Jumat, 25 Mei 2012

Headlines:

Kebijakan Gagal AS Tak Mampu Cerahkan Timur Tengah

E-mail Cetak PDF
WASHINGTON, D.C. (Berita SuaraMedia) - Upaya untuk menghidupkan kembali perundingan perdamaian Timur Tengah sejauh ini telah gagal untuk mendapatkan hasil apapun, kata Asisten Menteri Luar Negeri AS, William Burns.

"Saya berharap saya bisa berdiri di hadapan Anda sekarang ini dan menunjuk ke arah kemajuan yang berarti terhadap tujuan kami, (tetapi) saya tidak mampu," Burns mengaku dalam konferensi Institut Timur Tengah pada hari Selasa.

Namun ia menegaskan bahwa pemerintah Presiden Barack Obama akan tetap berkomitmen untuk solusi dua negara mengenai konflik Israel-Palestina, sementara mengulangi bahwa pembekuan kegiatan pemukiman Israel tetap menjadi tuntutan AS dalam masalah ini.

"Kami tidak menerima legitimasi keberlanjutan permukiman Israel," Burns mengatakan kepada wartawan mengakui bahwa Israel "tidak memenuhi kewajibannya dalam melanjutkan peta untuk secara total membekukan pemukiman".

Burns mengeluarkan pernyataan sehari setelah Obama dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu di Gedung Putih. Laporan perpecahan di antara kedua pemimpin telah menguak.

Netanyahu, dengan koalisinya yang cenderung berhaluan kanan termasuk partai-partai pro-pemukim, telah menolak seruan Obama untuk membekukan total pembangunan pemukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki, yang dianggap oleh Palestina sebagai pra-syarat untuk melanjutkan perundingan damai.

Pada hari Selasa, ajudan dekat Kepala Otorita Palestina Mahmoud Abbas mengatakan ia mungkin mengundurkan diri, jika gagal AS menumpuk lebih banyak tekanan pada Israel agar memenuhi permintaan Palestina.  

Obama mengatur perdamaian Timur Tengah sebagai prioritas utama pada awal masa jabatannya sebagai presiden bulan Januari, berbeda dengan pendahulunya George W. Bush, yang dikritik internasional untuk mengabaikan konflik yang telah berjalan lama tersebut.

Namun, pemerintahan baru sedikit menunjukan usahanya sejauh ini.

Permukiman Israel secara luas dianggap sebagai rintangan utama dalam upaya pembicaraan damai yang komprehensif antara Israel-Palestina.

Di bawah Roadmap for Peace tahun 2002 rencana yang ditengahi oleh AS, Uni Eropa, PBB, dan Rusia, Israel harus 'membongkar pos-pos penyelesaian didirikan sejak tahun 2001 dan juga membekukan semua kegiatan pemukiman'.

Sebelumnya Presiden Barack Obama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah melakukan pembicaran tiga arah pada bulan September lalu yang diadakan di New York.

Pada saat pembicaraan yang pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa itu, Obama tampaknya tidak mencoba untuk menyembunyikan ketidaksabaran dan frustrasinya atas proses perdamaian Israel-Palestina.

"Secara sederhana, saat ini sudah lewat waktu untuk berbicara tentang memulai negosiasi, sudah waktunya untuk bergerak maju," kata Obama tegas pada awal pembicaraan tiga-arah hari ini dengan kedua pemimpin negara yang sedang bersengket itu.

Dia mengatakan kepada kedua pemimpin itu dengan jelas: "Meskipun dengan adanya semua rintangan, semua sejarah, semua kecurigaan, kita harus menemukan jalan untuk maju."

Di atas segalanya, Obama ingin Israel dan Palestina untuk memulai kembali negosiasi langsung. Hari ini adalah pertama kalinya kedua pemimpin duduk berhadap-hadapan dalam hampir satu tahun.

Terdengar kesal, Obama mengatakan "Perundingan status permanen harus dimulai dan mulai segera."

Obama mengatakan kepada mereka: "Kita semua harus mengambil risiko untuk perdamaian."

Para pemimpin Timur Tengah lainnya telah mendengar kata-kata serupa dari presiden AS lainnya.

Namun Utusan Khusus Timur Tengah, George Mitchell, yang membantu menegosiasikan Perjanjian Jumat Agung yang menuju akhir kekerasan sektarian di Irlandia Utara, mengatakan kepada wartawan ia "sangat yakin" bahwa konflik yang dimulai oleh manusia, dapat dihentikan oleh manusia.

Pertemuan itu dilakukan saat hubungan AS - Israel memburuk ketika Netanyahu, yang berkuasa sejak Maret meragukan niat-niat Palestina, mengabaikan tuntutan Obama agar ia menghentikan pembangunan permukiman.

Pihak Palestina, yang mengatakan perluasan permukiman-permukiman di Tepi Barat dan di Jerusalem Timur akan menghambat mereka mewujudkan sebuah negara, menginginkan dihentikan sepenuhnya pembangunan sampai satu perdamaian akhir yang mungkin Israel dapat mempertahankan sejumlah permukiman dalam satu tukar menukar daerah.

Netanyahu menawarkan pembekuan pembangunan di Tepi Barat selama sembilan bulan, kata para pejabat Israel.

Butuh waktu hampir lima puluh tahun untuk mengakhiri konflik Irlandia Utara. Sedangkan Israel-Palestina telah melampaui 50 tahun itu. (iw/pv) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon