Rabbi Yitzhak Shapiro, yang mengepalai Od Yosef Chai Yeshiva di pemukiman Yahudi ilegal, Yitzhar, menulis sebuah buku yang berjudul "The Kings Torah" (Taurat Sang Raja).
Di dalam buku tersebut, shapiro menuliskan bahwa siapapun boleh dibunuh, termasuk bayi-bayi dan anak-anak dibawah umur, jika dianggap sebagai "ancaman" bagi Israel.
Sebagian besar ajaran yang disebarkan oleh Shapiro didasarkan pada kutipan dari kitab suci Torah, kemudian ia menambahkan opini dan keyakinannya sendiri.
"Kita diperbolehkan untuk membunuh orang-orang, bahkan jika mereka tidak bertanggung jawab atas situasi yang mengancam," tulisnya.
"Jika kita membunuh orang non-Yahudi yang telah "berdosa" atau telah melanggar tujuh perintah Tuhan, karena kita mematuhi perintah Tuhan, maka sama sekali tidak ada yang salah dengan tindakan (pembunuhan) tersebut."
Sejumlah rabbi terkemuka, termasuk rabbi Yitzhak Ginzburg, dan rabbi Yaakov Yosef, telah merekomendasikan buku tersebut untuk dibaca oleh para murid dan pengikut mereka.
Hal tersebut semakin menegaskan ideologi pembunuhan yang dilegalkan oleh Yahudi. Yaakov Teitel, seorang teroris pemukim yang telah diringkus karena merenggut nyawa dua orang penduduk Palestina, ternyata telah didekati oleh agen keamanan domestik Israel dan dijadikan informan setelah serangan tersebut.
Yaakov "Jack" Teitel, seorang imigran Yahudi berusia 37 tahun dari AS, dibekuk pada bulan Oktober silam atas dugaan kuat pembunuhan. Kasus pembunuhan itu sendiri terjadi pada tahun 1997 kala Teitel mengunjungi Israel sebagai seorang turis, demikian disampaikan oleh pihak kepolisian.
Selain kasus pembunuhan, Teitel juga diduga kuat menjadi aktor dibalik serangkaian serangan teror berupa ledakan bom sejak tahun 2006 silam.
Ketika Teitel kembali ke Israel pada tahun 2000, tiga tahun berselang setelah pembunuhan, dia ditanyai oleh agen intelijen domestik Israel, Shin Bet, dan pihak kepolisian seputar pembunuhan tersebut, namun tidak ada tuduhan dan proses hukum yang dilakukan.
Sebelumnya, Rabbi ortodoks Yahudi, Manis Friedman, dari St. Paul, Minnesota, telah memberikan pernyataan bahwa Israel harus menghancurkan tempat-tempat suci Islam dan membantai warga sipil dalam apa yang disebutnya sebagai "cara Yahudi" untuk bertarung dalam "peperangan moral".
Pernyataan tersebut dilontarkan sebagai tanggapan atas pertanyaan, "Bagaimana seharusnya kaum Yahudi memperlakukan para tetangga Arab mereka?" yang dimuat dalam majalah Yahudi, Moment, edisi Mei/Juni, dalam sebuah kolom yang diberi judul tanyakan kepada para Rabbi. Majalah tersebut menuliskan berbagai tanggapan dalam kolom tersebut.
Tanggapan-tanggapan tersebut dikemukakan oleh sembilan rabbi yang berbeda, masing-masing rabbi mewakili berbagai sekolah dan disiplin yang berbeda, dan masing-masing sekolah mewakili pola pikir Yahudi yang berbeda pula. Para rabbi yang diambil pendapatnya dalam jajak pendapat tersebut ada yang independen, humanis, reformis, ortodoks modern, pembaharu, berpikiran membangun, konservatif, aliran Sephardic dan Chabad.
Rabbi Friedman yang mewakili seksi Chabad dalam artikel tersebut mengemukakan pendapatnya seperti berikut:
"Saya sama sekali tidak percaya dengan moralitas Barat. Misalnya, jangan membunuh warga sipil, jangan menghancurkan tempat suci, jangan bertempur dalam hari besar, jangan meledakkan pemakaman, jangan menembak hingga lawan menembak terlebih dahulu karena hal tersebut tidak bermoral. Namun, saya tidak mempercayai itu semua, omong kosong! Satu-satunya cara yang paling benar adalah mempergunakan tata cara Yahudi: Hancurkan tempat suci mereka (umat Islam). Kemudian bunuh semua pria, wanita, anak-anak, termasuk juga binatang peliharaan mereka." (dn/hz) www.suaramedia.com














