Menyalahkan Israel dan AS atas tersendatnya proses pembicaraan perdamaian Timur Tengah, Abbas mengatakan bahwa dirinya telah memberitahu Komite Pusat Fatah dan Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), bahwa dirinya tidak memiliki hasrat untuk mencalonkan diri dalam pemilihan umum Januari tahun depan.
Dalam sebuah pidato yang ditayangkan televisi pemerintah pada hari Kamis (5/11), Abbas mengatakan bahwa keputusan tersebut diambilnya karena sikap keras kepala Israel yang tidak mau berkompromi mengenai masalah pemukiman Yahudi ilegal, ditambah lagi dengan sikap acuh dari komunitas internasional mengenai permasalahan tersebut.
Abbas mengatakan bahwa keputusan tersebut bukanlah sebuah manuver, dan ia meminta semua pihak untuk dapat memahami keputusan yang diambilnya.
Abbas menekankan bahwa pada awalnya Presiden AS Barack Obama memberikan harapan bagi Palestina, namun pada akhirnya hanya membuat mereka kecewa. Abbas menambahkan, kini sudah jelas bahwa AS lebih memprioritaskan Israel dan pemukiman Yahudi ilegal.
"Kami dulunya merasa optimis ketika Presiden Obama mengumumkan mengenai pentingnya pembekuan pemukiman Yahudi," katanya. "Kami merasa terkejut dan kecewa dengan dukungan yang ia berikan (di kemudian hari) kepada Israel."
"Mimpi-mimpi semakin memudar dan resiko menjadi semakin besar, semakin sulit dan bahkan tidak mungkin memprediksikan ke arah mana arogansi Israel akan berujung," katanya.
Abbas melanjutkan, seluruh harapan dan mimpi menjadi hancur berkeping-keping kala Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton memuji Perdana Menteri garis keras Israel, Benjamin Netanyahu, dan tawaran Israel untuk membatasi pembangunan pemukiman secara temporer di Tepi Barat.
Namun, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Abbas masih meninggalkan celah kemungkinan perubahan pikiran, jika saja AS mendukung posisinya yang menuntut diakhirinya pembangunan ilegal di tanah Palestina.
Abbas mengatakan bahwa AS masih memiliki peranan penting dalam upaya perdamaian di kawasan tersebut, namun kini hatinya telah terlanjur sakit mendapati kenyataan tersebut.
"Solusi dua negara dimana Israel dan Palestina hidup berdampingan dalam perdamaian dan keamanan masih mungkin terjadi," tambahnya.
Sementara itu, Gedung Putih memuji Abbas sebagai seorang "mitra sejati" AS, namun di sisi lain masih menolak untuk membahas implikasi untuk perdamaian.
Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengatakan bahwa dirinya berkeinginan untuk bekerjasama dengan Abbas dalam "kapasitas apapun".
Clinton mengatakan, dirinya dan Abbas telah membahas masa depan politik sang presiden Palestina dalam kunjungannya ke Timur Tengah minggu lalu.
"Dia menegaskan kembali komitmen pribadinya untuk melakukan segala hal yang mampu ia lakukan untuk mencapai solusi dua negara dalam konflik Israel – Palestina. Saya berkeinginan untuk bekerjasama dengan Presiden Abbas dalam kapasitas baru untuk membantu mencapai tujuan ini," kata Clinton.
Editor Timur Tengah BBC, Jeremy Bowen, mengatakan bahwa keputusan tersebut merupakan sebuah pukulan serius bagi upaya pemerintah AS dalam kebijakan Timur Tengahnya.
Strategi AS semakin terpukul, dan tanpa kehadiran Presiden Abbas, maka strategi itu akan terhenti ketika calon penerus Abbas bersaing untuk mendapatkan kekuasaan, katanya.
Abbas mengambil alih jabatan kepala PLO setelah Yasser Arafat wafat pada tahun 2004, ia kemudian menjadi Presiden Palestina satu tahun sesudahnya. (dn/pv/bc) www.suaramedia.com
- Hadapi Israel, Hamas Beri Fatah Perjanjian Bersyarat
- Pertahankan Al Aqsa, Ketua Pejuang Palestina Diadili Israel
- Serangan Udara Saudi Bobol Perbatasan Yaman Utara
- Tumbangnya "Tembok Berlin" Di Tangan Rakyat Palestina
- PBB Minta Iran Jelaskan Rahasia "Ledakan Dua Titik"














