Ali-Reza Asgari, yang pernah menjabat sebagai komandan Pengawal Revolusi Iran, hilang di Turki pada tahun 2006.
Para pejabat Iran dan keluarga Asgari menyatakan bahwa ia diculik. Pada hari Minggu, situs Alef Iran melaporkan bahwa Jerman, Inggris dan badan-badan intelijen Israel bertanggung jawab atas hilangnya Asgari.
"Atas dasar dua tahun investigasi yang dilakukan oleh badan-badan yang bersangkutan, Asgari diculik oleh intelijen asing dan ditahan di penjara Zionis," situs tersebut melaporkan, rupanya mengacu pada penyelidikan intelijen Iran ke dalam masalah tersebut.
Laporan mengklaim bahwa Asgari diculik dalam usaha untuk mendapatkan informasi tentang program nuklir Iran dan tentang hilangnya navigator Angkatan Udara Israel, Ron Arad.
Laporan ini menambahkan bahwa setelah diinterogasi, Asgari diam-diam dipindahkan ke sebuah fasilitas penjara di Israel, di mana ia saat ini saat ini ditahan.
Hans Ruehle, mantan kepala staf perencanaan Kementrian Pertahanan Jerman, menulis dalam surat kabar Swiss di bulan Maret bahwa Asgari kepada Barat bahwa Iran melakukan pembiayaan pada langkah-langkah Korea Utara untuk mengubah Suriah menjadi negara berkekuatan senjata nuklir, yang menyebabkan Israel melakukan serangan udara yang menargetkan situs di Syiriah pada 6 September 2007.
Pernyataan-pernyataan AS mengatakan bahwa situs tersebut adalah reaktor nuklir yang hampir selesai, namun Syiriah menyangkal hal itu dan mengatakan fasilitas instalasi militer yang tidak digunakan.
Ruehle berkata Asgari, yang berperan penting dalam membangun kelompok Hizbullah di Libanon, berubah haluan dan memberikan informasi ke Barat mengenai program nuklir Iran.
Para pejabat Iran mengatakan Asgari tidak terkait dengan program nuklir Iran, namun laporan-laporan media Barat mengatakan dia telah bekerja sama dengan intelijen AS dan dianggap sebagai pembelot bernilai tinggi.
Asgari, yang menjadi terlibat dalam bisnis zaitun setelah pensiun, tiba di Turki pada kunjungan pribadi dari Damaskus, Syiriah, pada 7 Desember 2006, dan menghilang pada 9 Desember, menurut para pejabat Iran.
Ziba Ahmadi, salah satu dari dua istri Asgari, mengklaim pada waktu itu bahwa suaminya tidak sampai ke Turki dan ia percaya beberapa bukti menunjukkan dia diculik.
Kementerian Luar Negeri menolak mengomentari laporan itu.
Selain itu, sebelumnya dilaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran menuding pihak asing, dalam hal ini AS, terlibat dalam kasus menghilangnya Shahram Amiri, yang dilaporkan bekerja di sebuah universitas yang memiliki hubungan dengan korps militer elit Iran, Garda Revolusi.
Dalam sebuah hal yang menandakan betapa sensitifnya masalah Amiri, para pejabat Iran tidak mengungkapkan kepada publik bahwa Amiri merupakan seorang ilmuwan nuklir, Amiri hanya dinyatakan sebagai warga negara Iran. Istri Amiri mengatakan bahwa suaminya tengah meneliti penggunaan medis dari teknologi nuklir di sebuah universitas dan sama sekali tidak terlibat dalam program nuklir yang lebih luas.
Amiri menghilang selama beberapa bulan sebelum terungkapnya sebuah fasilitas pengayaan uranium di dekat kota Qom pada bulan September silam, dimana AS dan para sekutunya menuding Iran telah membangun situs tersebut dengan diam-diam. Pemilihan waktu tersebut memantik pertanyaan mengenai kemungkinan Amiri telah memberikan informasi kepada Barat tentang program nuklir Iran.
Iran telah meminta keterangan dari Arab Saudi mengenai keberadaan Amiri, namun Iran tidak mendapatkan balasan. Kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Hasan Qashqavi, pada awal minggu ini. Para kerabat Amiri menggelar demonstrasi beberapa kali di luar Kedutaan Saudi di Teheran guna mendapatkan informasi.(iw/hrz) www.suaramedia.com















