Menurut surat kabar Haaretz, ada pembicaraan mengenai kerjasama permanen antara militer kedua negara, namun hal tersebut sejatinya dirahasiakan dan baru kali ini muncul dalam pemberitaan. Latihan tersebut dirahasiakan untuk menghindari sentimen negatif terhadap Yordania, yang mungkin dapat membatalkan latihan tersebut.
Surat kabar tersebut menambahkan, latihan dimulai pada hari Senin (9/11) pukul delapan pagi. Dalam latihan tersebut, skenario yang dipergunakan adalah sebuah simulasi bencana alam yang berupa gempa bumi, dan para pasukan melakukan latihan penyelamatan, dan pemadaman api.
Selain itu, militer kedua kubu juga melakukan latihan evakuasi dan merawat para korban "gempa".
Untuk menciptakan kesan yang nyata, sejumlah gedung di Kibbutz Messilot diruntuhkan. Menurut laporan radio, militer kedua kubu bekerjasama secara penuh, dalam persiapan untuk menghadapi keadaan darurat di masa mendatang.
Sebuah surat kabar lain menambahkan, latihan antara Yordania dan Israel melibatkan ribuan orang prajurit dari kedua kubu, pasukan Israel juga mempergunakan sejumlah anjing dalam latihan tersebut.
Sumber kemiliteran mengatakan bahwa kerjasama militer antara kedua negara berlangsung dengan lancar, dan kendala bahasa tidak menghalangi pelaksanaan latihan.
Sumber-sumber di Yordania mengatakan bahwa militer Yordania telah melakukan latihan dengan baik dan menunjukkan level keahlian yang profesional serta membuat militer Israel terkesan.
Bulan lalu, kesepakatan damai antara Israel dan Yordania telah mencapai 15 tahun, namun Yordania mengecam Israel karena bentrokan antara warga Arab dan pasukan keamanan Israel di Kota Tua Yerusalem. Yordania memperingatkan bahwa tindakan provokatif Israel tersebut dapat membuyarkan peluang untuk mencapai keamanan dan stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Pada hari Senin (9/11), Raja Abdullah II dari Yordania menyerukan kepada Israel dan Palestina untuk menghentikan segala macam tindakan yang dapat meruntuhkan peluang perdamaian Timur Tengah, ia menambahkan bahwa Israel harus berhati-hati dengan isu Yerusalem.
"Yerusalem adalah sebuah garis merah, dan Israel harus menyadari bahwa kota tersebut juga penting bagi umat Muslim dan Kristiani, dan berhentilah bermain api," kata Raja Abdullah. Ia menyerukan kepada AS dan komunitas internasional untuk mengambil tindakan.
Tindakan tersebut penting untuk memastikan bahwa negosiasi yang digelar di masa mendatang difokuskan pada perjanjian permanen, termasuk perbatasanm status para pengungsi Palestina dan masa depan Yerusalem.
Raja Abdullah menambahkan, hasil akhir negosiasi harus menentukan pendirian negara Palestina merdeka, sesuai dengan batas tahun 1967, dengan Yerusalem sebagai ibukota.
Negosiasi semacam ini harus digarisbawahi secara jelas dan dicapai dalam jangka waktu yang telah ditentukan, tambah sang Raja.
Para pemimpin Yordania dan Mesir, dua negara Arab yang menjalin kesepakatan damai dengan Israel, memperingatkan bahwa tindakan sepihak Israel di Yerusalem Timur dan wilayah-wilayah Arab lainnya telah merusak upaya untuk meneruskan negosiasi damai dengan Palestina, dan akan menimbulkan dampak yang berbahaya bagi kawasan tersebut.
Pada hari yang sama, Israel merampungkan peranannya dalam latihan Juniper Cobra 10, serangkaian latihan manuver angkatan udara dengan militer AS. (dn/im/jp/hz) www.suaramedia.com
- Beri Beasiswa Kepada Simbol Kerusuhan, Oxford Dihujat Iran
- Tambah Kekuatan, Israel Semakin Dekat Dengan Siluman AS
- "Saat Yang Tepat" Bagi Abbas Mengundurkan Diri Dari Fatah
- Mampu Jangkau Tel Aviv, Roket Hizbullah Gentarkan Israel
- Anggota Hizbullah Jadi Menteri, Israel Panik














