Sumber tersebut juga mengatakan bahwa pengumuman Abbas minggu lalu tentang dirinya yang tidak akan mencalonkan lagi sebagai presiden adalah sebuah keputusan serius dan bukan manuver politik seperti yang dikatakan para analis.
Abbas juga sedang menunggu momen yang tepat untuk mengumumkan pengunduran dirinya dari PLO dan badan pemerintahan Fatah.
Sumber itu mengatakan bahwa inilah yang dimaksudkan oleh sang presiden dalam pidatonya pada hari Kamis minggu lalu ketika ia merujuk tentang membuat "keputusan yang tepat di saat yang tepat".
Dalam pidatonya minggu lalu, Abbas mengatakan bahwa ia tidak memiliki keinginan untuk kembali menjabat dalam sebuah pemilu yang ia jadwalkan tanggal 24 Januari, menyebutkan frustrasi dengan adanya kebuntuan proses perdamaian dengan Israel selama satu tahun.
Para analis mengatakan bahwa pengumuman itu kemungkinan adalah taktik untuk membuat AS lebih menekan Israel agar memenuhi kewajibannya menghentikan perluasan pemukiman Tepi Barat.
Dalam sebuah wawancara dengan New York Times yang dipublikasikan pada hari Senin, ketua negosiator PLO Saeb Erekat mengatakan bahwa Abbas telah kehilangan keyakinan pada Otoritas Palestina sebagai sebuah institusi.
"Ia benar-benar berpendapat tidak ada perlunya untuk menjadi seorang presiden atau untuk memiliki Otoritas Palestina," ujarnya mengutip perkataan Abbas.
Menyebut krisis itu lebih besar dari sekedar politik, Erekat memperingatkan adanya implikasi-implikasi yang lebih luas, "Ini bukan tentang siapa yang akan menggantikannya. Ini tentang kami yang akan meninggalkan jabatan kami. Menurutmu apakah masih ada yang tinggal setelah dia pergi?"
"Saya rasa dia menyadari bahwa dia telah menempuh proses perdamaian sejauh ini untuk menciptakan sebuah negara Palestina namun negara yang ia bayangkan itu sampai kini belum terlihat." Tanpa prospek itu, Abbas tidak lagi merasa relevan, tambah Erekat.
Pernyataan tertutup Abbas tentang kemungkinan pengunduran dirinya dilontarkan kepada delegasi diplomatik Mesir yang mengunjungi Otoritas Palestina di Ramallah. Delegasi itu dipimpin oleh Yasser Othman, duta besar Mesir yang baru untuk Palestina, yang mengunjungi Abbas untuk mencoba meyakinkannya mempertimbangkan kembali keputusan untuk mundur dari kepresidenan.
Para tamu itu merasa terkejut dengan kebulatan tekad Abbas untuk mundur dari jabatannya.
Pengunduran diri Abbas dapat membalik keadaan Ramallah, meninggalkan arena politik Palestina dalam kekacauan.
Sementara itu, sumber lain dari Palestina mengatakan bahwa meskipun Abbas berusaha untuk mengundurkan diri, kemungkinan besar ia akan tetap dipertahankan pada posisi sebagai seorang "presiden temporer" untuk jangka waktu tertentu, karena Hamas menolak penyelenggaraan pemilu di Gaza, dan Fatah menolak mengadakan pemilu di Tepi Barat tanpa adanya pencalonan dari rival gerakannya.
Menurut hukum Palestina, jika seorang presiden mengundurkan diri atau tidak mampu melanjutkan posisinya, juru bicara parlemen akan mengambil alih posisinya selama 60 hari. Juru bicara parlemen saat ini adalah Aziz Dweik, salah satu tokoh utama Hamas di Tepi Barat.
Namun, beberapa sumber Fatah, telah memeriksa kemungkinan pengunduran diri Abbas tanpa adanya pemilu. Sumber-sumber itu menyebut nama Marwan Barghouti, salah satu figur utama Fatah yang dipenjara Israel sejak tahun 2002, sebagai kandidat potensial untuk menggantkan Abbas dalam skenario tersebut. Jika Barghouti memutuskan untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden, tekanan pada Israel untuk membebaskannya akan semakin besar. (rin/mn/hz) www.suaramedia.com
- Yahudi Terusir Ancaman Ledakkan Parlemen Israel
- Kebijakan Gagal AS Tak Mampu Cerahkan Timur Tengah
- Gerah Menanti Rusia, Iran Luncurkan Satelit Dari Italia
- Beri Beasiswa Kepada Simbol Kerusuhan, Oxford Dihujat Iran
- Tambah Kekuatan, Israel Semakin Dekat Dengan Siluman AS














