Namun, warisan Anwar Al Sadat melebihi makam tersebut. Tidak ada pengunjung tempat itu yang tidak akan tersentuh olehnya.
Sementara banyak orang di Barat yang mengenangnya sebagai pria yang membuat perdamaian dengan Israel – dan yang akhirnya dibunuh karena mengambil langkah tersebut – rekan-rekan sebangsanya mengingatnya sebagai tentara yang mengembalikan kebanggaan Mesir yang hilang dalam Perang Enam Hari tahun 1967.
Pada tanggal 6 Oktober 1973, para prajurit penggali parit dari militer Mesir menggunakan meriam air untuk menembus garis Bar Lev dan mengalahkan pasukan Israel. Israel mengalami kekalahan militer yang cukup serius dan sementara mereka mengumpulkan inisiatif, perang Sadat mengakhiri karir Perdana Menteri Golda Meir dan Menteri Pertahanan Moshe Dayan.
Di tingkat diplomatik ada perdamaian dengan Israel. Namun di balik permukaan ada kebencian yang menggelora, dikobarkan oleh liputan berita tentang serangan Israel ke Gaza dan invasi berdarah ke Libanon.
Pariwisata adalah sumber pendapatan terbesar kedua bagi Mesir, hanya dapat disaingi oleh Terusan Kanal. Namun semakin sedikit para turis yang datang untuk melihat harta karun arkeologis Mesir. Resesi di Eropa telah mulai memberikan dampak negatif dan meningkatnya kekhawatiran akan keamanan memberikan dampak yang bahkan lebih besar lagi.
Telah terjadi beberapa serangan serius terhadap para turis dalam sepuluh tahun terakhir namun potensi serangan baru masih sangat nyata. Untuk menepis rasa takut, Mesir telah menciptakan polisi pariwisata, berjubah putih, untuk membedakannya dengan polisi biasa yang berjubah hitam.
Dalam banyak cara, penerus Sadat, Hosni Mubarak, mantan kepala angkatan udara, telah mengubah Mesir menjadi sebuah negara polisi. Mubarak, yang telah bersumpah untuk memimpin hingga ajal menjemput, telah memegang kekuasaan lebih lama dari keempat Firaun yang pernah menguasai Mesir. Putranya, Gamal, sedang dididik untuk meneruskan kepemimpinannya.
Mesir adalah salah satu demokrasi yang perdana menterinya tidak memiliki kekuasaan. Tidak ada yang tahu nama perdana menteri Mesir, namun semua orang tahu siapa presidennya.
Partai oposisinya, Persaudaraan Muslim, dicekal. Namun, anggota partainya telah memenangkan pemilihan secara individual dan memperoleh 20% kursi parlemen tahun 2005.
Semua editor dan reporter yang menentang rezim Mubarak dipenjara. Ayman Nour, yang menantang Mubarak dalam pemilihan presiden terakhir, dibebaskan karena alasan kesehatan setelah berada dalam tahanan selama tiga tahun dari masa tahanan lima tahun. Sejak saat itu ia tidak diberi ijin untuk bepergian ke AS.
Terlepas dari semua masalah itu, Mesir tetap menjadi pusat dunia Arab. Presiden Barack Obama memberikan pidato kebijakannya kepada dunia Muslim di bulan Juni dari Universitas Kairo.
Hampir satu dari tiga warga Mesir bertempat tinggal di Kairo. Kehidupan di gang-gang sempit diuraikan dalam Trilogi Kairo oleh Naguib Mahfouz, membuatnya memenangkan Penghargaan Nobel untuk bidang sastra di tahun 1988.
Kairo adalah rumah bagi Al Azhar, universitas Islam berumur 1000 tahun, dan makam ahli agama Al Shafii. Kairo juga menjadi rumah bagi Benteng Salahuddin, tempat terjadinya Perang Salib.
Sejak perjanjian Kamp David tahun 1978, Mesir menjadi penerima utama bantuan dari AS. Namun, terlepas dari itu, rata-rata rakyat Mesir memandang AS dengan penuh kecurigaan. Kebanyakan bantuan AS tidak sampai ke tangan orang-orang yang membutuhkan. Rakyat Mesir juga tidak pernah melihat adanya perubahan dalam kebijakan AS terhadap Israel.
Mesir terus menjadi negara miskin dengan kalangan super kaya yang tinggal berdampingan dengan golongan super miskin. Namun, perubahan tampaknya akan datang seiring dengan meningkatnya pendidikan dan pengetahuan internet di kalangan menengah. Terjebak di antara ekstem kaya dan miskin, kelompok menengah terdorong oleh keinginan untuk memperoleh kebebasan yang tersedia bagi masyarakat di tempat lain.
Sebuah jajak pendapat terbaru yang dilaporkan dalam Egypt Today menemukan bahwa 75% rakyat Mesir menginginkan lebih banyak demokrasi. Pemilihan parlemen masih satu tahun lagi dan presiden dua tahun lagi. Tanpa adanya revolusi, Mesir akan tetap seperti ini.
Revolusi kali terakhir terjadi pada tahun 1952, menggulingkan Raja Farouk, mengakhiri garis yang dibentuk oleh Mohammad Ali tahun 1805. Namun, seperti halnya kebanyakan revolusi Dunia Ketiga, revolusi Mesir adalah sebuah kudeta yang gagal membawa perubahan sosial. Sejak saat itu kelompok militer telah memerintah Mesir melalui undang-undang darurat militer. (rin/dn) www.suaramedia.com














