"Jika Anda meninggalkan jabatan presiden, maka rakyat Palestina akan kehilangan peluang untuk mendapatkan sebuah negara merdeka," kata Presiden Israel, Shimon Peres, dalam sebuah sambungan telepon kepada Abbas, demikian diberitakan oleh surat kabar Israel, Haaretz.
Peres menambahkan, situasi di negara kawasan ini akan memburuk. Tetaplah pada jabatan Anda, demi kepentingan rakyat Palestina."
Haaretz menambahkan bahwa meski Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak memberikan komentar secara publik, dalam sejumlah rapat pribadi, ia mengatakan bahwa Israel berkepentingan dengan posisi Abbas yang kuat, karena dapat melanjutkan proses negosiasi.
"Dari berbagai alternatif yang ada, jika kami menginginkan kesepakatan dengan Palestina, maka Abbaslah mitra yang paling baik," kata Netanyahu beberapa hari sebelumnya, dikutip oleh Haaretz. "Rekanan terbaik adalah Abbas, namun jika Israel mengintervensi politik internal Palestina, hal itu hanya akan berakibat buruk."
Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak, mengharapkan bahwa keputusan Abbas untuk tidak lagi mencalonkan diri tidak akan mempengaruhi status quo.
"Amat penting bagi kedua kubu untuk tetap mempergunakan prinsip negosiasi untuk melanjutkan kesepakatan," kata Barak dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh surat kabar tersebut. "Saya menyarankan untuk melakukan segala upaya dalam mencapai kesepakatan dua negara, dengan tetap mempertahankan "kepentingan keamanan" Israel."
Abbas juga menyampaikan pesan kepada para pemimpin Israel melalui televisi pada hari Kamis (5/11) petang.
"Kepada pemerintah dan publik Israel," kata Abbas, "Perdamaian jauh lebih penting dibandingkan keuntungan politik macam apapun. Perdamaian jauh lebih penting dibandingkan dengan (menjaga) pemerintahan koalisi yang justru mendorong kawasan ini menuju jurang kehancuran."
"Sudah menjadi visi saya selama bertahun-tahun bahwa perdamaian merupakan hal yang mungkin terjadi, dan saya memang mengusahakan hal tersebut," kata Abbas. "Dari pengalaman saya, telah terlihat bahwa solusi dua negara – Palestina dan Israel yang hidup berdampingan dalam perdamaian dan keamanan – masih dimungkinkan meski ada banyak bahaya yang kita hadapi, dan jumlah bahaya tersebut semakin meningkat."
Sementara itu, deputi menteri luar negeri Israel, Danny Ayalon, berkata kepada sebuah stasiun radio: "Ini adalah urusan internal (Palestina)."
"Namun hal ini merupakan bukti bahwa Israel dan AS tertarik dengan adanya kepemimpinan Palestina yang bertanggung jawab dan pragmatis," tambahnya.
Situs pemberitaan Israel, Ynet, mengutip ucapan seorang pejabat yang tidak disebutkan identitasnya. Pejabat tersebut berkata: "Israel berkepentingan untuk membuat Abbas tetap menjadi presiden."
"Netanyahu tidak menginginkan Abu Mazen (Abbas) untuk pergi," kata seorang pejabat lainnya kepada surat kabar Maariv. "Dia adalah orang yang berhati-hati, mungkin tidak perlu dirangkul terlalu erat, namun dia jelas merupakan kandidat yang "tidak terlalu jahat" jika dibandingkan dengan jajaran pemimpin Palestina."
Namun, sebagian besar pers Israel mengatakan bahwa keputusan Abbas tersebut hanya sebuah taktik yang ditujukan untuk memaksa AS agar bersedia menekan Israel untuk membekukan proses pembangunan pemukiman Yahudi ilegal di seluruh kawasan Tepi Barat.
"Pertunjukan Ancaman Abu Mazen," demikian bunyi sebuah tajuk utama yang dimuat di surat kabar Israel, Maariv.
"Pengumuman itu hanya sebuah taktik, yang terutama ditujukan kepada Amerika," kata seorang pejabat Israel kepada harian Yediot Aharonot.
Para pejabat Palestina mengatakan bahwa keputusan Abbas diambil karena merasa kecewa terhadap sikap Washington dalam isu pemukiman Yahudi ilegal.
Setelah berbulan-bulan menekan Israel untuk membekukan total pembangunan pemukiman, Washington tiba-tiba mundur, Menteri Luar Negeri Hillary Clinton justru memuji tawaran Israel untuk membatasi atau mengekang pembangunan pemukiman dan menyatakan hal tersebut sebagai hal yang "tidak diduga sebelumnya." (dn/mn/af) www.suaramedia.com














