Berbicara dalam sebuah kunjungan resmi ke Brazil, yang merupakan kunjungan pertama dari seorang presiden Israel dalam kurun waktu 43 tahun, Peres mengatakan kepada surat kabar Spanyol, La Vanguardia, bahwa Presiden Iran perlu bersikap lebih konstruktif.
Perjalanan Peres ke Amerika Selatan bertujuan untuk memudarkan pengaruh Iran di kawasan tersebut. Peres juga bermaksud untuk mendahului kunjungan Ahmadinejad ke Brasilia pada tanggal 23 November mendatang.
"Tentu saja kami membahas banyak hal mengenai Iran (dalam kunjungan ke Brazil)," kata Peres. "(Namun) menurut saya, presiden mereka (Iran) tidak memiliki masa depan."
"Tidaklah cukup untuk mengeluarkan ratusan juta dollar di kawasan ini dan di seluruh dunia untuk membeli pengaruh, tempat dan orang-orang," kata Peres.
"Dia (Ahmadinejad) harus menyampaikan pesan positif untuk rakyatnya sendiri dan juga kepada dunia. Ia adalah seorang presiden yang menyerukan kehancuran negara lain, ia juga menyangkal adanya Holocaust, meski ada ribuan orang (korban selamat) di Israel yang memiliki tanda nomor Nazi di lengan mereka."
"Iran menghancurkan Libanon dengan mendukung Hizbullah dan memecah belah negara tersebut. Iran memberikan persenjataan kepada Hamas di Gaza dan berusaha menghancurkan pemerintahan Presiden Mahmoud Abbas," kata Peres kepada surat kabar tersebut.
Presiden Israel tersebut bertolak ke Argentina setelah meninggalkan Brazil, ia melanjutkan lawatan Amerika Selatannya.
Ahmadinejad, yang pernah menyatakan agar Israel dihapuskan dari peta dunia, diperkirakan akan mempergunakan dialog dengan Brazil untuk mengembangkan hubungan dagang antara kedua negara.
Shimon Peres tiba di Argentina, negara yang menjadi rumah bagi komunitas Yahudi terbesar di Amerika Latin, pada hari Minggu untuk melakukan kunjungan selama dua hari dan bertemu dengan Presiden Christina Kirchner, tepat sebelum kunjungan pemimpin Palestina, Mahmoud Abbas, yang telah diagendakan sebelumnya.
Sesampainya di Argentina, Peres disambut oleh Menteri Luar Negeri Jorge Taiana. Dia dijadwalkan untuk bertemu dengan Kirchner pada hari Senin.
Peraih Nobel Perdamaian tahun 1994 tersebut merupakan presiden Israel pertama yang berkunjung ke Argentina dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.
Ditengah tersendatnya proses negosiasi perdamaian di Timur Tengah, kunjungan Peres dilakukan berselang beberapa hari sebelum kunjungan Mahmoud Abbas, dan berbarengan dengan pengumuman rencana Palestina untuk meminta dukungan PBB atas kemerdekaan mereka.
Israel memperingatkan Palestina agar tidak mengambil tindakan sepihak, negara Zionis tersebut juga mengatakan bahwa hal tersebut merupakan langkah mundur dalam proses negosiasi panjang yang berlangsung selama berpuluh-puluh tahun.
Kirchner mendorong adanya negosiasi baru antara Israel dan Palestina, ia juga mengecam "kebijakan" pemukiman Yahudi Israel yang dibangun di tanah jajahan.
Dalam kunjungannya ke Argentina, Peres sedianya akan mengunjungi monumen yang didirikan pada tahun 1992 untuk mengenang peledakan kedutaan Israel, demikian halnya dengan pembangunan kembali pusat budaya Yahudi yang diledakkan pada tahun 1994.
Kedua peristiwa tersebut menewaskan 107 orang dan proses penyelidikan selama bertahun-tahun masih belum terselesaikan. Argentina menyalahkan Iran atas peledakan tersebut, Argentina juga meminta Iran untuk mengekstradisi sejumlah pejabat untuk ditanyai, namun upaya tersebut tidak ditanggapi oleh Iran.
Delegasi Asosiasi Yahudi Argentina mengatakan, salah satu alasan Peres untuk mengunjungi Argentina adalah untuk menghentikan penyebaran pengaruh Iran di kawasan Amerika Selatan.
Presiden Israel tersebut juga diagendakan untuk berpidato di hadapan ratusan orang Yahudi di stadion Buenos Aires sebelum meninggalkan Argentina. (dn/af) www.suaramedia.com














