Dengan ucapan yang cenderung menuju ke arah perdamaian setelah melalui ketegangan politik dengan Mahmoud Abbas bulan lalu, Meshaal mengatakan bahwa gerakan Islam Hamas mengulurkan tangan kepada faksi Fatah pimpinan Abbas untuk mengakhiri perselisihan antara kedua kubu yang semakin memperburuk keadaan Palestina.
"Harus ada keberanian, kami sebagai pemimpin Palestina harus jujur kepada rakyat dan mengevaluasi apa yang mampu membuat kami bersatu dan memutuskan bersama untuk membekukan proses (perselisihan) politik yang ada dan mengejar tujuan nasional kami," kata Meshaal dari ibukota
Meshaal menambahkan, berkompromi dengan Israel, mulai dari perjanjian Oslo tahun 1993, selalu berujung kegagalan dalam menghentikan ekspansi pemukiman Israel dan membuat Palestina tidak mampu mencapai negara merdeka di tanah yang dirampas Israel sejak perang Timur Tengah tahun 1967 tersebut.
Abbas menghentikan pembicaraan dengan Israel kala negara Zionis tersebut melancarkan invasi dan pembantaian di
Sejak saat itu, berbagai upaya AS untuk memulai kembali proses negosiasi selalu berujung pada kegagalan. Kelompok Hamas menentang tuntutan Barat unruk mengakui keberadaan
"Pemimpin manapun yang ingin melihat kembalinya para pengungsi Palestina dan kembalinya tanah kami, bahkan jika itu hanya pada batasan tahun 1967, harus menyadari bahwa satu-satunya cara untuk melakukan itu bukanlah melalui proses negosiasi atau bertaruh dengan Amerika, namun melalui perjuangan suci, perlawanan dan persatuan nasional," kata Meshaal.
"Tangan kami terulur untuk berdamai dengan saudara-saudara kami di Fatah dan kepresidenan Palestina demi mencapai tujuan nasional," tambahnya. Namun ia tidak membuat proposal perdamaian baru setelah Hamas menolak kesepakatan damai yang dimediasi oleh Mesir.
Hamas memenangkan pemilihan parlemen secara adil pada tahun 2006, mengalahkan faksi yang dulunya dominan serta lebih sekuler, Fatah, dan memenangkan perang sipil singkat yang terjadi di Jalur Gaza satu tahun sesudahnya, melawan Fatah.
Abbas kemudian menyingkirkan pemerintahan Hamas dan membentuk pemerintahannya sendiri di wilayah Tepi Barat.
Ketegangan antar faksi tersebut berlangsung mematikan, ratusan warga Palestina ditangkap dalam sebuah peristiwa yang dilancarkan terjadap kelompok rival
AS menolak untuk berbicara dengan Hamas dan menganggap gerakan Islam tersebut sebagai organisasi "teroris".
Bulan lalu, Abbas menyerukan mengenai pemilihan presiden dan parlemen pada bulan Januari mendatag, ditentang oleh Hamas. Dan pada hari Kamis mengumumkan bahwa dirinya tidak berkeinginan untuk terpilih kembali sebagai presiden.
Meshaal, yang tinggal di pengasingan di Syria, mengatakan bahwa keputusan Abbas tersebut disebabkan oleh rasa kecewa terhadap AS, negara Barat yang menjadi pendukung utama Abbas sekaligus negara sekutu utama Israel.
Hamas mengatakan bahwa Meshaal minggu ini bertemu dengan delegasi dari Dewan Kepentingan Nasional, sebuah lembaga independen AS yang mengupayakan kebijakan AS yang lebih baik di Timur Tengah,
Dalam delegasi tersebut ada sosok Jack Matlock, seorang mantan duta besar AS untuk Moskow. Ini merupakan yang pertama kalinya Hamas mengumumkan pertemuan dengan kelompok yang di masa lalu pernah berkunjung ke














