas yang terguling, dalam sebuah konferensi pers.
Sebagai gantinya, Israel mendapatkan sebuah rekaman video yang menunjukkan serdadu mereka yang tertangkap, Gilad Shalit sebelum membebaskan para tahanan wanita tersebut. Video tersebut menunjukkan Gilad Shalit dalam keadaan hidup dan ditayangkan di televisi Israel pada hari yang sama.
"Saya ingin menyampaikan salam kepada keluarga saya dan mengatakan kepada mereka bahwa saya mencintai mereka, merindukan mereka, dan menantikan hari dimana saya bertemu kembali dengan mereka," kata Shalit yang memegang sebuah surat kabar Gaza tertanggal 14 September 2009.
"Saya harap pemerintahan yang dikepalai oleh Benjamin Netanyahu tidak akan menyia-nyiakan sebuah peluang untuk mencapai kesepakatan," katanya.
"Saya sehat-sehat saja dan para mujahidin dari brigade (Izzuddin) Al-Qassam memperlakukan saya dengan sangat baik," sambungnya, merujuk pada sayap militer dari gerakan Islam Hamas yang mengendalikan Jalur Gaza.
Gerakan Islam Hamas dan Israel mengadakan kesepakatan pertukaran tersebut dengan disponsori oleh Mesir dan Jerman.
Pertukaran tersebut adalah langkah positif yang tercapai dalam tiga tahun upaya Israel untuk mendapatkan Shalit.
"Meski kesepakatan tersebut hanyalah merupakan langkah kecil dari sebuah jalan yang panjang, hal tersebut membuka pintu harapan untuk mencapai adanya langkah pertukaran untuk membebaskan sebanyak mungkin tahanan Palestina," kata Haniyya.
Para wanita yang dibebasakan berasal dari kawasan Tepi Barat, tidak ada dari mereka yang terlibat dalam kematian warga Israel.
Para wanita tersebut merupakan tahanan perang selama serbuan Israel ke Gaza akhir tahun lalu, meski hukum internasional melarang adanya penahanan terhadap wanita, anak-anak, dan orang tua. (rin/pv/sm) www.suaramedia.com














