Clinton berkata, "Kebijakan kami mengani masalah pemukiman masih belum berubah. Mengakhiri setiap bentuk aktivitas pemukiman di masa kini dan masa mendatang adalah hal yang penting bagi berlanjutnya proses perdamaian. Clinton mengatakan bahwa tidak ada isu yang boleh dikesampingkan dari proses negosiasi, khususnya masalah Yerusalem.
Clinton juga mencoba meyakinkan Mubarak dengan mengatakan bahwa "Tujuan kami adalah terciptanya negara Palestina, yang memiliki kedaulatan sesungguhnya."
"Tidak ada yang dapat mengganggu komitmen kami untuk terus melangkah maju. Memang ada sejumlah penghalang, namun kami tidak akan membiarkan apapun merintangi tujuan kami."
Akan tetapi, Clinton menegaskan kembali sikapnya yang memandang proposal Israel untuk mengekang pembangunan pemukiman sebagai sebuah "langkah positif" untuk menuju masa depan yang cerah.
Clinton bertolak ke Kairo untuk menjelaskan pernyataan yang dikeluarkannya pada minggu lalu, dimana ia menyatakan bahwa Pemerintah Israel telah menunjukkan "komitmen tidak terduga" untuk mengekang aktivitas pemukiman yang ada di Tepi Barat dalam waktu 9 hingga 12 bulan ke depan dengan cara "hanya" menyelesaikan 3.000 unit perumahan, meski rata-rata tahunan berada pada kisaran 1.400.
Negara-negara Arab mengecam kata-kata Clinton dan menganggapnya sebagai pemutarbalikan dari deklarasi bulan Mei, dimana ia menyatakan bahwa harus ada penghentian pemukiman secara keseluruhan, bukan sebagian.
Clinton bergegas menuju mesir setelah para menteri luar negeri Arab mempertanyakan sikap Clinton dalam sebuah konferensi pers tertutup di Maroko.
Menteri Luar Negeri Mesir, Ahmed Aboul Gheit, mengatakan bahwa dirinya ingin menyambut Clinton setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Presiden Mubarak. "Kami juga bertemu dengan Clinton kemarin petang. Pertemuan tersebut berlangsung selama dua jam, pertemuan dua jam dengan sebuah pekerjaan yang intensif. Pembicaraan AS dengan Mesir membahas mengenai isu Palestina, upaya perdamaian antara Palestina dan Israel, dan bagaimana cara kami untuk membuat proses negosiasi kembali pada jalurnya.
"Kami juga berbicara mengenai isu-isu regional, seperti Afghanistan, Yaman, Pakistan, dan Libanon. Pembicaraan antara kedua negara berlangsung produktif, jujur dan segalanya menjadi jelas. Masing-masing kubu mengemukakan visinya. Dan kami menjabarkan visi Mesir mengenai perdamaian," tambah Gheit.
Menanggapi ucapan Gheit, Clinton menyampaikan terima kasih. "Adalah sebuah kehormatan bagi saya untuk berada di sini dengan Menteri Gheit. Beliau dan Saya telah sering bertemu dan berbicara lewat sambungan telepon sejak saya mulai menjabat sebagai menteri luar negeri."
"Seperti yang dikatakan Menteri Gheit, kami melakukan pertemuan yang amat produktif dan komprehensif tadi malam bersama dengan menteri luar negeri dan Jenderal Suleiman, kemudian kami melakukan pertemuan yang konstruktif dan amat positif dengan Presiden Mubarak."
"AS memandang Mesir sebagai rekanan yang penting, bukan hanya di kawasan Timur Tengah, namun juga dalam isu global dan regional. Dan kami berkomitmen untuk bekerjasama dengan Mesir untuk memperkuat dan memperdalam kerjasama dan kemitraan dalam hal-hal penting ini," tambah Clinton.
"Fokus utama kami dalam pembicaraan dengan Presiden Mubarak, tentu saja, mengenai upaya perdamaian Timur Tengah. Saya menekankan kepada Presiden Mubarak bahwa Presiden Obama, utusan khusus Mitchell, yang berada di sini bersama saya, dan saya sendiri memegang teguh komitmen untuk mencapai solusi dua negara, dan perdamaian menyeluruh antara Israel, Palestina dan seluruh negara Arab. Hal itu adalah sebuah komitmen yang membuat kami berada di kawasan Timur Tengah, khususnya Kairo. Kami berupaya keras untuk membantu pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan negosiasi. Dan kami menganggap Mesir dan negara-negara Arab lainnya sebagai mitra penting dalam membantu menggerakkan upaya ini untuk mencapai kemajuan. Saya meyakinkan presiden, menteri dan masyarakat, bahwa AS juga turut merasa simpati terhadap penderitaan penduduk Gaza." (dn/it/sc) www.suaramedia.com
Click Video














