Mantan presiden AS yang datang berkunjung tersebut mengatakan kepada wartawan Israel, Nahum Barnea: "Janganlah pernah merasa bahwa Presiden Obama adalah musuh Anda."
Clinton juga merekomendasikan agar Netanyahu dan Obama memperlihatkan tindakan diplomatis di hadapan publik, agar tidak terlalu tenggelam dengan isu-isu di mata media. Hubungan Obama-Netanyahu yang tampak goyah sejauh ini tidak dipandang sebagai indikasi kerjasama di masa depan, kata Clinton.
"Tidak ada presiden AS yang bisa memerintah dengan baik namun tidak berkomitmen terhadap keamanan Israel," tambah Clinton.
Dia menambahkan bahwa bagaimanapun juga, AS harus tetap bebas dalam mengekspresikan pendapatnya mengenai konflik berkepanjangan tersebut tanpa memaksa Israel untuk menerima setiap tuntutannya.
"Selama kalian percaya bahwa AS berada bersama kalian dalam tingkatan emosional tertentu, maka kita bisa membicarakan masalah apapun," kata Clinton. "Jika kalian tidak lagi meyakini hal tersebut, maka posisi apapun yang kita ambil akan percuma."
Clinton mengaku bahwa dirinya tidak akan terkejut jika pemerintahan Netanyahu membuat sebuah kesepakatan atau proposal yang melampaui perkiraan orang-orang.
Mengenai kesediaan Israel untuk menunda pembangunan pemukiman Yahudi ilegal, ia menegaskan kembali apa yang diucapkan oleh Istrinya, Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, yang bulan lalu mengatakan bahwa tindakan Israel tersebut benar-benar "tidak dapat diduga".
"Ini merupakan saat pertama kali dimana pemerintah Israel mengatakan bahwa mereka tidak akan memberikan ijin baru dan tidak mendirikan pemukiman Yahudi, dan hal itu seharusnya cukup untuk membuka pintu dan memulai dialog," kata Clinton.
Clinton juga mendesak Israel untuk menyadari pentingnya upaya Obama agar diterima di kalangan Muslim.
Mantan presiden AS tersebut juga menyinggung mengenai masalah Iran. Clinton mengatakan bahwa program nuklir Iran bukanlah isu utama yang dihadapi oleh Barat. Namun, dampak dari program nuklir tersebut yang – menurut Clinton – dapat memicu negara-negara lain untuk mencoba mendapatkan kemampuan nuklir.
Sebelumnya, pada hari Sabtu, Bill Clinton mengatakan bahwa dirinya meyakini akan tercipta perdamaian menyeluruh di Timur Tengah sejak sepuluh tahun silam jika saja mendiang perdana menteri Israel, Yitzhak Rabin, tidak dibunuh oleh seorang ekstrimis Yahudi.
"Dalam 14 tahun terakhir, tidak ada seharipun dimana saya tidak memikirkan dan merindukan Yitzhak," kata Clinton menjelang pembukaan museum dan pusat di Tel Aviv yang didedikasikan untuk Rabin.
"Juga tidak seharipun berlalu dimana saya memikirkan bahwa kesepakatan damai secara menyeluruh di Timur Tengah akan tercipta dalam kurun waktu tiga tahun, jika saja ia tidak kehilangan nyawa pada sebuah malam kelam di bulan November," tambahnya.
Rabin ditembak mati di Tel Aviv pada tanggal 4 November 1995 oleh seorang ekstrimis Yahudi yang menentang kesepakatan damai dengan Palestina.
Clinton mendesak Israel dan Palestina untuk mengesampingkan kesalahan-kesalahan masa lalu demi masa depan yang baik, ia menyerukan kepada mereka untuk mempelajari "kebijaksanaan" semasa hidup Rabin.
Rabin mendapatkan Nobel Perdamaian bersama dengan Yasser Arafat dan Presiden Israel saat ini, Shimon Peres.
Pada tahun 2008, sebuah media elektronik Israel melakukan wawancara televisi dengan Yigal Amir, ekstrimis Yahudi yang membunuh Rabin.
Kepada Channel 10, Amir mengatakan bahwa tindakannya dipengaruhi oleh retorika politisi dan perwira sayap-kanan, termasuk mantan perdana menteri Ariel Sharon dan mantan kepala staf Rafael Eltan, yang menurutnya telah memperjelas bahwa kesepakatan Oslo pada tahun 1993 hanya akan menimbulkan bencana. (dn/hz/mo) www.suaramedia.com
Click Video














